Minggu, 09 Maret 2014

Heroic of Paralympic

Olahraga itu menginspirasi. Banyak cerita perjuangan hebat yang ada di ranah olahraga yang akhirnya kemudian membangkitkan gairah seseorang dalam kehidupan nyata mereka bagai manusia. Karena itulah, ketika awal pekan ini mendengar keberhasilan Indonesia menjadi juara umum ASEAN Paragames 2014 yang berlangsung di Myanmar, saya pun langsung larut dalam perasaan sukacita yang mendalam.
Memang, untuk tahun ini saya tak memiliki kesempatan untuk melihat langsung sepak terjang para atlet difabel dalam upayanya mengharumkan Indonesia di kancah olahraga Asia Tenggara. Namun di penghujung tahun 2011 lalu, saya berkesempatan meliput aksi mereka di Solo, Jawa Tengah. Boleh dikatakan, liputan ASEAN Paragames 2011 itu adalah liputan paling berkesan selama saya menjalani  profesi ini.
Gambar
Dalam keseharian, terus terang saja masih banyak yang menganggap orang-orang difabel sebagai sosok yang lemah, tak berdaya, dan tak sanggup melakukan hal-hal yang hebat. Namun anggapan itu akan menemui benturan jika orang-orang tersebut melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana para atlet difabel ini berjuang dan berkompetisi di lapangan, berkeringat dan berpeluh untuk mencapai sebuah kemenangan.
Gambar
Mereka mampu berenang meski mungkin tangan mereka tak berbentuk seperti tangan manusia pada umumnya. Mereka mampu berlari meski tanpa melihat. Mereka mampu menembakkan busur panah dengan akurat meski kaki mereka tak solid. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya yang bisa dilihat dari olahraga paragames ini.
Menilik cerita di balik kehebatan para atlet, maka yang akan muncul adalah rasa kagum dan salut. Para atlet difabel ini boleh dibilang terbagi dari dua kategori, difabel sejak lahir ataupun difabel karena sebuah kecelakaan dan sebagainya.  Namun satu persamaannya, mereka telah melewati perjuangan yang luar biasa sampai akhirnya mampu tersenyum ataupun menangis haru di atas podium kemenangan. Nilai-nilai inilah yang menarik untuk dicermati dan diresapi oleh para penonton yang melihat aksi mereka.
Gambar
Para kaum difabel itu sedianya tak butuh dikasihani. Mereka tidak akan hidup jika di dalam lingkungan sekitar mereka, mereka dianggap sebagai orang yang tak berdaya. Mereka butuh kompetisi. Mereka butuh kesempatan yang sama untuk aktualisasi diri. Karena sejatinya seperti manusia lain yang ada di muka bumi, mereka butuh alasan dan tujuan untuk hidup. Dan mereka pun punya hak yang sama untuk mencoba mengharumkan nama bangsa di mata dunia.
Gambar
Karena itulah, dengan momentum keberhasilan Indonesia menjadi juara umum ASEAN Paragames 2014, memperbaiki catatan di ASEAN Paragames 2011 dimana Indonesia menjadi runner up, diharapkan perkembangan olahraga paralimpik di Indonesia bisa meningkat drastis. Selama ini (yang saya tahu), perkembangan olahraga paralimpik di Indonesia masih terpusat di Solo. Semoga nantinya perkembangan olahraga difabel bisa menyebar menyeluruh ke pelosok Indonesia, baik itu perihal pusat latihan maupun  kompetisi.
Gambar
Dengan demikian, maka makin banyak kesempatan untuk publik melihat kehebatan atlet-atlet difabel dalam berkompetisi. Akan makin banyak kesempatan untuk melihat bahwa kemenangan memang hadir bagi siapa saja yang berusaha.  Karena lewat olahraga, para atlet difabel ini bisa memotivasi Indonesia, bukan hanya untuk golongan difabel semata, melainkan juga untuk rakyat Indonesia secara keseluruhan. Bahwa hidup adalah perjuangan dan hambatan adalah tantangan.
Gambar
Gambar
-Putra Permata Tegar Idaman-

