Kamis, 25 Juli 2013

Cipayung Bukan ‘Dan Merekapun Hidup Bahagia Selamanya’



‘Dan Merekapun Hidup Bahagia Selamanya.’

Kalimat itu adalah kalimat pemungkas yang sering ada dalam cerita dan dongeng-dongeng zaman dulu. Dengan menggemanya kalimat itu, sebuah perjalanan panjang, perjuangan yang menyakitkan, berakhir dengan sebuah kebahagiaan yang terus dikenang.

Kalimat ini jelas diperuntukkan bagi mereka yang telah melewati tantangan dan mencapai tujuan besar dalam hidupnya. Dengan hal itu pula, maka pelatnas Cipayung bukanlah tempat dimana atlet bisa nyaman dalam bernaung dan berdiam. Kalimat ‘Dan Merekapun Hidup Bahagia Selamanya,’ tidaklah cocok dialamatkan kepada para penghuni Pelatnas Cipayung, tempat yang sejak tahun 1990-an menjadi kawah pembinaan para pebulu tangkis Indonesia.

Cipayung seharusnya bukan menjadi tempat yang ‘nyaman’ dan para penghuninya harus sadar benar akan hal itu. Posisi mereka sebagai anggota pelatnas Cipayung itu bukan merupakan sesuatu yang abadi, melainkan sesuatu yang dipertaruhkan oleh reputasi yang mereka miliki. Durasi mereka di pelatnas Cipayung itu bukan sebuah kepastian melainkan tergantung penampilan.

Karena itu, para penghuni pelatnas Cipayung sebaiknya membuang jauh-jauh rasa puas ketika mereka telah mendapatkan label sebagai pemain tim nasional dengan masuk sebagai anggota pelatnas Cipayung. Menjadi anggota pelatnas, sejatinya bukan hanya mendapat kehormatan sebagai calon pengharum nama bangsa. Menjadi anggota pelatnas, itu berarti sang pemain juga semakin dituntut profesionalisme mereka sebagai pemain bulu tangkis.

Di luar soal dan perihal mengharumkan nama bangsa, para atlet bulu tangkis pelatnas jelas tak ubahnya seperti pekerja profesional lainnya. Mereka dikontrak dengan besaran nominal yang sebanding dengan prestasi yang telah mereka raih. Semakin banyak deretan prestasi yang bisa mereka sebutkan, semakin banyak rupiah yang mereka dapatkan. Terlebih dengan sistem sponsor individu seperti saat ini, maka atlet bisa semakin memperkaya diri.

Jadi, jangan jadikan pelatnas tujuan akhir dalam karir mereka sebagai pebulu tangkis. Jangan merasa gembira berlebihan ketika menyandang status sebagai atlet pelatnas. Masuk pelatnas, itu bukan akhir dari tujuan melainkan setengah jalan menuju impian.

Mereka harus ingat berapa ratus orang atau bahkan mungkin ribu orang yang mereka sisihkan dalam perjuangan mereka mendapatkan tiket menuju Cipayung. Tiap tahunnya, Cipayung mungkin hanya menerima sekitar 20 anggota baru jadi yang ada di pelatnas ini memang orang-orang yang benar-benar telah melewati persaingan yang tak mudah.

Jadi, di tengah suasana keakraban dan penuh persahabatan yang ada di Cipayung, para pemain harus tetap sadar bahwa satu sama lain dari mereka adalah saingan. Mereka bisa bersahabat dengan saling memotivasi dengan tidak mau kalah satu sama lain.

Atlet adalah profesi yang paling riskan di Indonesia. Terkenal saja belum tentu hidup nyaman setelah pensiun, apalagi yang hanya kelas semenjana. Karena itu, para pemain sudah harus memiliki pola pikir untuk fokus sepenuhnya terhadap profesi ini dan bukan malah terlena di tengah jalan ketika status pemain pelatnas dalam genggaman.

Memang dengan tingkat kesejahteraan yang ada saat ini, para atlet level menengah di pelatnas bulu tangkis pun sudah bisa hidup dalam ukuran nyaman untuk tingkat orang Indonesia pada umumnya. Namun yang mesti diingat durasi usia atlet rata-rata mungkin hanya sekitar 10 tahun. Jika ia dinilai tak berkembang, ia bahkan bisa saja tak bertahan lama di Cipayung dan berkarir kurang dari kurun waktu tersebut.

Kerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki di hari-hari mereka sebagai anggota pelatnas, baik saat latihan maupun saat pertandingan, sehingga nantinya jika memang sang atlet harus keluar dan terdepak dari pelatnas, ia bisa keluar dengan kepala tegak karena sudah memberikan seluruh kemampuan yang ia punyai. Jangan sampai para atlet keluar dari pelatnas dengan diiringi ratapan dan penyesalan karena merasa tak optimal dalam keseharian atau merasa tak mengeluarkan kemampuan secara maksimal.


Kerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki di hari-hari mereka sebagai anggota pelatnas, baik saat latihan maupun saat pertandingan, karena bisa jadi itu adalah langkah-langkah kecil mereka yang diulang-ulang menuju prestasi-prestasi besar. Sehingga nantinya trofi-trofi dan medali-medali yang mereka raih sepanjang karir itu bisa menjadi juru bicara bagi sang pemilik yang telah gantung raket dengan berkata,’Dan Ia (mereka) hidup bahagia selamanya.’ Bukan di Cipayung, melainkan di kehidupan mereka seutuhnya sebagai seorang atlet.

-Putra Permata Tegar Idaman-

Rabu, 19 Juni 2013

Taufik Hidayat yang Tak Benar-benar Menghilang





Hal yang paling berharga di dunia ini adalah waktu karena begitu kita sudah memberikannya, maka kita tidak akan bisa memintanya kembali. Karena itu, penghargaan terbesar dari seseorang kepada kita pun adalah ketika seseorang memberikan waktunya untuk kita sebagai hal yang utama. 

Dan itulah yang sudah dilakukan oleh Taufik Hidayat untuk bangsa Indonesia. Sejak masuk ke pelatnas Cipayung pada tahun 1996, itu berarti Taufik sudah memberikan waktunya selama 17 tahun bagi bangsa Indonesia untuk berkiprah di dunia bulu tangkis.  Bukan hanya sekedar kuantitas, tapi waktu yang diberikan Taufik bagi bulu tangkis dan bangsa ini adalah waktu yang benar-benar berkualitas. Torehan gelar demi gelar juara telah berkali-kali dia ukir, mulai dari ajang individu, beregu, hingga multi event. Bahkan Taufik sendiri sukses melengkapi medali emasnya di tiga tingkatan ajang multi event, mulai dari SEA Games (2x emas), Asian Games (2x emas), hingga Olimpiade.

Karena berbagai torehan prestasi itu, maka Taufik pun menjadi atlet papan atas di Indonesia. Salah satu tanda bahwa Taufik benar-benar terkenal di mata publik adalah ketika seseorang yang tak mengikuti perkembangan bulu tangkis, namun ia tahu siapa itu Taufik. Setiap nama Taufik Hidayat muncul ke permukaan, maka akan langsung diasosiasikan pada nama Taufik sang pebulu tangkis meski mungkin masih banyak pengguna nama tersebut di Tanah Air ini.

Pun dengan refleks dan kelenturan pergelangan tangannya yang dulu begitu cepat sehingga mampu melakukan pukulan-pukulan luar biasa. "Pukulan setan" kata sebagian pengamat. Di situs youtube hingga kini masih ada rekaman bagaimana Taufik di masa jayanya, bisa membuat pukulan backhand-nya secepat dan sekeras pukulan forehand. 

Namun, sehebat apapun, Taufik tetap tak akan mampu melawan usia. Gerakannya yang dulu lincah didukung footwork yang luar biasa di atas lapangan kini mulai melamban. Staminanya yang prima pun mulai digerogoti oleh umurnya yang semakin tua. Tubuhnya pun tak seprima dulu kala begitupun dengan gerakan pergelangan tangannya yang selama ini menunjangnya untuk melakukan pukulan-pukulan luar biasa.

Alhasil, Taufik pun merencanakan pensiun sejak setahun lalu. Turnamen Indonesia Terbuka, turnamen yang sudah enam kali dimenanginya, dipilih sebagai turnamen pamungkas perjalanan karirnya sebagai seorang atlet.

