Jumat, 20 Juli 2012

Motivasi Tambahan dari Taman Makam Pahlawan





Posisi matahari hampir tepat berada di atas kepala ketika para atlet bulu tangkis menginjakkan kaki di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata pada Kamis (20/7). Meski demikian, hal itu sama sekali tak menyurutkan langkah tegap mereka masuk menuju gerbang. Prosesi ziarah pun dengan khidmat mereka jalani meski panasnya matahari terus menyinari.

Empat hari jelang keberangkatan tim Olimpiade Indonesia ke London, PBSI memutuskan melakukan proses pelepasan di area TMP Kalibata. Acara ini sendiri terdiri dari peletakkan karangan bunga di Monumen, berdoa, hingga acara tabur bunga ke sejumlah makam pahlawan.

Acara yang berlangsung sekitar satu jam ini berjalan penuh khidmat. Pemain terlihat antusias mengikuti acara demi acara karena mereka sadar benar betapa besarnya jasa pahlawan terhadap keberadaan dan eksistensi negara bernama Indonesia.

“Jelas saya bangga bisa mengikuti prosesi seperti ini, apalagi sampai ikut menabur bunga di makam pahlawan yang dulu hanya saya kenal lewat buku pelajaran saja seperti contohnya Ahmad Yani,” tutur Greysia Polii seusai acara tabur bunga di jajaran makam para pahlawan revolusi. “Kunjungan ke sini jelas membuat saya semakin terpacu dan termotivasi di Olimpiade nanti,” kata Simon Santoso menegaskan.

Memang, acara yang dihelat PBSI di Kalibata kemarin mempertemukan dua sosok pahlawan. Jika para pahlawan yang telah bersemayam di TMP Kalibata adalah mereka-mereka yang telah berjuang demi merebut dan mempertahankan kedaulatan negeri ini, maka sang pengunjung, para atlet, adalah pahlawan di era modern dimana arena pertandingan didaulat menjadi versi baru dari medan perang.

“Tentunya kami ingin memberikan yang terbaik di Olimpiade nanti. Kami ingin bisa meraih medali emas dan mohon doa restu dari semua masyarakat Indonesia agar kami bisa meraih medali emas,” tutur Tontowi Ahmad yang akan jadi andalan di nomor ganda campuran bersama Liliyana Natsir.

Keberhasilan atlet di ajang Olimpiade jelas menjadi sebuah kemenangan suatu bangsa. Dan bagi Indonesia, pasukan bulu tangkis tetap menjadi tumpuan utama di ‘peperangan’ Olimpiade pekan depan. Persiapan sudah dilakukan dan kini tinggal menunggu hari pertempuran datang. Selamat berjuang para pahlawan!

 PUTRA PERMATA TEGAR IDAMAN

Minggu, 24 Juni 2012

Turun Tahta Demi Jadi Raja Seutuhnya




LeBron James. Sebuah nama fenomenal yang sudah selalu diperbincangkan sejak kedatangannya di NBA. Tidak perlu banyak bicara, James memang langsung menjadi sorotan ketika terpilih sebagai draft pertama yang diambil oleh Cleveland Cavaliers di tahun 2003 lalu. Prestasinya di tingkat sekolah dan universitas menjadi jaminan mutu bahwa James akan mudah menjadi bintang di NBA.

Benar saja, kepiawaian James sebagai seorang pebasket telah membuat sebuah perubahan besar di Cleveland Cavaliers. Tim yang dulunya merupakan tim semenjana perlahan tapi pasti menjadi tim besar, hebat, dan disegani. Julukan ‘King’ pun kemudian melekat pada James sebagai pertanda kehebatannya.
Bersama James, Cavaliers mampu menapak final NBA pada tahun 2007 sebelum akhirnya mereka dilumat oleh San Antonio Spurs 0-4. Keberhasilan masuk final untuk pertama kali ini diyakin akan disusul kesuksesan Cavaliers dan James memenangkan titel NBA pada tahun-tahun berikutnya.