Menjadi Tua itu Pasti, Tetap Berprestasi itu Pilihan dan Kemauan

Menjadi tua itu pasti, tetap berprestasi itu pilihan dan kemauan. Hal itu yang ditunjukkan Vita Marissa saat dirinya didaulat menjadi atlet PB Djarum paling berprestasi di tahun ini. Tiga penghargaan didapat oleh dirinya baik itu kesuksesan ada di peringkat tujuh dunia (ganda campuran), peringkat sebelas dunia (ganda putri), dan atlet terbaik PB Djarum 2013 (ganda campuran). Semua itu didapat Vita di usia yang terbilang senja untuk ukuran atlet, 33 tahun.
Berbicara Vita, memori saya kemudian terlempar ke masa lima tahun lalu, tepat di awal tahun 2009. Pemandangannya masih tergambar jelas di pikiran ini. Ketika itu di sudut GOR Cipayung, Vita duduk di bangku panjang tanpa mengenakan seragam latihan. Sementara itu rekan-rekannya yang lain masih bersimbah peluh keringat menerima instruksi demi instruksi dari Richard Mainaky.
Beberapa menit kemudian, sesi latihan di nomor ganda campuran selesai. Richard kemudian duduk di samping Vita. Liliyana Natsir yang baru selesai latihan pun turut bergabung. Keduanya tampak dalam sebuah perbincangan serius. Gurat-gurat sedih terpancar dari wajah mereka bertiga. Sementara itu tak jauh dari tiga orang tersebut, duduk Muhammad Rijal yang hanya bisa terdiam menatap ke depan dengan pandangan kosong.
Teka-teki tentang topik pembicaraan hari itu akhirnya terungkap beberapa hari kemudian. Vita mengumumkan secara resmi pengunduran diri dari pelatnas Cipayung karena tak mencapai kata sepakat perihal nilai kontrak. Pengurus PBSI saat itu beranggapan nilai kontrak yang mereka ajukan sudah sesuai dengan standar yang ada yaitu peringkat BWF milik Rijal/Vita.
Malang memang nasib Vita saat itu. Peringkat Rijal/Vita yang dijadikan tolok ukur jelas tidak fair karena mereka baru beberapa bulan berpasangan. Bukan nilai nominal rupiah yang dituntut Vita semata, melainkan bagaimana cara PBSI menghormati dan mengapresiasi jasa Vita selama ini. Toh, bagaimanapun berpasangannya Rijal/Vita saat itu bukan kehendak Vita semata melainkan pula demi keberlangsungan regenerasi bulu tangkis Indonesia.
Saat itu, Vita sudah berusia 28 tahun, usia yang boleh dibilang masuk dalam usia penurunan prestasi, terlebih untuk kategori pebulu tangkis putri. Tak sedikit yang berpikir bahwa masa emas karir Vita adalah saat dirinya berpasangan Flandy Limpele dan dengan demikian maka Vita tinggal menunggu masa pensiun saja.
Gambar
Namun nyatanya prediksi orang kebanyakan itu berhasil ditepis oleh Vita. Vita mulai merintis karir di luar pelatnas atau sering disebut dengan istilah jalur profesional yang saat itu masih belum lazim didengar karena biasanya pintu untuk sukses bagi atlet Indonesia adalah melalui jalur pelatnas. Vita mampu memberikan jawaban bahwa selalu ada hasil positif saat dirinya tak lelah untuk berjuang.
Gambar
Berpasangan dengan Hendra Aprida Gunawan, duet ini mampu menghebohkan persaingan di nomor ganda campuran dengan duduk di peringkat ketiga dunia. Bersama Nadya Melati pun, Vita juga sukses unjuk gigi dengan masuk 15 besar dunia dan sempat menjadi finalis Indonesia Terbuka 2012. Semua itu tidak diraih Vita dengan mudah. Perlu kerja keras, fokus, dan konsistensi untuk bisa mewujudkannya.
Jika pembuktian itu sepertinya belum cukup untuk menunjukkan kapasitas Vita Marissa, maka lihatlah ketika dirinya berganti pasangan.  Ia kemudian beralih pasangan dengan Variella Aprilsasi di nomor ganda putri dan dengan Praveen Jordan di nomor ganda campuran. Jika Hendra dan Nadya sudah termasuk pemain dengan jam terbang yang tinggi, maka Variella dan Praveen masihlah merupakan pemain muda dengan jam terbang masih seadanya.
Di sinilah Vita membuktikan bahwa dirinya memiliki leadership yang bagus. Ia bisa membimbing pemain muda untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Ia mampu berperan menjadi pemimpin seiring bertambahnya kematangan dalam dirinya.
Gambar
Banyak yang sudah dilalui Vita dalam karirnya dan ia semakin bertambah matang seiring dengan kemampuannya menjalani konsekuensi atas semua keputusan yang sudah diambilnya, mulai dari keputusan untuk terus bermain setelah cedera bahu parah di 2004, keputusan untuk keluar pelatnas, hingga keputusan untuk berpindah klub. Vita sukses karena apapun keputusan yang ia ambil, ia siap menjalani semua konsekuensi dibaliknya.
Dan kini Vita sekali lagi memberikan penegasan, bahwa menjadi tua itu pasti, namun tetap berprestasi itu pilihan dan kemauan.
-Putra Permata Tegar Idaman-

