Senin, 09 September 2013

Saat Olahraga Tak Lagi Jadi yang Utama

99 tahun lalu, perang dunia pertama meletus. Tiap-tiap Negara saling unjuk kekuatan dan kehebatan dan merasa lebih superior dibandingkan Negara lainnya. Negara yang kalah terpaksa menyerah dan harus tunduk pada sang pemenang. Mereka pun tak berdaya dalam kekangan sang penguasa. Saat ini, dunia sudah memasuki masa damai, namun sejatinya ‘perang’ itu masih ada dan berpindah ke arena olahraga. Sayangnya, saat ini Indonesia seolah ketinggalan dan tak mau ikut serta.

Sejak United Nations atau Perserikatan Bangsa-Bangsa berdiri pada 24 Oktober 1945, maka bisa dikatakan perang antar negara lewat konfrontasi strategi dan senjata resmi berakhir. Dunia sudah cukup prihatin dengan meletusnya dua perang dunia yang mengakibatkan korban meninggal dunia plus luka-luka lebih dari 100 juta jiwa. Negara-negara baik itu blok barat maupun timur sadar bahwa perang dunia ketiga di masa depan bisa jadi akan benar-benar menghancurkan dunia.

Namun, persaingan gengsi antar tiap negara tidaklah resmi berakhir. Suatu negara masih ingin dipandang superior dibandingkan negara lainnya. Dan kesempatan untuk bisa mewujudkan hal tersebut, bisa tercipta di arena olahraga, dimana persaingan antar bangsa masih terjadi dan menjadi perhatian seluruh dunia.

Mulai dari single event seperti FIFA World Cup, Kejuaraan Dunia Atletik dan cabang lainnya, Piala Thomas/Uber, hingga ajang multi event seperti Olimpiade, Asian Games, dan SEA Games, tiap negara yang terjun di dalamnya punya kesempatan untuk menegaskan status bahwa mereka lebih hebat dari negara lainnya yang ada di turnamen atau kejuaraan tersebut.

Itulah mengapa Amerika Serikat pun menaruh fokus penuh pada olahraga dan itu terlihat di Olimpiade. Mereka yang menyebut diri mereka sebagai ‘Super Power’ tentu juga ingin terlihat super di arena olahraga. Alhasil, mereka sangat dominan di Olimpiade dan sering keluar sebagai juara umum. Cina yang sering disebut kekuatan baru di dunia pun juga memanfaatkan arena olahraga sebagai tempat mereka unjuk kekuatan. Status juara umum Olimpiade Beijing 2008 pun sudah cukup bagi seluruh dunia untuk tak lagi meremehkan Cina sebagai sebuah bangsa.

Bagaimana olahraga bisa mengangkat harkat suatu bangsa juga bisa dilihat dari banyak contoh. Jamaika dan atletik misalnya. Dulu, mungkin Jamaika hanya dikenal lewat Bob Marley, namun kehadiran Usain Bolt yang fenomenal benar-benar membuat dunia kini menaruh respek pada Jamaika sebagai salah satu negara hebat di dunia.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Pada awalnya, Indonesia paham benar bahwa olahraga adalah salah satu jalan pintas untuk membawa harum nama bangsa ini ke pentas dunia. Hal itulah yang diyakini oleh Indonesia saat melakukan bidding sebagai tuan rumah Asian Games 1962. Komplek Gelora Bung Karno pun dibangun untuk mengakomodasi hal itu. Presiden Soekarno pun mendukung penuh rencana dan acara tersebut.

Di ajang SEA Games, Indonesia pun selalu jadi raja pada awalnya. Dari 1977-1997, Indonesia sembilan kali jadi juara umum dan hanya dua kali finis runner up, itu pun saat sang juara Thailand berstatus sebagai tuan rumah. Pemerintah dan pihak-pihak terkait saat itu benar-benar memberikan dukungan penuh kepada atlet-atlet Indonesia yang berlaga di berbagai arena.

Di olahraga perorangan, bulu tangkis menjadi tumpuan utama Indonesia untuk dikenal dunia. Sejak era 1960-an, nama berbagai pebulu tangkis mampu membuat dunia mengenal Indonesia sebagai kekuatan utama di dunia. Cabang olahraga angkat besi pun menyusul di era 2000-an dan bahkan jadi penyelamat saat bulu tangkis absen memberi medali di Olimpiade London 2012 lalu.

Bagaimana dengan kondisi terkini? Dalam beberapa tahun belakangan, bisa dibilang kondisi olahraga di Indonesia terbilang cukup miris. Persiapan mayoritas cabang olahraga menuju SEA Games 2013 menjadi bukti. Uang saku atlet yang telat ibarat sinetron yang hampir pasti jadwal tayangnya tiap minggu, beruntung hal itu tak membuat para atlet luntur semangatnya dalam melakukan persiapan. Minimnya anggaran yang dialokasikan untuk pembinaan olahraga di Indonesia juga menjadi sebab mengapa mayoritas Pengurus Besar (PB)/Pengurus Pusat (PP) tak memiliki dana yang cukup untuk memutar roda organisasi dan menjalankan pembinaan dengan baik sebagaimana seharusnya.