Namun hingga musim 2010 berakhir, Cavaliers tak mampu juga menjadi juara, bahkan untuk menjejakkan kaki kembali ke final NBA pun tak sanggup. James, sang Raja pun membuat sebuah keputusan yang fenomenal. Dia turun dari tahta sebagai Raja di Cavaliers untuk memutuskan hijrah ke Miami Heat. Di Heat sendiri sudah ada Dwyane Wade yang merupakan ikon tersebut dan juga disaat bersamaan datang Chris Bosh. Ketiga pria ini bertekad bahu-membahu meraih titel juara NBA bersama-sama.

Lengsernya James dari tahta di Cavaliers menimbulkan banyak cemooh dari tiap orang. James dianggap tak bermental baja dan memilih jalur singkat. Dia dianggap tak sepadan dengan Michael Jordan yang tetap sabar bermain di Chicago Bulls sampai tiba masanya Bulls memasuki era juara. Namun James jelas memiliki kendali terhadap hidupnya sendiri. Ia ingin segera mengakhiri julukan ‘King of No Ring’ atau ‘King Without Ring’ yang selama ini menghinggapi dirinya. Apalah artinya julukan raja jika tanpa pernah memenangi mahkota juara? Dan bergabung dengan Heat adalah cara terbaik untuk meningkatkan presentase keberhasilan itu.

Masuk ke tim Heat, James pun harus membagi porsinya dengan Wade dan Bosh. Di satu sisi, James tak diperlakukan seistimewa di Cavaliers namun sisi positifnya, ketika tim tengah kesulitan, James tak harus menanggung beban itu sendirian. 

Saat Heat gagal di final NBA tahun lalu adalah contoh yang pas mengenai keputusan James untuk pindah. Andai James dan Cavaliers yang lolos ke final tahun lalu dan kembali gagal, maka James akan menjadi sasaran tembak sendirian. Bersama Heat, maka sosok The Big Three, dirinya bersama Wade dan Bosh lah yang dipersalahkan.

Walaupun tak sedominan di Cavaliers, sejatinya James tetap pemegang kendali utama permainan di Heat. Usia Wade yang dua tahun lebih tua darinya plus Bosh yang memang tak bisa jadi pemeran utama mendorong James untuk kembali menjadi pemeran utama di Heat. Julukan King pun tak sepenuhnya luntur karena James masih memegang kendali permainan. Saat Heat terdesak, James pun yang didaulat sebagai penanggung beban. Perbedaan utama terletak dari segi bantuan. Hadirnya Wade dan Bosh memberikan ketenangan yang lebih dalam diri James, sebuah hal yang tidak didapatkan James di Cavaliers sebelumnya
.
Kini James telah jadi raja seutuhnya. Raja dengan mahkota. Raja dengan cincin juara NBA melingkar di jarinya. Bahkan bukan tak mungkin, bukan kali ini saja James bersama Heat berjaya, bisa jadi mereka terus berkuasa di tahun-tahun berikutnya. Sukses James adalah sukses sebuah keputusan. James memutuskan bahwa dia tak bisa menjadi juara jika terus berjuang sendirian seperti di Cavaliers. Dia butuh teman-teman yang lebih kuat dan itulah yang dia dapat di Heat. Bola basket adalah olahraga tim dan juara milik tim terbaik dan belum tentu milik pemain terbaik. Namun untuk tahun ini, James mendapatkan keduanya, karena  MVP Reguler dan MVP Final, plus titel perdana NBA semua ada dalam genggamannya.

-Putra Permata Tegar Idaman-

Senin, 18 Juni 2012

Belajar dari Stephanie



Tanggal 28 Juni di Nottingham nanti adalah sebuah hari bersejarah bagi seorang Stephanie Handojo. Tidak, bukan hanya bagi dirinya. Melainkan juga bagi keluarganya, rekan-rekannya, dan bahkan bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Dalam momen tersebut nanti, Stephanie akan berlari membawa obor sejauh 300 meter. Ya, 300 meter yang begitu emosional. Sebuah pertanda keberhasilan dan pengakuan sebuah kemampuan. Sebuah bukti bahwa tekad kuat selalu meniupkan peluang keberhasilan di masa depan.