0-10

0-10

Sudah dua turnamen super series/premier berlalu, sudah sepuluh gelar diperebutkan. Hasilnya : Indonesia belum kebagian satu gelar pun di bulan pertama tahun 2014 ini. Jangankan titel juara, dari 10 final yang dipertandingkan saja, Indonesia hanya mampu sekali menempatkan wakilnya, yaitu Tommy Sugiarto di Malaysia Super Series Premier.
Dua turnamen awal di tahun ini menjadi gambaran jelas bahwa kekuatan bulu tangkis Indonesia saat ini masihlah sangat rentan. Terbukti, di Korea, tanpa kehadiran pemain utama, Indonesia gagal menempatkan satu wakil pun di babak final. Para pebulu tangkis Indonesia harus gigit jari melihat keperkasaan Cina dan Negara-negara lainnya.
Berpindah ke Malaysia, ternyata cerita sedih bagi Indonesia masihlah sama meski untuk kali ini Tim Bulu Tangkis Indonesia turun dengan kekuatan penuh. Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir kali ini gagal unjuk gigi dan memenuhi harapan untuk pulang dengan prestasi.
Sejatinya, seandainya, sekali lagi seandainya, salah satu saja dari Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana mampu merebut titel juara di Malaysia, maka rapor performa tim Indonesia di bulan pertama tahun 2014 ini tidaklah terlalu buruk. Hal itu dikarenakan Angga Pratama/Rian Agung dan Tommy Sugiarto menunjukkan performa yang lumayan di Malaysia kemarin.
Angga/Rian mampu menembus babak semifinal dengan melangkahi Liu Xiaolong/Qiu Zihan dan Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong, sedangkan Tommy mampu menapak partai puncak sebelum akhirnya tumbang di hadapan pebulu tangkis nomor satu dunia Lee Chong Wei.
Angga/Rian sendiri boleh dibilang hanya berjarak sejengkal dari tiket final. Mereka harus mengakui keunggulan ganda tuan rumah Goh V Shem/Lim Kim Wah yang mendapat energi tambahan dari dukungan penonton yang hadir. Sementara itu, perjuangan Tommy di babak final pun patut diapresiasi. Dirinya sudah berhasil menjebak Chong Wei dalam pola permainannya di sepanjang game pertama. Namun sayangnya, Chong Wei mampu lepas dari sergapan itu di pengujung game pertama dan kemudian berbalik mendominasi penuh di game kedua.
Image
copyright : badmintonindonesia.org
Performa Angga/Rian dan Tommy menarik untuk diapresiasi namun lagi-lagi, berbicara atlet kategori prestasi, tentu penilaian akhirnya tetaplah keping-keping medali tanda posisi tertinggi.
Tetapi jika dilihat lebih dalam, sepertinya apa yang terjadi di bulan pertama ini seolah menjadi penegasan untuk PBSI bahwa mereka harus tetap mawas diri. Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana bukanlah sosok yang tak tersentuh oleh pemain-pemain lainnya di dunia ini. Mereka memang pemain hebat namun masih berpeluang besar untuk bisa dikalahkan. Karena itulah yang bisa dilakukan oleh pemain lainnya adalah mengejar ketertinggalan mereka dari Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana untuk kemudian sama-sama berdiri sejajar menanggung beban sebagai pemain andalan Indonesia di berbagai turnamen besar.
Melihat Cina saat ini, rasa iri pantas dan normal jika keluar. Bagaimana tidak, dari 10 gelar yang sudah diperebutkan di awal tahun 2014 ini, tujuh di antaranya menjadi milik mereka dengan rincian empat gelar di Korea dan tiga gelar di Malaysia. Tidak sampai di situ, koleksi tujuh gelar yang ada tersebut dipersembahkan oleh enam pebulu tangkis/ganda mereka. Jelas terlihat sebuah pemerataan pembinaan sehingga kompetisi sudah tercipta diantara sesama pemain mereka sendiri.
Kondisi Indonesia saat ini pun boleh dibilang tidak jauh berbeda dibandingkan Negara-negara yang berstatus Negara kuat di bulu tangkis lainnya seperti Korea, Denmark , Malaysia, dan Jepang.  Mereka juga masih kesulitan memperbanyak jumlah pemain andalan yang bisa dibebankan target juara di berbagai kompetisi elit dunia.
Sebagai gambaran, tahun lalu, Cina meraih total 31 gelar dari 12 turnamen super series/premier plus satu super series finals yang menyediakan total 65 gelar juara. Tidak sampai di situ, 31 gelar itu sendiri diraih oleh 14 pemain/wakil yang berbeda.
 Bandingkan dengan Indonesia yang meraih 11 gelar lewat empat wakil, Malaysia yang mendapat tujuh gelar lewat Lee Chong Wei seorang, Korea yang merebut enam gelar dari tiga wakil, dan Denmark yang merebut lima gelar dari empat wakil.Karena banyaknya wakil yang bisa diandalkan untuk menjadi juara itulah, Cina akhirnya tak pernah sekalipun hampa gelar di sebuah turnamen super series/premier pada tahun lalu.
Situasi itu sendiri sepertinya tidak diragukan lagi kemungkinan besar akan berlanjut tahun ini. Bagi Indonesia sendiri, mengejar posisi Cina saat ini masih terlalu sulit dilakukan, namun untuk mengembangkan performa sendiri lebih baik dibandingkan tahun lalu jelas masihlah merupakan sebuah harapan yang ideal.
Jika ada empat pemain/wakil yang bisa jadi juara musim lalu, maka semoga untuk tahun ini jumlah tersebut bisa bertambah. Jika Tommy Sugiarto dan Markis Kido/Marcus Fernaldi hanya meraih satu gelar tahun lalu, semoga tahun ini mereka dan juga para pebulu tangkis Indonesia lainnya bisa mencuri gelar lebih banyak. Harapan-harapan itu tentunya diembuskan sambil terus berharap Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana segera menemukan level terbaik dari permainan mereka. Dengan demikian, maka 0-10 di awal tahun ini bisa berubah menjadi 11-65 di akhir tahun seperti tahun lalu atau bahkan lebih baik lagi.
-Putra Permata Tegar Idaman-