Pemerintah harus merespon keadaan ini. Untuk cabang olahraga yang populer dan berprestasi seperti bulu tangkis, PBSI mungkin sudah menemukan formula yang tepat untuk menghidupi diri sehingga mereka bisa memancing kedatangan sponsor. Namun untuk cabang olahraga lain yang berprestasi dan berpotensi namun kesulitan mendatangkan sponsor lantaran masalah popularitas di masyarakat, pemerintah tetap harus turun tangan untuk pendanaan.

Hal itu mutlak dilakukan karena jika dibiarkan, maka itu bakal menjadi efek domino ke depannya. Generasi muda akan mulai mencoret atlet sebagai pilihan profesi mereka di masa depan lantaran tak adanya kejelasan dan jaminan. Mungkin hanya cabang-cabang populer yang masih memiliki regenerasi sementara cabang olahraga lainnya akan semakin sulit mencari bibit.

Saat ini olahraga (sedang) tidak menjadi perhatian utama di Indonesia. Mungkin para penentu kebijakan itu lupa, bahwa hanya atlet dan kepala negara yang bisa mengibarkan Bendera Merah-Putih dan Lagu Indonesia Raya di luar Indonesia.

Selamat Hari Olahraga Nasional! Semoga hari ini tidak hanya sekadar sebuah hari peringatan saja, melainkan hari perenungan tiap insan olahraga di Indonesia.

-Putra Permata Tegar Idaman-

Rabu, 14 Agustus 2013

Angkat Topi untuk Ahsan dan Tontowi



Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2013 berakhir bahagia bagi Indonesia. Dua gelar juara setelah hampa gelar di tiga edisi Kejuaraan Dunia sebelumnya jelas sangat membahagiakan. Lebih menarik karena dua orang yang menjadi juara dunia pada 2007, tahun terakhir Indonesia merengkuh titel juara dunia, Hendra Setiawan dan Liliyana Natsir kembali menjadi juara dunia di tahun ini dengan pasangan yang berbeda. Hendra meraih juara dengan Mohammad Ahsan, Liliyana menjadi yang terbaik bersama Tontowi Ahmad.

Hendra dan Liliyana adalah pemain jenius dan itu tak perlu diragukan dan diperdebatkan. Sejak usia muda mereka sudah berprestasi dan itu mereka pertahankan hingga saat ini, saat dimana usia mereka sudah mulai memasuki fase usia tua sebagai seorang atlet. Yang ingin disorot dari tulisan ini adalah justru sosok Ahsan dan Tontowi, dua sosok yang harus berpasangan dengan Hendra dan Liliyana yang sudah meraih segalanya sebagai seorang pemain bulu tangkis.

Ahsan mulai berpasangan dengan Hendra selepas Olimpiade London 2012. Ahsan yang sebelumnya berpasangan dengan Bona Septano tengah mengalami kekecewaan yang cukup besar lantaran gagal menyumbangkan medali bagi Indonesia di Olimpiade London 2012. Tidak hanya soal Olimpiade saja, Ahsan sendiri juga sebelumnya hanya mampu menyandang status sebagai ganda 10 besar dan belum mampu naik level menjadi ganda papan atas.

Berpasangan dengan Hendra pun tidak lantas membuat Ahsan dengan mudah mencapai tangga teratas. Kondisi Hendra saat itu pun tidak dalam kondisi terbaik. Ia dan Markis Kido baru saja gagal lolos ke Olimpiade London 2012. Walaupun Hendra juga tengah terpuruk, nama besar Hendra  sudah cukup untuk  menjadi bayang-bayang besar di hadapan Ahsan.

Hendra adalah juara dunia, juara Olimpide, juara Asian Games,  pebulu tangkis nomor satu dunia dengan sederet gelar saat berpasangan dengan Markis Kido. Sementara Ahsan ketika itu belum mampu menjuarai satu pun titel super series.

Dan benar saja, perjuangan Ahsan/Hendra untuk membuktikan kapasitas mereka melalui jalan yang terjal. Setelah sempat mencuri perhatian dengan meraih gelar di Malaysia Super Series di awal tahun dan masuk semifinal All England 2013, duet Ahsan/Hendra diadang badai cedera pinggang yang menimpa Ahsan. Cedera ini memaksa Ahsan tak tampil satu kalipun di gelaran Piala Sudirman bulan Mei.

Beruntung, dalam rasa derita lantaran tak bisa tampil akibat cedera, rasa lapar gelar juga menghinggapi dalam tubuh Ahsan/Hendra. Indonesia Terbuka, turnamen perdana Ahsan/Hendra setelah kembali langsung berhasil dimenangi oleh mereka. Kemenangan Ahsan/Hendra ini menyelamatkan muka Indonesia sebagai tuan rumah turnamen.

Meski sudah memenangi turnamen selevel ini, Ahsan sendiri seolah tetap merasa belum bisa berdiri sejajar dengan Hendra. Ini bisa dilihat di satu momen dimana Ahsan terlihat bereaksi cukup emosional saat Hendra ditanya perbandingan antara Ahsan dengan Kido. Ahsan masih belum nyaman dengan pertanyaan yang mengungkit perjalanan masa lalu Hendra yang bergelimang prestasi. Dan Ahsan tahu, hanya dengan prestasi tinggi maka ia bisa menghapus pertanyaan perbandingan siapa yang lebih baik menjadi pasangan Hendra yang keluar dari mulut para jurnalis.

Selepas Indonesia Terbuka itu sendiri, Ahsan/Hendra semakin mengkilap sebagai pasangan. Singapura Super Series kembali berhasil dipuncaki oleh mereka yang menjadi modal besar bagi mereka menuju Kejuaraan Dunia 2013.