Sosok Stephanie, putri berusia 21 tahun ini memang baru saja memberikan sebuah contoh yang fenomenal. Ditengah keterbatasannya lantaran dilahirkan dengan kondisi down syndrome, toh Stephanie akhirnya saat ini berdiri sebagai satu-satunya wakil Indonesia yang dipilih penyelenggara dalam barisan pembawa obor Olimpiade.  Stephanie dianggap lolos kriteria anak muda inspiratif dan untuk lolos seleksi ini, dia menyisihkan 12 juta anak di dunia dan bergabung dengan 19 pemuda lainnya yang masuk dalam kategori ini.

Siapakah Stephanie? Stephanie adalah contoh nyata bahwa olahraga bisa dijadikan batu loncatan untuk dikenal oleh banyak orang. Bahwa olahraga adalah ajang yang pas untuk menumbuhkan rasa percaya diri sehingga akhirnya nanti berubah menjadi sebuah keyakinan untuk berprestasi. 

Ukiran prestasi internasional milik Stephanie yang paling fenomenal adalah medali emas Special Olympics di Athena tahun lalu untuk cabang olahraga renang nomor gaya dada 50 m. Prestasi ini jugalah yang kemudian menjadi salah satu alasan penyelenggara memasukkan nama Stephanie dalam list pemuda yang layak lolos kategori memberi inspirasi. Namun untuk mencapai itu semua, jelas butuh pengorbanan dan perjuangan selama bertahun-tahun sebelumnya.

Terima kasih kepada kedua orang tua Stephanie, Santoso Handojo dan Maria Yustina Tjandrasari yang memberikan dorongan luar biasa kepada Stephanie. Mereka adalah saksi hidup bahwa untuk mencapai sukses besar di masa depan, maka harus dimulai dari langkah-langkah kecil sejak sekarang.

Tekad itulah yang selalu mereka tanamkan saat dianugerahi Stephanie kecil dengan kondisi mengalami down syndrome. Kedua orang tua Stephanie tidak memberikan perlakuan istimewa yang berlebihan. Justru sebaliknya, mereka memberikan peluang dan kesempatan yang sama bagi Stephanie untuk melakukan sebuah kegiatan.

Atas dasar itu, Stephanie pun mulai diajarkan renang sejak usia tiga tahun dan kemudian menginjak fase yang lebih serius dan intensif pada usia delapan tahun. Sekolah yang dipilih orang tua Stephanie pun sekolah biasa bukan Sekolah Luar Biasa (SLB) karena Stephanie diyakini bisa mengikuti pelajaran bersama anak-anak lainnya. Meski demikian, orang tua Stephanie tetap realistis bahwa sang anak tetap akan kesulitan menonjol di bidang akademis, dan oleh karena itulah olahraga dipilih orang tua Stephanie sebagai bidang dimana sang anak punya kemungkinan bersinar lebih besar.

Tentunya apa yang diangankan tak mudah untuk diwujudkan. Stephanie sempat mogok berlatih renang selama tiga tahun lantaran sempat tenggelam dalam sebuah perlombaan. Di sekolah biasa pun, terkadang ejekan menghampiri Stephanie yang memiliki kondisi berbeda dari rekan-rekan sebayanya.

Namun dengan tekad kuat dan kepercayaan bahwa keberhasilan akan datang bagi orang-orang yang tak pernah menyerah dan berhenti berusaha, orang tua Stephanie pun terus melakukan pendekatan intensif, baik kepada Stephanie maupun kepada pihak-pihak yang sempat mengucilkan Stephanie. Hasilnya positif, Stephanie kembali mau berenang dan semakin percaya diri bergaul di lingkungan.

Kombinasi olahraga dan bergaul di lingkungan normal inilah yang kemudian menjadi nilai tambah Stephanie sebagai seorang atlet. Prestasi demi prestasi dia raih hingga akhirnya nama Indonesia pun diharumkannya di ajang Special Olympics 2011 di Athena. Prestasi yang kemudian mengantarnya menjadi pembawa obor di Olimpiade London 2012 ini.