Rabu, 15 Januari 2014

Batas Simon Santoso

Simon Santoso berada di ujung pintu pelatnas Cipayung. Target masuk babak semifinal di Korea Super Series dan Malaysia Super Series Premier yang dibebankan kepada Simon hanya mampu dijawab Simon dengan hasil babak pertama di Korea dan tak lolos babak kualifikasi di Malaysia.
Ultimatum Rexy sudah dikeluarkan dan kini semua harus siap dengan konsekuensinya. Simon sendiri sudah tampak pasrah dengan kepastian statusnya di pelatnas Cipayung. Simon telah menegaskan bahwa dirinya siap jika memang harus keluar dari pelatnas Cipayung. Namun sudahkah sektor tunggal putra pelatnas siap kehilangan Simon?
Image
Berbalik ke belakang, Simon sudah disebut-sebut sebagai pemain masa depan Indonesia sejak ia masih berusia belasan. Ketika itu kemunculannya (bersama Sony Dwi Kuncoro) diharapkan mampu melapis dan menjadi penerima tongkat estafet dari Taufik Hidayat yang saat itu tengah berada di puncak karirnya.
Simon terus berjuang dari tahun ke tahun. Statusnya sebagai tunggal putra nomor tiga Indonesia mulai bergeser ke posisi kedua dan akhirnya sempat memegang tampuk sebagai tunggal putra dengan peringkat BWF tertinggi di Indonesia. Sejumlah prestasi ia ukir namun gunung prestasi yang Simon buat tak pernah bisa melampaui atau bahkan sekedar mendekati gunung prestasi yang telah dibuat oleh Taufik. Simon tetap dianggap gagal dalam upaya menembus persaingan papan atas dunia yang dikendalikan oleh Lin Dan dan Lee Chong Wei selama ini.
Adalah benar bahwa Simon sudah diberikan cukup waktu oleh pelatnas Cipayung untuk unjuk gigi dan Simon telah gagal mewujudkan harapan banyak orang Indonesia untuk melihat Indonesia kembali memiliki tunggal putra nomor satu dunia. Namun masalah ini bukan hanya masalah Simon sendiri melainkan masalah sektor tunggal putra pelatnas secara keseluruhan.
Sejak Indonesia menancapkan kukunya di kancah perbulu tangkisan dunia, sektor tunggal putra Indonesia terus menghadirkan nama-nama besar. Tan Joe Hok, Ferry Sonneville, Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Hastomo Arbi, Alan Budikusuma, Ardi B. Wiranata, Hariyanto Arbi, Joko Suprianto, Hendrawan, hingga Taufik. Nama Taufik itulah kemudian dianggap sebagai nama terakhir yang mampu mempertahankan supremasi tunggal putra Indonesia dalam persaingan bulu tangkis dunia.
Simon memang gagal mengemban tanggung jawab sebagai pewaris nomor tunggal putra Indonesia namun kegagalan itu sejatinya bukan milik Simon semata. Sejak Simon berada di pelatnas, telah banyak pula bibit-bibit tunggal putra yang masuk dan coba untuk mengejar mimpi menjadi pebulu tangkis tunggal putra nomor satu dunia. Namun kebanyakan dari mereka juga gagal dalam perjalanannya dan harus dicoret keberadaannya dari pelatnas Cipayung. Wajah skuat tunggal putra pelatnas Cipayung sendiri terbilang  sering mengalami perubahan anggota dari tahun ke tahunnya.
Sebagai gambaran, Tommy Sugiarto dan Dionysius Hayom Rumbaka yang disebut sebagai dua tunggal putra terbaik Indonesia saat ini pun rasanya belum melebihi level permainan terbaik Simon Santoso beberapa tahun silam. Jika boleh dikatakan, mungkin Tommy masih ada di level yang sama dengan performa terbaik Simon dahulu. Tommy dan juga Hayom belum benar-benar melakukan sebuah gebrakan yang besar dalam perjalanan karir mereka sehingga mereka layak disebut sudah mengungguli level permainan Simon.
Image
Di lapis bawah setelah Tommy dan Hayom, berjajar para pemain muda pelatnas yang masih terus bekerja keras merajut mimpi mereka menjadi tunggal putra nomor satu dunia. Jadi boleh dibilang sektor tunggal putra memang masih akan minim andalan untuk 1-2 tahun ke depan.
Jika memang waktu Simon sudah habis di pelatnas Cipayung, maka tantangan bagi Tommy, Hayom, dan pasukan tunggal putra lainnya adalah melewati gunung prestasi yang telah diciptakan Simon sejauh ini. Jika gunung prestasi yang telah dibangun Simon saja tak mampu dilewati oleh mereka, maka jangan berharap terlalu banyak mereka bisa menggapai dan menyamai level permainan dan gunung prestasi yang telah dibuat Taufik Hidayat dan legenda-legenda tunggal putra lainnya.
Lalu masihkah ada ruang bagi Simon untuk bertahan di pelatnas Cipayung? Jika berbicara jangka pendek, mungkin masih ada kesempatan meskipun kecil. Di tahun ini, PBSI menargetkan juara pada gelaran Piala Thomas 2014 mendatang. Sebelumnya pada tahun lalu, Rexy Mainaky sudah menyebut bahwa komposisi pemain yang dia inginkan untuk tunggal putra di Piala Thomas mendatang adalah Tommy dan Hayom yang akan jadi tulang punggung utama, Sony atau Simon di pilihan selanjutnya, dan satu tempat tersisa akan diisi oleh pemain muda.
Jika kondisi Sony selalu 100 persen fit, mungkin memang tak ada masalah jika akhirnya Simon keluar dari pelatnas Cipayung. Namun faktanya Sony sendiri juga rentan cedera. Jika nantinya Sony kembali cedera saat persiapan Piala Thomas, maka PBSI pastinya akan pusing tujuh keliling. Mengisi dua slot di luar Tommy dan Hayom dengan pemain muda? Rasanya itu pilihan yang sangat riskan jika dibandingkan dengan target juara yang telah dikumandangkan.
-Putra Permata Tegar Idaman-

Mainaky.. Mainaky.. Mainaky.. Mainaky..