Dibandingkan Ahsan, Tontowi bahkan sudah merasakan ‘penderitaan’ lebih dulu soal bagaimana beratnya berpasangan dengan pemain bintang. Saat mulai diduetkan dengan Liliyana, Liliyana adalah juara dunia dua kali, peraih medali perak Olimpiade Beijing 2008 pebulu tangkis nomor satu dunia yang memiliki banyak gelar saat berpasangan dengan Nova Widianto. Sementara saat itu Tontowi sendiri belumlah menjadi siapa-siapa dari segi prestasi.

Dasar jodoh, Tontowi/Liliyana langsung melejit dan menjadi tulang punggung utama Indonesia di tahun 2011-2012. Tapi hal ini tidak membuat Tontowi luput menjadi sasaran kesalahan ketika duet Tontowi/Liliyana mengalami kegagalan. Tontowi dianggap kadang masih demam panggung dalam pertandingan-pertandingan krusial dan tidak bisa mengimbangi kematangan Liliyana. Tidak hanya itu, Tontowi juga dianggap indisipliner dan dua hal itulah yang disinyalir menjadi dua diantara beberapa sebab kegagalan Tontowi/Liliyana memenuhi target meraih emas di Olimpiade London 2012.

Dikritik berbagai rupa dan bahkan sempat diperam di awal tahun 2013 dengan tidak dikirim ke Malaysia Super Series karena masalah indisipliner, Tontowi tidak melawan. Ia paham bahwa saat itu posisinya memang lemah dan apapun argumen yang dikelurkan, maka ia tetap dalam posisi yang salah. Ia baru benar ketika ia kembali berprestasi dan itulah yang telah ditekadkan Tontowi dalam hati.

Benar saja, selepas diperam Tontowi/Liliyana pun lapar gelar. All England, India Super Series, dan Singapura Super Series adalah tiga dari empat turnamen super series/premier yang dimenangi mereka. Hanya gelar Indonesia Terbuka saja yang lepas dari genggaman mereka.

Dengan performa apik sepanjang tahun  2013 berjalan dimana Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana menjadi peraih gelar super series terbanyak untuk masing-masing nomor, maka tak heran jika akhirnya mereka mampu meneruskan performa gemilang itu dan menjadi juara dunia.

Gelar juara dunia ini sudah cukup menjadi bukti bagi Ahsan dan Tontowi agar mereka tak lagi merasa minder berdiri berdampingan dengan Hendra dan Liliyana. Ahsan dan Tontowi sudah menjadi salah satu pemain terbaik di dekade ini dan jika mereka ingin meningkatkan status menjadi calon legenda, jelas mereka sudah paham benar apa yang harus dilakukan, yaitu dengan memenangi turnamen-turnamen besar di masa depan.

-Putra Permata Tegar Idaman-

Sabtu, 03 Agustus 2013

Banyak Pemburu, Banyak Medali



Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2013 telah ada di depan mata. Sebagai negara besar, Indonesia sudah hampa gelar di tiga penyelenggaraan terakhir dan jelas ini boleh jadi disebut sebagai bencana bagi Indonesia. Dengan demikian tidak salah jika akhirnya Indonesia menjadikan Kejuaraan Dunia kali ini sebagai salah satu target besar di tahun 2013.

Berbicara soal peluang mendapatkan titel juara, jelas di atas kertas Indonesia kini memiliki dua jagoan andalan lewat nama Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Dua andalan memang terlihat sedikit jika dibandingkan dengan gambaran peta kekuatan Indonesia di dekade sebelumnya, tapi dua andalan sudah seolah jauh lebih baik jika dihadapkan dengan perbandingan dua tahun terakhir dimana Tontowi/Liliyana selalu disebut-sebut sebagai satu-satunya andalan.

Memang pastinya membanggakan bagi Tontowi/Liliyana ketika nama mereka selalu diucapkan dan dielu-elukan sebagai andalan di setiap kesempatan. Namun di atas lapangan, kadang hal itu malah menjadi beban. Kegagalan Tontowi/Liliyana di Olimpiade London 2012 jelas salah satunya karena mereka tak mampu keluar dari tekanan berat sebagai satu-satunya andalan yang tersisa di ajang tersebut.

Karena itu kehadiran Ahsan/Hendra sungguh sangat melegakan bagi Tontowi/Liliyana dan juga Indonesia. Kini beban untuk menyabet titel juara setidaknya ada di pundak dua wakil ini yang tentunya menjadikan beban tersebut berubah lebih ringan.

Terlebih, baik Ahsan/Hendra maupun Tontowi/Liliyana saat ini dalam kondisi yang sangat baik. Keduanya sudah meraih tiga gelar super series/premier tahun, terbanyak di nomornya masing-masing. Tontowi/Liliyana jelas terbilang luar biasa konsisten tahun ini karena tiga gelar itu didapat dari tiga turnamen yang ia ikuti tahun ini. Gambaran inilah yang kemudian mengapungkan harapan akan berakhirnya dahaga gelar Indonesia yang sudah berlangsung selama tiga edisi Kejuaraan Dunia ini.