“Sukses Stephanie adalah sukses semua pihak yang terus mempercayainya. Sukses ini juga merupakan bukti bahwa anak down syndrome pun bisa berprestasi dengan dukungan penuh orang-orang terdekat,” ujar sang Bunda dengan mata berkaca-kaca. Sebuah pembelajaran yang menarik dari Stephanie dan orang-orang terdekatnya. Bahwa sukses di masa depan, tetap butuh langkah kecil yang terencana dengan baik sejak awal. Terima kasih Stephanie atas pembelajarannya!

-Putra Permata Tegar Idaman-

Selasa, 05 Juni 2012

Misteri di Balik Gedung PBSI

BIASANYA, tempat yang terbilang misteri adalah tempat yang jauh dari keramaian, yang berteman sepi dan kesunyian. Gedung PBSI yang berada di Cipayung dan jauh dari keramaian Jakarta, memang memenuhi syarat tempat misteri jika ditinjau dari segi tempat dan lokasi. Namun, yang akan dibahas kali ini bukan misteri soal bangunan fisik gedung PBSI, melainkan misteri di balik banyaknya kontroversi yang muncul dari para pengurus yang mendiami tempat tersebut.
Sejak Djoko Santoso terpilih sebagai Ketua Umum PBSI untuk periode 2008-2012, sudah banyak keputusan kontroversial yang dicuatkan oleh PBSI terkait pengelolaan atau manajerial yang terkait erat dengan pembinaan dan prestasi pebulu tangkis. Manajemen yang kurang berjalan baik akhirnya memunculkan kerugian-kerugian dan berdampak negatif pada perkembangan bulu tangkis Indonesia.
Sejak tahun pertama aktif (2009), manajemen PBSI di bawah Djoko memang sudah mulai menebar benih-benih pertanyaan. Perihal pencoretan Mulyo Handoyo dari Cipayung yang berdampak mundurnya Taufik Hidayat dari pelatnas, menjadi awal dari benang kusut yang dibuat oleh PBSI. Setelah Taufik pergi, Vita Marissa pun ikut pergi.
Untuk kasus Vita, PBSI tak bisa melihat dengan jelas bagaimana pengorbanan Vita yang baru bertukar pasangan dari Flandy Limpele ke Muhammad Rijal saat menetapkan nilai kontrak. Lantaran masalah angka kontrak ini pulalah, Vita memilih pergi.
Rangkaian kepergian pemain pun terus berlanjut. Markis Kido yang kecewa karena PBSI tak mampu berkomunikasi dengan aktif perihal kesehatannya, pun memutuskan pergi dari Cipayung. Kepergian Kido diikuti Hendra Setiawan. Lantaran berada di luar, duet andalan Indonesia ini pun kurang mendapat pantauan berarti dan akhirnya mengalami penurunan prestasi.
Kemudian dari waktu ke waktu, pengelolaan PBSI era Djoko pun makin menunjukkan banyak kejadian yang mencengangkan. Kabid Binpres PBSI Lius Pongoh memilih mengundurkan diri di pengujung tahun 2010. Kekosongan Kabid Binpres ini ternyata berefek pada munculnya sosok Li Mao ke pelatnas Cipayung. Kedatangan Li Mao jelas sangatlah bersejarah karena ini kali pertama Indonesia memakai pelatih asing.
Cara kedatangan Li Mao yang tidak jelas, disebut-sebut lewat sumbangsih sponsor atau seseorang, kemudian sejalan dengan kontribusinya yang memang tak pernah nyata. Sosok Li Mao justru menyulut hengkangnya dua pelatih dari Cipayung, Marleve Mainaky dan Sarwendah Kusumawardhani. Dua mantan pebulu tangkis ini pergi karena tak ada mekanisme yang jelas yang mengatur peran mereka berdua setelah kedatangan Li Mao.
Kedatangan Li Mao sendiri sontak bisa dibilang membuat cemburu para pelatih lainnya. Pasalnya, Li Mao dengan mudahnya disodori kontrak dua tahun plus dibangunkan sebuah kediaman di dalam area Cipayung. Sementara itu, untuk pelatih lokal sendiri, aspirasi mereka yang meminta adanya kontrak durasi panjang tidak juga dikabulkan. PBSI berkilah tak ada dana yang keluar dari kantong mereka untuk program Li Mao, namun tetap saja PBSI tak bisa berlaku adil dalam hal perlakuan terhadap pelatih.
Tidak sampai di situ, sosok Li Mao pun membuat Kabid Binpres PBSI yang menggantikan Lius Pongoh, Hadi Nasri, tak mampu berbuat banyak sesuai strata jabatannya. Hadi yang masuk PBSI beberapa bulan setelah Li Mao masuk di pertengahan 2011, menyebut dirinya tak mampu berbuat banyak untuk nomor tunggal karena dirinya masuk setelah program Li Mao dibuat.
Alhasil, dalam satu tahun belakangan, nomor tunggal menjelma menjadi nomor yang sulit dijangkau. Mereka seperti berjalan sendiri di bawah kendali Li Mao tanpa pengawasan struktural dari Kabid Binpres. Jika nanti akhirnya Hadi benar-benar meninggalkan kursi Kabid Binpres seperti yang diisukan, tentu salah satu sebabnya adalah karena manajemen PBSI yang tak bisa membagi job desk dengan jelas.
Hampir empat tahun berjalan, kontroversi selalu menjadi “prestasi” yang menonjol dibandingkan jumlah trofi di kepengurusan  PBSI saat ini. Menarik untuk dinantikan, masihkah ada kontroversi lain yang menyusul dilakukan oleh  PBSI di saat masa kepengurusan mereka kini hanya menghitung bulan saja?