Mainaky. Mainaky. Mainaky. Mainaky. Setidaknya ada empat kata Mainaky yang akan ditemui saat mata anda menelusuri struktur pengurus dan pelatih PBSI pada periode tahun ini. Nama-nama itu milik Rexy Mainaky selaku Kabid Binpres, disusul Richard Mainaky (pelatih kepala ganda campuran), Reony Mainaky (pelatih kepala ganda putri), dan Marleve Mainaky (pelatih kepala tunggal putri).
Munculnya empat nama Mainaky dalam susunan pengurus dan pelatih pelatnas Cipayung pada tahun ini tentu menjadi sebuah hal yang menarik. Kini ada tiga Mainaky yang mengawal tiga dari lima nomor di pelatnas plus satu Mainaky yang menjadi Kabid Binpres. Apakah ini menjadi salah satu bentuk nepotisme karena Rexy selaku Kabid Binpres memiliki kewenangan penuh untuk melakukan penunjukkan pelatih nomor per nomor?
Image
Percayalah, kata nepotisme hanya akan dikait-kaitkan oleh para pemerhati bulu tangkis di negeri ini kepada Rexy Mainaky ketika prestasi bulu tangkis Indonesia jeblok dan tak menunjukkan perkembangan serta perbaikan yang signifikan di tahun ini. Jika prestasi  Indonesia di tahun ini bisa meroket dan mengalami perbaikan signifikan, yang ada hanya puji-pujian yang mengalir kepada Rexy sebagai penanggung jawab hadirnya dinasti Mainaky di daftar pelatih pelatnas Cipayung tahun ini.
Yang kemudian berkembang menjadi pertanyaan adalah mampukah Mainaky-Mainaky yang berada di jajaran pelatih tahun ini mengemban kepercayaan Rexy Mainaky dan menjawabnya dengan prestasi?
Nama pertama yang paling disorot mungkin adalah Marleve Mainaky yang menjadi pelatih kepala tunggal putri. Tahun lalu, nama Marleve juga sudah ada di daftar pelatnas Cipayung dengan posisi sebagai asisten pelatih tunggal putra. Posisi sebagai asisten pelatih sendiri pastinya beda dengan pelatih kepala yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap performa para pemainnya. Jika para pemain gagal menemukan performa terbaiknya, sudah pastilah pelatih kepala yang akan dicari dan dimintai pertanggung jawaban, dan bukannya sang asisten pelatih.
Menariknya, Marleve Mainaky sendiri sudah memiliki pengalaman menjadi pelatih tunggal putri pelatnas Cipayung beberapa tahun lalu sebelum akhirnya berselisih dengan pengurus era 2008-2012 dan memutuskan untuk keluar dari pelatnas Cipayung.
Image
Yang jadi perhatian adalah kemudian mencuatnya keraguan tentang kapasitas Marleve mengangkat performa tunggal putri Indonesia setelah ini. Memang, dari segi kedekatan personal, Marleve bisa membina hubungan baik dengan para pemain tunggal putri dan itu bisa jadi nilai plus karena dengan demikian Marleve bisa menipiskan jarak antara pelatih dan pemain.
Namun jelas yang dicari oleh para publik bulu tangkis Indonesia adalah prestasi. Acuan keberhasilan Marleve bukan saat dirinya mampu berhubungan akrab dengan para pemain melainkan ketika dirinya mampu membuat para pemainnya berprestasi tinggi. Satu prestasi yang mengesankan dari Marleve adalah ketika mampu mendampingi Maria Kristin meraih medali perunggu Olimpiade Beijing 2008, namun setelah itu prestasi pebulu tangkis tunggal putri boleh dibilang melempem.
Dan untuk tahun ini sendiri, Marleve boleh dibilang akan mendapatkan tugas yang boleh dibilang lebih berat dibandingkan periode sebelumnya. Pasalnya, Sumber Daya Manusia yang ada untuk tunggal putri saat ini otomatis tak banyak berubah dibandingkan saat Marleve masih menduduki kursi pelatih tunggal putri sebelumnya. Marleve harus bisa mencari solusi dan memaksimalkan kematangan dan meningkatkan tingginya jam terbang pemain yang pastinya bertambah, dan meminimalisir kekurangan dari segi fisik yang mungkin menurun karena bertambahnya usia para pemain yang ada.
Yang kedua adalah Reony Mainaky. Nama ini sendiri sejatinya sudah muncul tahun lalu sebagai pelatih kepala ganda putri namun kemudian kedatangannya harus tertunda selama satu tahun untuk menyelesaikan kontrak yang ada.
Berbeda dengan Marleve yang dianggap sebagai wajah lama, kehadiran Reony Mainaky di pelatnas Cipayung boleh dibilang merupakan angin segar. Kisah sukses Reony membesut ganda Jepang menjadi salah satu ganda kuat di luar jajaran ganda hebat Cina menjadi salah satu jaminan bahwa Reony Mainaky punya kapasitas untuk melakukan hal yang sama di pelatnas Cipayung.
Tantangan bagi Reony saat nanti bergabung sangatlah jelas, ia harus bisa segera membawa perubahan terkait prestasi ganda putri Indonesia yang sejak dulu stagnan. Tidak perlu bermimpi terlalu jauh bisa memiliki ganda putri nomor satu dunia dalam waktu dekat, cukup memiliki 2-3 wakil di 10 besar dunia saja sudah merupakan tanda kemajuan yang sangat signifikan untuk nomor ini.
Reony sendiri tentunya harus siap menanggung beban tambahan ketika bersedia melatih Indonesia. Melatih pemain dari negeri sendiri, tentunya ia juga harus siap dengan tekanan yang lebih berat dari media-media lokal. Maklum, ekspektasi tinggi pastinya juga akan diikuti oleh beban yang tinggi dan kritik yang lebih deras ketika kenyataan tak sesuai harapan.
Yang terakhir adalah Richard Mainaky. Nama terakhir ini sepertinya nama yang paling jauh dari keraguan adanya unsur kekeluargaan dalam hal pemilihan nama pelatih, apalagi Richard Mainaky sudah lebih dulu menjadi pelatih sebelum Rexy Mainaky datang ke Cipayung awal tahun lalu. Maklum, Richard Mainaky adalah wajah lama yang sukses mengubah status ganda campuran di peta kekuatan Indonesia dalam lebih dari satu dasawarsa terakhir. Nomor ganda campuran yang tadinya hanya merupakan nomor buangan kini menjelma menjadi nomor andalan.
Image
Namun bukan lantas Richard Mainaky hadir di pos pelatih ganda campuran tanpa tantangan sedikit pun. Tugasnya tahun ini tetap tak berubah, yaitu memastikan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir selalu siap menjadi andalan di turnamen-turnamen besar. Tidak hanya itu, Richard juga sudah harus berhasil mendorong beberapa pasangan yang telah diproyeksikan sebelumnya menjelma menjadi andalan mengikuti kiprah Tontowi/Liliyana selama ini. Jika hal itu gagal dilakukan, maka tak pelak Richard Mainaky pun bisa berada dalam sorotan tajam.
Kalau boleh dibilang, sejatinya nama-nama Mainaky di atas sudah ‘hidup tenteram’ di luar pelatnas. Marleve Mainaky sebelumnya telah menjadi pelatih di PB Exist dan Reony Mainaky sudah berkiprah di Jepang yang pastinya keduanya pun tak memiliki permasalahan terkait finansial dan pendapatan. Jadi, alasan pemanggilan kedua pelatih itu oleh Rexy bukanlah karena nepotisme untuk mengamankan jalan rezeki keluarga.
Padahal pastinya akan lebih aman jika Rexy Mainaky memilih nama lain di luar keluarganya sebagai pelatih. Dirinya tak akan dicemooh berlebihan jika nantinya orang-orang di luar keluarganya itu gagal mengemban tugasnya sebagai pelatih. Beda halnya dengan saat ini, jika nantinya Marleve, Reony, dan Richard gagal sebagai pelatih, pastinya hubungan keluarga dengan Rexy akan dibawa ikut serta sebagai salah satu sebab kegagalan.
Namun jika diibaratkan seperti penjudi, Rexy bukanlah tipe penjudi penakut yang tanggung-tanggung dalam berbuat sesuatu. Rexy adalah penjudi yang akan mempertaruhkan semua miliknya di meja perjudian jika ia yakin akan memenangkannya dan tidak takut akan resiko kehilangan semua harta miliknya. Sama seperti hal itu, pastinya ada keyakinan kuat dalam diri Rexy ketika mengajak serta Marleve dan Reony dalam struktur kepelatihan di bawah tanggung jawabnya, dan Rexy pasti tidak takut dengan resiko kegagalan yang mungkin menantinya.
-Putra Permata Tegar Idaman-