Dalam acara perpisahannya dengan publik Indonesia di Istora, Minggu, 16 Juni, Taufik mampu membendung air mata yang akan keluar dari bola matanya meski itu mungkin air mata perpaduan perasaannya. Air mata kesedihan karena akan meninggalkan profesinya sebagai atlet bulu tangkis yang begitu ia cintai, dan air mata bahagia karena fakta yang ada menunjukkan bahwa Taufik begitu dikagumi oleh publik Indonesia. Riuh tepuk tangan di sela-sela ratusan wajah yang termenung mendengarkan kata-kata perpisahan dari Taufik membuat atmosfer Istora saat itu terasa mengharukan.

Rasanya tak seorang pun ingin berdebat tentang apakah Taufik begitu digemari dan dicintai sebagai seorang pebulu tangkis. Karena memang fakta yang ada demikian. Mulai dari penggemar, rekan setim (sepelatnas), hingga lawan semua menaruh respek kepada pria berusia 31 tahun ini. Semua benar-benar merasa kehilangan dengan keputusan Taufik untuk gantung raket meskipun keputusan ini bukanlah keputusan mendadak lantaran sudah sejak jauh-jauh hari.

Sejatinya Taufik sendiri tidak akan benar-benar menghilang dari dunia bulu tangkis. Taufik pensiun sebagai atlet adalah fakta dan kebenaran, namun Taufik tidak akan meninggalkan dunia bulu tangkis, dan itu pun sebuah jaminan yang datangnya dari mulut Taufik sendiri.

Sejak tahun 2010, Taufik sudah mulai melakukan pembangunan Taufik Hidayat Arena (THA) yang kini bangunannya telah berdiri kokoh di timur Jakarta, tepatnya di daerah Ciracas. Dalam gedung inilah nantinya Taufik akan ikut membina para bibit-bibit muda meskipun bukan sebagai pelatih karena sejauh ini dia belum berminat untuk duduk di posisi itu.

Namun setidaknya hal ini cukup melegakan bagi yang mencintai Taufik. Juara dunia 2005 itu tak akan pernah benar-benar menghilang dari dunia bulu tangkis. Taufik dan bulu tangkis adalah relasi yang abadi, relasi selama hayat dikandung badan.

Salah satu alasan Taufik bisa mengukir prestasi-prestasi besar sepanjang karirya adalah motivasinya untuk berprestasi yang terbilang tinggi. Nah, hal inilah yang mungkin akan mendorong Taufik melakukan hal-hal besar selepas ia tak lagi menjadi atlet. Taufik selalu berkata bahwa perhatian pemerintah terhadap atlet sangat minim dan bukan tidak mungkin hal itu akan sangat menarik untuk diperjuangkan oleh Taufik nantinya dengan masuk struktur organisasi PBSI, Pemerintah, atau cara lainnya. 

 Taufik memang pergi dari lapangan bulu tangkis, namun Taufik tak akan pernah pergi dari dunia bulu tangkis. Waktu Taufik masih akan ada untuk bulu tangkis dan publik Indonesia pun tetap siap dan antusias menanti torehan besar Taufik di luar lapangan setelah ini.

-Putra Permata Tegar Idaman-

Rabu, 22 Mei 2013

‘Shuttlecock itu (Mudah-mudahan Juga) Bundar’




Tak ada sesuatu yang pasti di dunia ini, termasuk dalam hal dunia olahraga. Semua kemungkinan masih bisa terjadi dalam sebuah pertandingan, tak terhitung seberapa besarnya beda kekuatan kedua tim di atas kertas.
Banyak contoh hebat di dunia olahraga semisal keberhasilan Liverpool mengalahkan A.C Milan di Final Liga Champions 2005 meski di babak pertama sudah tertinggal 0-3, atau saat Detroit Pistons menaklukkan Los Angeles Lakers di final NBA 2004. Tak perlu banyak disebutkan, sudah banyak contoh olahraga permainan yang diliputi keajaiban sehingga banyak orang berkata bahwa bola itu bundar.

Lalu bagaimana dengan bulu tangkis? Bulu tangkis merupakan olahraga permainan namun shuttlecock yang digunakan sebagai tidaklah bundar. Apakah dengan begitu tidak ada keajaiban?

Berbicara bulu tangkis, dalam hal ini dibatasi pada ranah kejuaraan beregu seperti Piala Thomas, Uber, dan Sudirman, memang sedikit berbeda dibandingkan olahraga permainan lainnya macam sepak bola, bola basket, atau bola voli.

Di tiga olahraga tersebut, semua komponen dalam tim bersatu dan bermain bersama. Misal dalam sepak bola tim lemah memilih strategi menumpuk banyak pemain di pertahanan dan mengandalkan serangan balik. Hal itu berbeda dengan bulu tangkis dimana tiap pemain tetaplah bermain sendiri-sendiri menghadapi lawan masing-masing.