-Putra Permata Tegar Idaman-

Selasa, 29 Mei 2012

Komplikasi di Balik Kegagalan Indonesia Saat Ini




Ya! Bulu tangkis Indonesia gagal dan itulah yang kemudian menjadi perhatian banyak orang.  Mengapa tim Thomas dan Uber Indonesia hanya bisa bertahan hingga perempat final terus menjadi pertanyaan. Yang paling disorot tentu performa Tim Thomas yang benar-benar buat semua orang cemas. Berhenti untuk pertama kalinya di babak perempat final, apalagi di tangan Jepang, jelas membuat semua orang terheran-heran.

Inilah gambaran utama di negeri ini. Bulu tangkis Indonesia memang terlalu hebat di masa lalu, sehingga semua kejayaan menjadi sebuah kebiasaan. Ketika Indonesia mulai terpuruk ke jurang hampa prestasi, barulah semua orang ramai-ramai bertanya apa yang terjadi saat ini?

Banyak masalah yang bisa ditunjuk sebagai sebab kegagalan Indonesia sehingga bisa sampai seperti ini. Semua pihak yang terkait bertanggung jawab untuk menyelesaikan urusan dan kewenangan mereka masing-masing.

Yang pertama, PBSI butuh sadar diri bahwa banyak luka dalam tubuh mereka. Contoh sederhananya saja, mereka tak mampu menjaga kekompakan tim Thomas dengan membiarkan Markis Kido pergi ke Papua untuk eksebisi seminggu jelang pertandingan. Sementara untuk tim Uber, polemik soal siapa yang berangkat ke Olimpiade London 2012 antara Maria Febe atau Adriyanti Firdasari jelas sedikit merusak konsentrasi mereka berdua di ajang ini.

Hal itu sendiri hanya sebagian kecil dari kontroversi yang ada di PBSI. Soal pemilihan pemain dan pencoretan pemain, peran pelatih asing, dan ketiadaan kontrak pelatih lokal belum dibahas detil di sini.
Yang kedua, Pemerintah harus membantu PBSI berbenah diri dari segi fasilitas penunjang. Tak bisa lagi omongan bahwa di jaman dulu, dengan semangat nasionalisme di tangan semua bisa berjalan dan kemenangan diraih di tangan. Di jaman maju seperti sekarang, pengaplikasian teknologi yang berkembang jelas menjadi suatu keharusan.