Mengintip Peluang di 2014 (Bagian II)

Untuk bagian kedua, di sini akan membahas tentang peluang di kompetisi perorangan. Seperti yang diketahui, ada beberapa turnamen yang menjadi target besar PBSI tahun ini yaitu All England, Kejuaraan Dunia, Asian Games, dan BWF Final Super Series.
All England, Kejuaraan Dunia, Asian Games, dan BWF Final Super Series
Kesamaan dari empat ajang itu adalah jika melihat peta kekuatan Indonesia di awal tahun, hanya Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang sepertinya bisa diberi tanggung jawab untuk menuntaskan misi.
Namun perjalanan menuju ajang-ajang tersebut tentunya berbeda-beda. Khusus untuk All England yang memang tinggal berjarak dua bulan dari sekarang, nama Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana sendiri jelas mutlak bakal menjadi ujung tombak dalam menghadapi persaingan perebutan gelar juara. Di luar nama-nama itu, sepertinya masih butuh usaha keras berbalut kata kejutan untuk bisa menyaksikan pemain Indonesia lainnya berjaya di podium tertinggi All England.
Yang menarik kemudian menyaksikan apakah saat penyelenggaraan Kejuaraan Dunia (25-31 Agustus) dan Asian Games (28 September-5 Oktober), kekuatan Indonesia masih tetap bertumpu pada dua nama yang ada, Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana ?
Sangat menggembirakan jika memang ternyata ada nama-nama lain yang bisa bermunculan dan berdampingan sejajar dengan Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana sebagai kandidat kuat pemenang Kejuaraan Dunia dan Asian Games. Dan Indonesia sendiri pun masih dibilang cukup beruntung jika Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana tak terkendala cedera yang mungkin bisa mengganggu konsistensi permainan mereka dalam perjalanan setahun ke depan, sehingga nantinya mereka tetap bisa berdiri sebagai andalan. Dan seburuk-buruknya adalah jika Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana mengalami penurunan performa atau cedera sehingga tak lagi bisa dijadikan andalan di dua ajang besar tersebut.
Jika opsi tengah yang diambil yaitu belum ada nama pemain lainnya yang bisa dijadikan andalan selain Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana, maka bukan berarti PBSI bisa berlega hati. Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana berdiri menjadi ganda tangguh di nomor masing-masing bukan tanpa pesaing. Mereka punya rival-rival berat di tiap nomor. Dan selalu memajukan Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana di tiap turnamen yang menjadi target besar, maka Indonesia pastinya tidak mungkin bisa terus berharap hasil manis di pengujung tiap turnamen tersebut.
Tahun lalu, Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana mampu membawa Indonesia meraih dua titel juara dunia di Guangzhou. Sebuah prestasi yang sangat luar biasa. Kalau boleh dibilang ini fenomenal karena hanya mereka berdua yang berstatus menjadi andalan Indonesia di ajang ini.
Image
Dua andalan yang berujung pada dua gelar juara tentu merupakan sebuah hal yang akan sulit diulang beberapa kali, termasuk dalam All England, Kejuaraan Dunia, dan Asian Games tahun ini. Sulit rasanya membayangkan kemungkinan Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana selalu berjaya di ajang All England, Kejuaraan Dunia, dan Asian Games secara beruntun. Ganda-ganda Korea, Cina, Denmark, dan Jepang tentu tak akan membiarkan Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana melakukan hal itu dengan mudah.
Dengan gambaran demikian, maka pemikiran bahwa kegagalan meraih gelar di salah satu target besar tahun ini, entah itu di All England, Kejuaraan Dunia, atau Asian Games,serta BWF Final Super Series, terasa wajar. Berat rasanya berharap kemungkinan Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana terus menerus berjaya di deretan ajang tersebut. Kalaupun mungkin Indonesia memenuhi target menyabet gelar dari turnamen-turnamen besar tersebut, mungkin Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana akan bergantian berperan sebagai penyelamat muka Indonesia. Ahsan/Hendra juara di  turnamen A, dan Tontowi/Liliyana menjadi pemenang di turnamen B, begitu seterusnya.
Turnamen Super Series/Super Series Premier
Selain mendapat gelar dari turnamen-turnamen besar, PBSI juga berharap meraih lebih banyak gelar super series/super series premier dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu, Indonesia meraih 10 gelar dari 12 seri super series/super series premier plus satu gelar di BWF Final Super Series. Torehan ini sendiri memang jauh lebih bagus dibandingkan torehan tahun sebelumnya dimana Indonesia hanya meraih 4 gelar dan tanpa titel di BWF Final Super Series.
Tapi lagi-lagi yang mendapat sorotan adalah 9 dari 11 gelar yang didapat Indonesia tahun lalu berasal dari sumbangan Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana. Hanya ada Tommy Sugiarto di Singapura Super Series dan Marcus Fernaldi Gideon/Markis Kido di Prancis Super Series sebagai dua wakil di luar Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana yang mampu keluar sebagai pemenang.
Untuk tahun ini, selain target jumlah gelar super series/super series premier yang lebih banyak, patut kiranya diperhatikan jumlah pemenang titel super series/super series premier yang lebih banyak dibandingkan musim lalu yang hanya berjumlah empat orang. Para pemain yang selama ini dianggap berada di lini kedua untuk urusan jadi andalan seperti Tommy Sugiarto, Dionysius Hayom Rumbaka, Angga Pratama/Rian Agung, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, Riky Widianto/Richi Puspita Dili harus step up tahun ini.
Image
Jika mungkin masih belum bisa memenangi titel juara pada empat gelaran besar (All England, Kejuaraan Dunia, Asian Games, BWF Final Super Series), maka setidaknya mereka bisa mulai berbicara di turnamen super series lainnya dan mudah-mudahan mulai menjadi penghias daftar penerima gelar juara. Berurutan dengan itu, pemain yang dianggap ada di baris ketiga dalam daftar andalan pun juga harus mulai berbicara banyak dan meraih gelar juara di turnamen level grand prix gold dan grand prix. Jika itu tak bisa dilakukan oleh kelompok lini kedua ini sampai akhir tahun nanti, maka boleh dibilang perkembangan prestasi bulu tangkis Indonesia masih jalan di tempat.