Bicara soal beban, hal ini sendiri tidak lepas dari karakteristik bulu tangkis di dunia saat ini. Meski turnamen Kejuaraan Dunia ini bersifat individu, namun aroma persaingan antar-negara terasa kental. Hal itu tak lepas dari sifat Asosiasi Tiap Negara yang tetap dominan dalam pembinaan pemain. Hal ini berbeda misalnya dengan permainan raket lainnya yaitu tenis dimana pemain lebih bersifat individualis dengan mayoritas menggunakan biaya sendiri untuk mengikuti turnamen, meski saat juara para pemain tetap mengharumkan nama negara tersebut. Sebagai contoh, di dunia tenis sendiri ajang beregu seperti Piala Davis dan Piala Fed seolah menjadi turnamen yang tak terlalu penting dan para pemainnya sering melewatkan panggilan dari Asosiasi Tenis Negaranya dengan berbagai alasan.

Dengan latar belakang itulah akhirnya wajar jika pemain terkadang terbebani di kondisi-kondisi tertentu dimana ia begitu diharapkan bisa menjadi juara. Hal ini tidak hanya dialami pemain Indonesia melainkan juga para pebulu tangkis dari negara lain. Lee Chong Wei jadi salah satu contohnya dimana ia juga diberikan tumpuan sangat besar dari negaranya untuk bisa jadi juara dunia dan juara Olimpiade yang sampai saat ini belum berhasil diwujudkannya.

Lalu bagaimana mengatasi hal itu? Asosiasi Bulu Tangkis dalam hal ini Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) harus bisa mencetak banyak andalan. Jika diibaratkan, semakin banyak pemburu yang bisa diandalkan, maka semakin besar peluang adanya medali di tangan.

Memiliki andalan di tiap nomor sudah merupakan kondisi ideal yang bisa didapat oleh sebuah negara dan itu dialami Indonesia di tahun 1990-an meskipun ketika itu nomor ganda putri posisinya agak sedikit di belakang empat nomor lainnya.

Mau yang lebih hebat lagi? Jelas caranya adalah dengan mencetak banyak andalan untuk tiap satu nomor. Nomor tunggal putra dan ganda putra di era 1990-an pun pernah mencontohkan hal ini. Ketika itu di nomor tunggal putra, adanya 4-6 pemain Indonesia di babak perempat final atau terciptanya All Indonesian Semifinal bukanlah hal asing. Kondisi itu akhirnya membuat para pemain bisa melupakan ‘beban mengharumkan negara’ karena mereka sudah fokus untuk bersaing melawan para rekan sendiri dan jadi yang terhebat.

Kondisi nikmat itu juga dialami Cina di nomor tunggal putri 1-2 tahun lalu. Wang Yihan tidak perlu repot-repot menanggung beban mengharumkan negara di tiap turnamen individu karena lawan-lawan yang dihadapinya di babak akhir adalah rekan-rekannya sendiri seperti Wang Xin, Wang Shixian, Wang Lin, Jiang Yanjiao, hingga Li Xuerui. Dirinya pun kemudian bisa fokus untuk kepentingannya sendiri, menjadi yang terbaik di antara lainnya.


Kembali ke Kejuaraan Dunia 2013, adanya dua wakil yang jadi andalan di atas kertas patut disyukuri. Semoga dua andalan ini mampu menunaikan tugasnya dan meraih medali emas di Kejuaraan Dunia nanti. Sambil berharap hal itu, mari terus berdoa agar pebulu tangkis lainnya di Indonesia terus terpacu meningkatkan diri agar bisa berdiri sejajar dan memikul beban bersama sebagai andalan dan tumpuan.

-Putra Permata Tegar Idaman-

Kamis, 25 Juli 2013

Cipayung Bukan ‘Dan Merekapun Hidup Bahagia Selamanya’



‘Dan Merekapun Hidup Bahagia Selamanya.’

Kalimat itu adalah kalimat pemungkas yang sering ada dalam cerita dan dongeng-dongeng zaman dulu. Dengan menggemanya kalimat itu, sebuah perjalanan panjang, perjuangan yang menyakitkan, berakhir dengan sebuah kebahagiaan yang terus dikenang.

Kalimat ini jelas diperuntukkan bagi mereka yang telah melewati tantangan dan mencapai tujuan besar dalam hidupnya. Dengan hal itu pula, maka pelatnas Cipayung bukanlah tempat dimana atlet bisa nyaman dalam bernaung dan berdiam. Kalimat ‘Dan Merekapun Hidup Bahagia Selamanya,’ tidaklah cocok dialamatkan kepada para penghuni Pelatnas Cipayung, tempat yang sejak tahun 1990-an menjadi kawah pembinaan para pebulu tangkis Indonesia.

Cipayung seharusnya bukan menjadi tempat yang ‘nyaman’ dan para penghuninya harus sadar benar akan hal itu. Posisi mereka sebagai anggota pelatnas Cipayung itu bukan merupakan sesuatu yang abadi, melainkan sesuatu yang dipertaruhkan oleh reputasi yang mereka miliki. Durasi mereka di pelatnas Cipayung itu bukan sebuah kepastian melainkan tergantung penampilan.

Karena itu, para penghuni pelatnas Cipayung sebaiknya membuang jauh-jauh rasa puas ketika mereka telah mendapatkan label sebagai pemain tim nasional dengan masuk sebagai anggota pelatnas Cipayung. Menjadi anggota pelatnas, sejatinya bukan hanya mendapat kehormatan sebagai calon pengharum nama bangsa. Menjadi anggota pelatnas, itu berarti sang pemain juga semakin dituntut profesionalisme mereka sebagai pemain bulu tangkis.