Berkunjung ke Cipayung, jelas sentra pembinaan pebulu tangkis Indonesia itu sudah mulai terlihat kelelahan mengejar jaman. Tak ada jogging track, alat fitness yang kurang menjadi sebuah pemandangan memprihatinkan. Belum lagi soal penanganan cedera yang tentunya tidak semaju di negara-negara saingan. 

Selama ini, untuk pemberangkatan atlet, PBSI menggunakan dana dari sponsor. Pemerintah hanya turun tangan ketika pertandingan tersebut dekat dengan ajang multi event seperti  Olimpiade, Asian Games, dan SEA Games. Itu pun hanya untuk beberapa pertandingan sementara pemain harus rutin mengikuti pertandingan selama satu tahun penuh.  Dengan kondisi demikian, maka saat terpuruk inilah Pemerintah mengambil peran. Jika tak bisa rutin menggelontorkan dana pengiriman, maka buatlah fasilitas bantuan yang diperlukan di pelatnas Cipayung. Dananya akan lebih besar namun keuntungannya jelas bisa dipetik dalam jangka panjang.

Yang ketiga, untuk para pemain, kembali harus disadarkan bahwa menjadi atlet bukan hanya sekedar bahwa mereka adalah harapan rakyat untuk mengharumkan nama bangsa. Lebih dari itu semua, atlet adalah profesi dan mereka harus bisa bertanggung jawab pada diri sendiri. Secara materi dan ekonomi, generasi saat ini mendapatkan hal yang lebih baik dibandingkan para senior mereka dulu kala. Jadikanlah hal itu untuk semakin termotivasi untuk berprestasi, jangan malah hal tersebut membuat mereka lebih mudah berpuas diri. Jika semua sudah berjalan signifikan, maka keberhasilan kemungkinan besar akan kembali menjadi sebuah kebiasaan.


Rabu, 09 Mei 2012

Jalan Panjang Daud Menuju Kemenangan




Daud Yordan tampak begitu bersemangat menghujamkan pukulan-pukulannya tanpa sasaran di depannya. Badannya bergerak kesana kemari seolah ada lawan yang sedang dihadapinya. Tak berapa jauh darinya, Damianus Yordan, kakak sekaligus pelatih Daud memberikan instruksi demi instruksi. Suasana sasana tinju di Pintu VI Senayan itu sangatlah lengang sehingga suara pukulan dna instruksi pun menggema di seluruh ruangan.

Itulah gambaran saat Daud melakukan shadow boxing dalam persiapan menghadapi Celestino Caballero dua tahun lalu. Begitu sepi dan tak banyak mendapat perhatian publik. Daud, yang ketika itu belum terkalahkan, kemudian menyimpan ambisi untuk bisa mengalahkan Caballero di BankAtlantic Center, Florida, 10 April 2010. Pasalnya, kemenangan akan mendekatkan Daud pada sebuah pertarungan perebutan gelar juara dunia, demikian janji Golden Boy Promotion, promotor yang menaungi Daud ketika itu.

Harapan tersebut berakhir kekecewaan. Daud gagal mengaplikasikan persiapan maksimal selama berbulan-bulan di atas ring. Proses adaptasi kondisi cuaca di Amerika Serikat yang hanya beberapa hari menjadi alasan Daud tak maksimal. Meski kalah untuk pertama kalinya, Daud tak larut dalam kekecewaan.
“Juara sejati bukan hanya milik mereka yang tak pernah kalah, melainkan juga bagi mereka yang bisa bangkit dari kekalahan.” Begitulah ucap Daud merespon kekalahannya waktu itu. Selepas kalah dari Caballero, Daud kembali menunjukkan penampilan impresif dengan menang TKO ronde enam atas Christian Abila dan menang KO ronde pertama melawan Damian David Marciano.