Mengintip Peluang di 2014 (Bagian I)

Seri kompetisi Badminton World Federation (BWF) akan segera dimulai. Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) pun sudah mengumandangkan target-target yang akan mereka bidik tahun ini. Target tersebut dirasa realistis dan menantang untuk dicapai. Berikut mari dibahas satu per satu target yang ada dan dibumbui prediksi biar lebih seru, dimulai dari target-target besar:
Piala Thomas
Sejak meraih Piala Thomas tahun 2002 dan gagal dalam upaya mempertahankan gelar di Jakarta pada tahun 2004, total sudah ada lima gelaran Piala Thomas yang dilewati Indonesia tanpa hasil juara. Tahun ini, PBSI memasang target juara pada Tim yang akan berangkat nanti.
Dari segi kekuatan, sejatinya kekuatan utama Indonesia saat ini ada di pundak Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan karena nomor ganda campuran tak dipertandingkan, maka otomatis untuk Piala Thomas Indonesia bakal bertumpu pada Ahsan/Hendra yang akan tampil sebagai ganda pertama.
Dengan status sebagai ganda pertama, Ahsan/Hendra mutlak tak boleh kehilangan poin di tiap pertandingan yang dijalani Indonesia nantinya. Mereka harus bisa diberi label penyumbang poin tetap bagi Indonesia.
Lantaran Piala Thomas menggunakan format pertandingan the best of five, nomor andalan Indonesia berikutnya adalah ganda kedua. Disini nama yang mungkin bakal mengisi adalah Angga Pratama/Rian Agung atau bisa saja Berry Anggriawan/Ricky Karanda dan Wahyu Nayaka/Ade Yusuf. Ganda kedua yang akan turun nantinya pun harus bisa unggul atas ganda kedua dari negara-negara pesaing yang ada dan bisa menanggung beban sebagai penentu, apalagi dengan format normal, ganda kedua akan tampil di partai keempat.
Beralih ke tunggal, Tommy Sugiarto sepertinya tak terhentikan untuk jadi tunggal pertama pada gelaran Mei nanti. Sebelumnya, Rexy Mainaky menyebut Tommy dan Dionysius Hayom Rumbaka akan menjadi tulang punggung nomor tunggal. Slot tunggal ketiga akan diisi oleh salah satu dari Sony Dwi Kuncoro atau Simon Santoso sedangkan slot tunggal keempat atau cadangan bakal diisi oleh pemain muda. Namun komposisi itu bisa saja berubah menjadi keempat pemain di atas tanpa pemain muda jika masing-masing pemain di atas menunjukkan prestasi yang stabil di sisa waktu yang ada.
Image
Komposisi pemain senior seperti Simon atau Sony sebagai tunggal penentu sendiri memang lebih menguntungkan bagi Indonesia karena dari segi beban mental yang diterima sebagai penentu kemenangan atau kekalahan, jam terbang yang mereka miliki seharusnya sudah mampu untuk menopang mereka berdiri tegak di lapangan tanpa kekhawatiran sebelum bertanding yang berlebihan.
Dilihat dari nama-nama pesaing, nama negara yang sudah familiar dengan dunia bulu tangkis seperti Cina, Korea, Denmark, dan juga Jepang serta Malaysia akan kembali menjadi pesaing Indonesia dalam perebutan Piala yang diambil namanya dari Sir Alan George Thomas ini.
Cina, mereka kini ada di ambang rekor kemenangan enam kali beruntun dan memecahkan rekor sebelumnya atas nama Indonesia. Namun dari segi amunisi, Cina masih mengalami kekhawatiran di sektor ganda dimana mereka tidak setangguh dua tahun lalu.Cai Yun/Fu Haifeng saat ini sudah mengalami penurunan performa sedangkan Liu Xiaolong/Qiu Zihan belum seperti yang diharapkan. Di sisa waktu yang ada, mungkin Cina akan mencari dan meracik pasangan baru yang bisa jadi tumpuan kekuatan.
Image
Dengan kurang kokohnya kekuatan nomor ganda, Cina otomatis mutlak mengandalkan nomor tunggal. Yang menarik dilihat, apakah Lin Dan akan kembali masuk Tim Cina setelah hanya muncul di Kejuaraan Dunia lalu untuk kemudian menghilang lagi? Jika tanpa Lin Dan, otomatis Cina juga dalam kekhawatiran karena Du Pengyu dan Wang Zhengming tidak sesolid yang mereka harapkan. Jikapun Lin Dan main, menarik untuk dilihat kapan Lin Dan akan come back, apakah sebelum Thomas Cup atau saat penyelenggaraan turnamen itu berlangsung. Dan dengan kondisi demikian sendiri, Lin Dan hanya akan bisa tampil sebagai tunggal ketiga Cina karena kalah dari segi peringkat dibandingkan tunggal Cina lainnya.