Di luar soal dan perihal mengharumkan nama bangsa, para atlet bulu tangkis pelatnas jelas tak ubahnya seperti pekerja profesional lainnya. Mereka dikontrak dengan besaran nominal yang sebanding dengan prestasi yang telah mereka raih. Semakin banyak deretan prestasi yang bisa mereka sebutkan, semakin banyak rupiah yang mereka dapatkan. Terlebih dengan sistem sponsor individu seperti saat ini, maka atlet bisa semakin memperkaya diri.

Jadi, jangan jadikan pelatnas tujuan akhir dalam karir mereka sebagai pebulu tangkis. Jangan merasa gembira berlebihan ketika menyandang status sebagai atlet pelatnas. Masuk pelatnas, itu bukan akhir dari tujuan melainkan setengah jalan menuju impian.

Mereka harus ingat berapa ratus orang atau bahkan mungkin ribu orang yang mereka sisihkan dalam perjuangan mereka mendapatkan tiket menuju Cipayung. Tiap tahunnya, Cipayung mungkin hanya menerima sekitar 20 anggota baru jadi yang ada di pelatnas ini memang orang-orang yang benar-benar telah melewati persaingan yang tak mudah.

Jadi, di tengah suasana keakraban dan penuh persahabatan yang ada di Cipayung, para pemain harus tetap sadar bahwa satu sama lain dari mereka adalah saingan. Mereka bisa bersahabat dengan saling memotivasi dengan tidak mau kalah satu sama lain.

Atlet adalah profesi yang paling riskan di Indonesia. Terkenal saja belum tentu hidup nyaman setelah pensiun, apalagi yang hanya kelas semenjana. Karena itu, para pemain sudah harus memiliki pola pikir untuk fokus sepenuhnya terhadap profesi ini dan bukan malah terlena di tengah jalan ketika status pemain pelatnas dalam genggaman.

Memang dengan tingkat kesejahteraan yang ada saat ini, para atlet level menengah di pelatnas bulu tangkis pun sudah bisa hidup dalam ukuran nyaman untuk tingkat orang Indonesia pada umumnya. Namun yang mesti diingat durasi usia atlet rata-rata mungkin hanya sekitar 10 tahun. Jika ia dinilai tak berkembang, ia bahkan bisa saja tak bertahan lama di Cipayung dan berkarir kurang dari kurun waktu tersebut.

Kerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki di hari-hari mereka sebagai anggota pelatnas, baik saat latihan maupun saat pertandingan, sehingga nantinya jika memang sang atlet harus keluar dan terdepak dari pelatnas, ia bisa keluar dengan kepala tegak karena sudah memberikan seluruh kemampuan yang ia punyai. Jangan sampai para atlet keluar dari pelatnas dengan diiringi ratapan dan penyesalan karena merasa tak optimal dalam keseharian atau merasa tak mengeluarkan kemampuan secara maksimal.


Kerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki di hari-hari mereka sebagai anggota pelatnas, baik saat latihan maupun saat pertandingan, karena bisa jadi itu adalah langkah-langkah kecil mereka yang diulang-ulang menuju prestasi-prestasi besar. Sehingga nantinya trofi-trofi dan medali-medali yang mereka raih sepanjang karir itu bisa menjadi juru bicara bagi sang pemilik yang telah gantung raket dengan berkata,’Dan Ia (mereka) hidup bahagia selamanya.’ Bukan di Cipayung, melainkan di kehidupan mereka seutuhnya sebagai seorang atlet.

-Putra Permata Tegar Idaman-

Rabu, 19 Juni 2013

Taufik Hidayat yang Tak Benar-benar Menghilang





Hal yang paling berharga di dunia ini adalah waktu karena begitu kita sudah memberikannya, maka kita tidak akan bisa memintanya kembali. Karena itu, penghargaan terbesar dari seseorang kepada kita pun adalah ketika seseorang memberikan waktunya untuk kita sebagai hal yang utama. 

Dan itulah yang sudah dilakukan oleh Taufik Hidayat untuk bangsa Indonesia. Sejak masuk ke pelatnas Cipayung pada tahun 1996, itu berarti Taufik sudah memberikan waktunya selama 17 tahun bagi bangsa Indonesia untuk berkiprah di dunia bulu tangkis.  Bukan hanya sekedar kuantitas, tapi waktu yang diberikan Taufik bagi bulu tangkis dan bangsa ini adalah waktu yang benar-benar berkualitas. Torehan gelar demi gelar juara telah berkali-kali dia ukir, mulai dari ajang individu, beregu, hingga multi event. Bahkan Taufik sendiri sukses melengkapi medali emasnya di tiga tingkatan ajang multi event, mulai dari SEA Games (2x emas), Asian Games (2x emas), hingga Olimpiade.

Karena berbagai torehan prestasi itu, maka Taufik pun menjadi atlet papan atas di Indonesia. Salah satu tanda bahwa Taufik benar-benar terkenal di mata publik adalah ketika seseorang yang tak mengikuti perkembangan bulu tangkis, namun ia tahu siapa itu Taufik. Setiap nama Taufik Hidayat muncul ke permukaan, maka akan langsung diasosiasikan pada nama Taufik sang pebulu tangkis meski mungkin masih banyak pengguna nama tersebut di Tanah Air ini.