Dua kemenangan itu ternyata mengantar Daud untuk menjejakkan kaki di perebutan gelar juara dunia perdana baginya. ‘Sayang,’ perebutan gelar juara dunia itu adalah duel antara Daud melawan Chris John, sang super champion kelas bulu WBA yang sudah lebih dulu jadi local hero di Indonesia. Meski mampu mengimbangi, Daud dinyatakan kalah angka mutlak melawan Chris John.

Kata-kata yang sama kembali diulangi oleh Daud usai kekalahan ini. “Juara sejati bukan hanya milik mereka yang tak pernah kalah, melainkan juga bagi mereka yang bisa bangkit dari kekalahan.” Ya, itu kata-kata yang kembali terlontar dari mulut petinju yang ketika itu masih berusia 23 tahun ini.
Daud melontarkan kata-kata tersebut bukan hanya sekedar mencari alasan, melainkan sebuah keyakinan karena banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sebuah kekalahan. Salah satu bukti positifnya adalah, setelah kekalahan melawan Chris John, Daud secara resmi bergabung di bawah manajemen Mahkota Promotions pimpinan Raja Sapta Oktohari.
Dengan manajemen yang lebih rapi dan ambisi Okto, panggilan Raja Sapta Oktohari untuk menciptakan juara dunia baru asal Indonesia, maka tekad kuat Daud seolah menemukan puzzle yang hilang. Daud menunjukkan kehebatannya dengan menang TKO atas Frankie Archuleta pada November 2011 lalu dan kemudian Okto menjawabnya dengan keberhasilan mendapatkan jalan bagi Daud menuju juara dunia lewat kepastian pertarungan memperebutkan gelar lowong IBO kelas bulu bagi Daud di kesempatan berikutnya.
Menghadapi Lorenzo Villanueva di atas ring, Daud juga menunjukkan tekad juara sejati yang digenggamnya. Terjungkal di ronde pertama, Daud merespon dengan kebangkitan di ronde kedua dengan memukul jatuh Villanueva dua kali dan menghasilkan kemenangan KO di ronde kedua.

Usai sabuk juara dunia melingkar di pinggangnya, bukan berarti ambisi Daud sudah menemukan ujung jalan. Dengan usia 24 tahun, masih banyak yang bisa digapai dan dijadikan tujuan oleh petinju asal Ketapang ini. Ingin menyamai atau bahkan melebihi nama besar Chris John bukan sebuah hal mustahil untuk dilakukan karena jalan Daud masihlah panjang.

Salah satu caranya mungkin dengan menjadi petinju Indonesia pertama yang mampu menyandang dua gelar juara dunia pada saat bersamaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, tentunya tekad kuat Daud, dukungan pelatih, dan juga manajemen promotor harus terus berjalan beriringan.


-Putra Permata Tegar Idaman-

Minggu, 06 Mei 2012

Layak Diapresiasi, namun Jalan Masih Panjang

NATIONAL Basketball League (NBL) Indonesia 2011-2012 telah berakhir. Gelaran kompetisi bola basket profesional di Indonesia ini ditutup dengan sebuah cara yang spektakuler. Final yang digelar di GOR UNY Yogyakarta, Minggu (29/4), kemarin benar-benar menyuguhkan sajian kelas wahid dan memanjakan mata para penonton yang datang maupun menyaksikan lewat layar kaca.

Bukan hanya lantaran duel klasik antara Satria Muda (SM) Britama versus s Dell Aspac Jakarta yang menjadi perhatian penggemar bola basket Indonesia, melainkan juga cara bagaimana partai final itu dibuka. Pengelola NBL Indonesia, Development Basketball League (DBL) di bawah komando Azrul Ananda benar-benar tahu bagaimana menaikkan derajat kompetisi ini. Delapan ribu tempat duduk yang terisi penuh di GOR UNY Yogyakarta, pun menjadi bukti bahwa NBL Indonesia mampu membawa penonton mencapai klimaks di gelaran tahun ini.