Korea pun akan menjadi lawan berat bagi Indonesia selanjutnya. Ganda putra Korea memiliki peluang untuk mengimbangi ganda Indonesia, baik itu ganda pertama maupun kedua. Beruntung, dari segi tunggal putra, kans Indonesia untuk mengambil angka terbuka lebih lebar. Karena itu jika nantinya bertemu Korea, maka para tunggal putra Indonesia harus gantian mengambil peran sebagai penentu kemenangan.
Untuk Denmark, negara ini pun patut diwaspadai oleh Indonesia. Nama-nama seperti Jan O Jorgensen, Hans-Kristian Vittinghus dan Viktor Axelsen menjadi nama yang cukup berbahaya bagi para pemain Indonesia. Dari nomor ganda pun mereka memiliki kekuatan yang lumayan merata.
Jepang juga tak boleh diremehkan karena mereka masih berpeluang mencuri angka dari nomor tunggal maupun ganda. Sedangkan Malaysia sendiri, sebelum pertandingan mungkin boleh dibilang sudah unggul 0-1 jika Lee Chong Wei belum benar-benar ditemukan kelemahan mendasarnya oleh para pemain Indonesia.
Dengan gambaran demikian, maka gelaran Piala Thomas tahun ini akan berlangsung lebih seru dibandingkan tahun sebelumnya karena perbedaan kekuatan tiap negara semakin tipis. Cina akan gagal memecahkan rekor baru sebagai negara terbanyak yang mampu membukukan kemenangan beruntun dan Indonesia bisa kembali keluar sebagai juara sekaligus lepas dari torehan 13 gelar yang selama ini selalu dianggap angka sial.
Piala Uber
Menghadapi Piala Uber tahun ini, Indonesia sepertinya masih belum punya cukup kekuatan untuk menjadi kandidat serius perebut gelar juara. Karena itu wajarlah jika target yang dibebankan kepada tim putri nantinya adalah babak semifinal. Realistis dan masih mungkin dicapai.
Komposisi pemain tunggal Indonesia sendiri masih belum bisa diraba jelas karena peta kekuatan yang masih mungkin berubah dalam beberapa bulan ke depan. Para kandidat tunggal putri bisa saling bersaing dan unjuk gigi untuk membuktikan bahwa merekalah yang terbaik dan pantas masuk dalam skuat Tim Uber Indonesia nantinya.
Sementara itu untuk nomor ganda, Indonesia sepertinya baru bisa memastikan nama Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari sebagai anggotanya dan masih mencari kandidat ganda lainnya. Untuk menambah kekuatan nomor ganda, wacana untuk memasukkan nama Liliyana Natsir dalam tim Piala Uber menarik untuk diperhatikan. Liliyana sendiri pernah menyebut di tahun lalu bahwa dirinya siap saja jika memang dibutuhkan tenaganya untuk bermain di Piala Uber namun yang mesti digarisbawahi adalah dirinya sudah lama tidak bermain di level kompetitif pada nomor ganda putri dan usianya kini sudah semakin menua.
Sebelum putaran final berlangsung, tugas para pemain putri Indonesia sendiri adalah memperbaiki peringkat mereka setinggi mungkin agar nantinya bisa masuk dalam pot negara unggulan. Andai Indonesia terlempar dari status unggulan delapan besar, maka bersiap melihat tim putri Indonesia sudah harus berjibaku dan bersusah payah di level penyisihan grup. Andai mampu masuk dalam unggulan delapan besar, maka peluang untuk maju ke perempat final terbuka lebih lebar.
Image
Dengan masuk ke perempat final, maka Indonesia pun tinggal berharap bahwa drawing berpihak kepada mereka dan mempertemukan mereka dengan lawan-lawan di luar Cina yang sepertinya masih tak tersentuh oleh Indonesia untuk tahun ini. Meski negara seperti Korea, Jepang, dan Thailand juga memiliki kekuatan yang tak bisa diremehkan begitu saja, namun asa Indonesia untuk menapak babak semifinal akan terbentang lebih terang.
-Putra Permata Tegar Idaman-