Pun dengan refleks dan kelenturan pergelangan tangannya yang dulu begitu cepat sehingga mampu melakukan pukulan-pukulan luar biasa. "Pukulan setan" kata sebagian pengamat. Di situs youtube hingga kini masih ada rekaman bagaimana Taufik di masa jayanya, bisa membuat pukulan backhand-nya secepat dan sekeras pukulan forehand. 

Namun, sehebat apapun, Taufik tetap tak akan mampu melawan usia. Gerakannya yang dulu lincah didukung footwork yang luar biasa di atas lapangan kini mulai melamban. Staminanya yang prima pun mulai digerogoti oleh umurnya yang semakin tua. Tubuhnya pun tak seprima dulu kala begitupun dengan gerakan pergelangan tangannya yang selama ini menunjangnya untuk melakukan pukulan-pukulan luar biasa.

Alhasil, Taufik pun merencanakan pensiun sejak setahun lalu. Turnamen Indonesia Terbuka, turnamen yang sudah enam kali dimenanginya, dipilih sebagai turnamen pamungkas perjalanan karirnya sebagai seorang atlet.

Dalam acara perpisahannya dengan publik Indonesia di Istora, Minggu, 16 Juni, Taufik mampu membendung air mata yang akan keluar dari bola matanya meski itu mungkin air mata perpaduan perasaannya. Air mata kesedihan karena akan meninggalkan profesinya sebagai atlet bulu tangkis yang begitu ia cintai, dan air mata bahagia karena fakta yang ada menunjukkan bahwa Taufik begitu dikagumi oleh publik Indonesia. Riuh tepuk tangan di sela-sela ratusan wajah yang termenung mendengarkan kata-kata perpisahan dari Taufik membuat atmosfer Istora saat itu terasa mengharukan.

Rasanya tak seorang pun ingin berdebat tentang apakah Taufik begitu digemari dan dicintai sebagai seorang pebulu tangkis. Karena memang fakta yang ada demikian. Mulai dari penggemar, rekan setim (sepelatnas), hingga lawan semua menaruh respek kepada pria berusia 31 tahun ini. Semua benar-benar merasa kehilangan dengan keputusan Taufik untuk gantung raket meskipun keputusan ini bukanlah keputusan mendadak lantaran sudah sejak jauh-jauh hari.

Sejatinya Taufik sendiri tidak akan benar-benar menghilang dari dunia bulu tangkis. Taufik pensiun sebagai atlet adalah fakta dan kebenaran, namun Taufik tidak akan meninggalkan dunia bulu tangkis, dan itu pun sebuah jaminan yang datangnya dari mulut Taufik sendiri.

Sejak tahun 2010, Taufik sudah mulai melakukan pembangunan Taufik Hidayat Arena (THA) yang kini bangunannya telah berdiri kokoh di timur Jakarta, tepatnya di daerah Ciracas. Dalam gedung inilah nantinya Taufik akan ikut membina para bibit-bibit muda meskipun bukan sebagai pelatih karena sejauh ini dia belum berminat untuk duduk di posisi itu.

Namun setidaknya hal ini cukup melegakan bagi yang mencintai Taufik. Juara dunia 2005 itu tak akan pernah benar-benar menghilang dari dunia bulu tangkis. Taufik dan bulu tangkis adalah relasi yang abadi, relasi selama hayat dikandung badan.

Salah satu alasan Taufik bisa mengukir prestasi-prestasi besar sepanjang karirya adalah motivasinya untuk berprestasi yang terbilang tinggi. Nah, hal inilah yang mungkin akan mendorong Taufik melakukan hal-hal besar selepas ia tak lagi menjadi atlet. Taufik selalu berkata bahwa perhatian pemerintah terhadap atlet sangat minim dan bukan tidak mungkin hal itu akan sangat menarik untuk diperjuangkan oleh Taufik nantinya dengan masuk struktur organisasi PBSI, Pemerintah, atau cara lainnya. 

 Taufik memang pergi dari lapangan bulu tangkis, namun Taufik tak akan pernah pergi dari dunia bulu tangkis. Waktu Taufik masih akan ada untuk bulu tangkis dan publik Indonesia pun tetap siap dan antusias menanti torehan besar Taufik di luar lapangan setelah ini.

-Putra Permata Tegar Idaman-

Rabu, 22 Mei 2013

‘Shuttlecock itu (Mudah-mudahan Juga) Bundar’




Tak ada sesuatu yang pasti di dunia ini, termasuk dalam hal dunia olahraga. Semua kemungkinan masih bisa terjadi dalam sebuah pertandingan, tak terhitung seberapa besarnya beda kekuatan kedua tim di atas kertas.
Banyak contoh hebat di dunia olahraga semisal keberhasilan Liverpool mengalahkan A.C Milan di Final Liga Champions 2005 meski di babak pertama sudah tertinggal 0-3, atau saat Detroit Pistons menaklukkan Los Angeles Lakers di final NBA 2004. Tak perlu banyak disebutkan, sudah banyak contoh olahraga permainan yang diliputi keajaiban sehingga banyak orang berkata bahwa bola itu bundar.

Lalu bagaimana dengan bulu tangkis? Bulu tangkis merupakan olahraga permainan namun shuttlecock yang digunakan sebagai tidaklah bundar. Apakah dengan begitu tidak ada keajaiban?

Berbicara bulu tangkis, dalam hal ini dibatasi pada ranah kejuaraan beregu seperti Piala Thomas, Uber, dan Sudirman, memang sedikit berbeda dibandingkan olahraga permainan lainnya macam sepak bola, bola basket, atau bola voli.