Tidak saja pada partai final, secara keseluruhan DBL telah memberikan sebuah peningkatan signifikan pada iklim bola basket Indonesia sejak resmi menjadi pengelola liga dua tahun lalu. Mengambil peran tersebut, DBL secara bersungguh-sungguh melakukan perbaikan demi perbaikan yang membuat NBL Indonesia makin menarik dilihat dan dinikmati.

NBL Indonesia kini bukan sekadar kompetisi bola basket biasa. NBL Indonesia berkembang lebih jauh sebagai sebuah pertunjukan yang menarik perhatian tiap penggemarnya dari kota ke kota. Pasalnya, DBL juga memasukkan kegiatan yang sifatnya sosial macam donor darah ataupun yang sifatnya hiburan macam lomba makan burger dan lain sebagainya.

Sukses penyelenggara menaikkan status NBL Indonesia dalam dua musim terakhir patut mendapat apresiasi tersendiri. Namun, jalan penyelenggara untuk mewujudkan NBL Indonesia sebagai kompetisi bola basket yang semakin ideal dan membanggakan masih panjang. Ada beberapa kekurangan yang patut menjadi perhatian penyelenggara.

Masalah utama yang masih sering dikeluhkan adalah soal wasit yang memimpin jalannya pertandingan. Banyak dari tim yang mengambinghitamkan wasit sebagai penyebab kekalahan yang mereka derita dari sang lawan. Wasit sering dianggap terlalu mudah memberikan foul atau di kesempatan lainnya terlalu longgar dalam meniupkan peluit. Intinya, wasit masih sering jadi sasaran protes tim yang bertanding.

DBL sebagai penyelenggara harus segera memberikan reaksi atas keluhan yang dilontarkan tim-tim peserta. Mereka bisa memperbaiki kualitas wasit dengan mengadakan pelatihan yang lebih intensif. Dengan demikian, kualitas wasit makin terasah dan presentase wasit yang jadi sasaran alasan tim yang kalah bisa diperkecil.

Yang kedua dan patut dinanti adalah bagaimana DBL sebagai penyelenggara NBL Indonesia melakukan gerakan untuk bisa meningkatkan kekuatan tim-tim di NBL,  terutama di tim papan bawah agar kualitas liga semakin merata.

Bisa dilihat, untuk musim kali ini tim papan atas macam SM Britama, Aspac, Pelita Jaya Esia Jakarta, Garuda Speedy Bandung, dan CLS Knights Surabaya masih dominan dalam pertandingan babak reguler. Sulit untuk melihat kejutan terjadi saat tim papan atas bertemu tim papan bawah.

Hal ini sendiri berefek domino terhadap antusiasme penonton. Di setiap seri, hanya laga big match yang banyak mendapat perhatian penonton. Laga antara tim papan atas melawan tim papan bawah jarang dilirik lantaran hasilnya bisa jadi sudah ketahuan sebelum pertandingan dimulai. Belum lagi fakta lainnya bahwa tim kuat biasanya menyimpan pemain andalan sehingga antusiasme penonton pun ikut berkurang karena tak bisa puas menyaksikan tim pujaan.

DBL sebagai penyelenggara sendiri sudah lebih dulu mengadakan liga bola basket antarpelajar SMA tingkat nasional dan mulai tahun depan juga akan menjadi pengelola Liga Bola Basket Mahasiswa Nasional. Itu artinya mereka sudah memegang dua mata air di mana  bakat-bakat bola basket Indonesia berasal. Bisa saja mereka menghubungkan keduanya dengan NBL Indonesia lewat sistem draft layaknya di NBA di mana tim lemah

memiliki kesempatan lebih dulu memilih pemain rookie yang sudah disusun peringkatnya. Atau mungkin, saat ini penyelenggara telah memiliki cara tersendiri yang bakal diaplikasikan dalam musim-musim mendatang yang lebih cocok dengan iklim bola basket Indonesia. Apa pun program yang mereka rencanakan, semoga bola basket Indonesia terus maju di masa mendatang.


Putra Permata Tegar Idaman