Di tiga olahraga tersebut, semua komponen dalam tim bersatu dan bermain bersama. Misal dalam sepak bola tim lemah memilih strategi menumpuk banyak pemain di pertahanan dan mengandalkan serangan balik. Hal itu berbeda dengan bulu tangkis dimana tiap pemain tetaplah bermain sendiri-sendiri menghadapi lawan masing-masing.

Namun bukan berarti karakteristik seperti itu tidak berpotensi menghadirkan kejutan. Kesuksesan Indonesia di Piala Sudirman 1989 dan kegagalan Indonesia di Piala Sudirman 1995 sudah membuktikannya. Indonesia berstatus underdog di helatan perdana Piala Sudirman namun malah keluar sebagai juara. Sedangkan pada tahun 1995, Indonesia justru harus gigit jari di final padahal memiliki empat pemain yang berstatus sebagai pemain nomor satu dunia ketika itu. Final Piala Uber 2010 di Kuala Lumpur pun menjadi salah satu bukti adanya keajaiban dalam dunia bulu tangkis ini dimana pasukan putri Korea mampu menaklukkan tim Cina yang saat itu bisa dibilang sangat superior.

Menurut keterangan dari beberapa mantan pemain, salah satu sebab munculnya kejutan dalam pertandingan beregu adalah ketidaksiapan mental sebuah tim. Satu kekalahan yang dialami oleh seorang pemain bisa berpengaruh kepada rekan-rekannya. Satu kemenangan yang dicetak seorang pemain bisa membangkitkan semangat teman-temannya yang lain.

Karena itu tak ada alasan bagi Indonesia untuk menyerah dan mengaku kalah sebelum bertanding menghadapi Cina.  Pasukan Negeri Tirai Bambu untuk memang terbilang komplet di atas kertas dengan adanya empat juara Olimpiade dalam tim Cina yaitu Li Xuerui, Cai Yun/Fu Haifeng, Qing Tian/Zhao Yunlei, dan Zhang Nan/Zhao Yunlei. Belum lagi deretan pemain bintang lainnya macam Wang Yihan dan Wang Xiaoli/Yu Yang.

Namun, mereka juga manusia biasa yang bisa merasakan ketegangan dan kegugupan. Maka, jika Indonesia bisa memberikan kejutan di awal duel, maka bisa saja angin kemenangan berubah ke arah Indonesia.
Seperti kata Franz Beckenbauer, legenda sepak bola Jerman bahwa, “yang kuat bukanlah yang menang, tapi yang menang lah yang kuat.” Mana yang lebih kuat baru bisa diketahui saat pertandingan berakhir, bukan saat pertandingan akan dimulai atau saat pertandingan sedang berlangsung.

Rabu, 17 April 2013

Dari Axiata Cup ke Piala Sudirman



Piala Axiata 2013 telah usai dengan hasil Indonesia terhenti di babak semifinal dan harus puas menempati posisi keempat. Memang, hasil di Piala Axiata tidak bisa dijadikan cermin bahwa kegagalan serupa bakal menimpa Indonesia di ajang Piala Sudirman 2013 nanti, namun setidaknya kekalahan di Piala Axiata 2013 bisa jadi alarm pengingat bahwa persaingan bulu tangkis dunia sudah semakin merata sehingga bukan hanya saja Cina dan Korea yang mesti diwaspadai, melainkan juga negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia.

Perbedaan mencolok terlihat di performa tim Indonesia saat menghadapi babak penyisihan dan saat berlaga di babak semifinal menghadapi Thailand. Selain lantaran saat di babak penyisihan pertandingan berlangsung di Indonesia, faktor lain adalah faktor tekanan yang ada pada bobot pertandingan itu sendiri.

Saat babak penyisihan, perihal menang-kalah tidak terlalu menjadi masalah karena akan ada empat tim yang lolos ke babak semifinal dan posisi Indonesia saat itu terbilang sangat baik. Berbeda dengan saat kembali berjumpa di babak semifinal dimana itu merupakan partai hidup-mati. Menang berarti maju sementara kalah berarti tersingkir.

Dan menghadapi beban itu, pemain Indonesia belum bisa menjawabnya dengan baik. Linda Wenifanetri gagal memberi kejutan sedangkan performa Tommy Sugiarto berbalik 180 derajat saat berjumpa di babak penyisihan. Tontowi Ahmad/Liliyana yang menanggung beban harus menang straight game menghadapi Sudket Prapakamol/Saralee Thounthongkam pun tak mampu mewujudkannya dan akhirnya memastikan kekalahan Indonesia dari Thailand.

Terluka saat ini mungkin memang menjadi pilihan yang lebih bagus bagi Indonesia dibandingkan berjaya dan bergembira. Dengan kalah di Axiata, maka para pemain Indonesia menjadi lebih waspada dan tidak merasa jemawa. Mereka sadar bahwa mereka masih memiliki banyak kekurangan yang mesti diperbaiki di waktu yang tersisa.

Meski demikian kekalahan ini sendiri juga bisa menjadi cerminan bahwa Indonesia memang benar-benar butuh perjuangan ekstra keras andai ingin mewujudkan target juara Piala Sudirman 2013 menjadi nyata. Pasalnya, dari segi historis sendiri, Indonesia tak begitu akrab dengan turnamen yang namanya diambil dari nama Dick Sudirman, tokoh bulu tangkis Indonesia, ini.

Setelah menjadi juara di edisi perdana tahun 1989, Indonesia selalu gagal mengulangi torehan terbaik itu di tiap kesempatan berikutnya. Bahkan saat generasi pemain bulu tangkis Indonesia disebut generasi emas di era 1990-an, Indonesia selalu gagal.

Salah satu alasannya adalah karakteristik dari turnamen Piala Sudirman itu sendiri. Jika Piala Thomas dan Uber yang dibutuhkan adalah kedalaman tim alias lebih banyaknya pemain hebat dalam satu nomor, maka tidak demikian halnya dengan Piala Sudirman yang lebih condong pada pemerataan kekuatan tiap nomor dimana bisa jadi cukup satu wakil terkuat saja di tiap nomor, maka negara itu sudah bisa menjadi hebat.

Di Piala Thomas maupun Uber, suatu negara boleh saja kalah superior dari segi tunggal putra/putri pertama, namun jika tim mereka lebih dalam, maka mereka bisa lebih baik di nomor tunggal putra/putri kedua dan ketiga, pun begitu halnya dengan nomor ganda.

Hal itulah yang akhirnya membuat Indonesia, menurut penulis,  yang sukses merebut Piala  Thomas dan Uber di era 90-an, selalu gagal menggenggam Piala Sudirman karena persaingan di Piala Sudirman lebih ketat lantaran tiap negara yang hadir pasti akan mengajukan pemain terbaik di lima nomor yang ada.

Namun dengan kondisi bulu tangkis saat ini dimana tidak banyak pemain hebat yang dimiliki Indonesia, maka format Piala Sudirman lebih memberikan peluang untuk berprestasi dibandingkan format Piala Thomas atau Piala Uber.

Pasalnya, Indonesia ‘cukup’ memiliki lima pemain terbaik, yang tersebar di tiap nomor untuk bisa terus berbicara banyak di ajang ini. Sementara sebagai perbandingan, Cina yang memiliki Li Xuerui, Wang Yihan, Jiang Yanjiao di tunggal putri pun hanya bisa menurunkan seorang saja di tiap pertandingan, pun begitu halnya di nomor tunggal putra dimana Cina memiliki Lin Dan dan Chen Long.

Meski begitu, Indonesia tetap berada dalam posisi underdog alias tak diunggulkan dalam turnamen kali ini. Gambaran kasar di atas kertas, nomor tunggal putri dan nomor ganda putri kembali menjadi titik lemah bagi Indonesia karena dianggap tak bisa bersaing dengan negara lainnya.

Dengan asumsi demikian, maka pola (di atas kertas) jika Indonesia ingin memenangkan sebuah pertandingan adalah dengan mengamankan nomor ganda putra dan nomor ganda campuran, serta berharap nomor tunggal putra bisa ikut menyumbang poin dan nomor tunggal putri dan nomor ganda putri bisa memberikan kejutan andai salah satu dari tiga nomor yang disebut lebih dulu gagal melaksanakan misi tersebut.

Pemetaan kekuatan Indonesia itu sendiri masih harus melihat format pertandingan yang digunakan di Piala Sudirman. Dengan format normal, alias tak ada pemain yang rangkap, maka format pertandingan yang digelar adalah ganda putra, tunggal putri, tunggal putra, ganda putri, dan ganda campuran.

Format ini sendiri terbilang sedikit tidak menguntungkan bagi Indonesia yang pastinya berharap nomor ganda campuran bisa selalu menyumbang angka di tiap pertandingan. Pasalnya, bisa jadi pertandingan malah tak berlanjut ke partai kelima atau sudah tak lagi menentukan di partai kelima karena Indonesia sudah kehilangan tiga partai sebelumnya.

Satu hal yang mungkin bisa dicoba Indonesia nantinya adalah dengan turut memainkan pemain nomor ganda campuran di nomor ganda putri. Semisal Liliyana Natsir bermain di nomor ganda campuran dan ganda putri, maka otomatis nomor ganda campuran akan dimainkan di partai pertama kemudian berurutan nomor tunggal putra, nomor tunggal putri, dan nomor ganda putri.

Dengan demikian, maka harapannya adalah nomor ganda campuran bisa selalu berhasil memberikan poin pembuka bagi Indonesia dan membakar semangat para pemain lainnya yang akan turun setelah itu. Bagaimanapun, turnamen beregu berbeda dengan perorangan dimana tekanan partai sebelumnya akan berada pada pundak pemain yang tampil setelahnya.

Tetapi strategi ini sendiri mengandung resiko mengingat itu berarti sang pemain putri dari nomor ganda campuran akan bermain di dua partai dan bila pertarungan berlanjut ke partai kelima, maka otomatis kondisi pemain putri ganda campuran tersebut tak seratus persen bugar. Bagaimanapun, setiap strategi pastilah memiliki keuntungan dan kerugian di dalamnya.

Namun semua itu hanyalah perumpaan di atas kertas. Nomor ganda campuran, ganda putra, dan tunggal putra tak boleh merasa terbebani sementara nomor tunggal putri dan ganda putri pun tak boleh lantas menjadi kehilangan kepercayaan diri. Lakukan yang terbaik karena siapa tahu memang Piala Sudirman sudah menanti untuk dijemput pulang.

-Putra Permata Tegar Idaman-