Namun bukan berarti karakteristik seperti itu tidak berpotensi menghadirkan kejutan. Kesuksesan Indonesia di Piala Sudirman 1989 dan kegagalan Indonesia di Piala Sudirman 1995 sudah membuktikannya. Indonesia berstatus underdog di helatan perdana Piala Sudirman namun malah keluar sebagai juara. Sedangkan pada tahun 1995, Indonesia justru harus gigit jari di final padahal memiliki empat pemain yang berstatus sebagai pemain nomor satu dunia ketika itu. Final Piala Uber 2010 di Kuala Lumpur pun menjadi salah satu bukti adanya keajaiban dalam dunia bulu tangkis ini dimana pasukan putri Korea mampu menaklukkan tim Cina yang saat itu bisa dibilang sangat superior.

Menurut keterangan dari beberapa mantan pemain, salah satu sebab munculnya kejutan dalam pertandingan beregu adalah ketidaksiapan mental sebuah tim. Satu kekalahan yang dialami oleh seorang pemain bisa berpengaruh kepada rekan-rekannya. Satu kemenangan yang dicetak seorang pemain bisa membangkitkan semangat teman-temannya yang lain.

Karena itu tak ada alasan bagi Indonesia untuk menyerah dan mengaku kalah sebelum bertanding menghadapi Cina.  Pasukan Negeri Tirai Bambu untuk memang terbilang komplet di atas kertas dengan adanya empat juara Olimpiade dalam tim Cina yaitu Li Xuerui, Cai Yun/Fu Haifeng, Qing Tian/Zhao Yunlei, dan Zhang Nan/Zhao Yunlei. Belum lagi deretan pemain bintang lainnya macam Wang Yihan dan Wang Xiaoli/Yu Yang.

Namun, mereka juga manusia biasa yang bisa merasakan ketegangan dan kegugupan. Maka, jika Indonesia bisa memberikan kejutan di awal duel, maka bisa saja angin kemenangan berubah ke arah Indonesia.
Seperti kata Franz Beckenbauer, legenda sepak bola Jerman bahwa, “yang kuat bukanlah yang menang, tapi yang menang lah yang kuat.” Mana yang lebih kuat baru bisa diketahui saat pertandingan berakhir, bukan saat pertandingan akan dimulai atau saat pertandingan sedang berlangsung.

Rabu, 17 April 2013

Dari Axiata Cup ke Piala Sudirman



Piala Axiata 2013 telah usai dengan hasil Indonesia terhenti di babak semifinal dan harus puas menempati posisi keempat. Memang, hasil di Piala Axiata tidak bisa dijadikan cermin bahwa kegagalan serupa bakal menimpa Indonesia di ajang Piala Sudirman 2013 nanti, namun setidaknya kekalahan di Piala Axiata 2013 bisa jadi alarm pengingat bahwa persaingan bulu tangkis dunia sudah semakin merata sehingga bukan hanya saja Cina dan Korea yang mesti diwaspadai, melainkan juga negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia.

Perbedaan mencolok terlihat di performa tim Indonesia saat menghadapi babak penyisihan dan saat berlaga di babak semifinal menghadapi Thailand. Selain lantaran saat di babak penyisihan pertandingan berlangsung di Indonesia, faktor lain adalah faktor tekanan yang ada pada bobot pertandingan itu sendiri.

Saat babak penyisihan, perihal menang-kalah tidak terlalu menjadi masalah karena akan ada empat tim yang lolos ke babak semifinal dan posisi Indonesia saat itu terbilang sangat baik. Berbeda dengan saat kembali berjumpa di babak semifinal dimana itu merupakan partai hidup-mati. Menang berarti maju sementara kalah berarti tersingkir.

Dan menghadapi beban itu, pemain Indonesia belum bisa menjawabnya dengan baik. Linda Wenifanetri gagal memberi kejutan sedangkan performa Tommy Sugiarto berbalik 180 derajat saat berjumpa di babak penyisihan. Tontowi Ahmad/Liliyana yang menanggung beban harus menang straight game menghadapi Sudket Prapakamol/Saralee Thounthongkam pun tak mampu mewujudkannya dan akhirnya memastikan kekalahan Indonesia dari Thailand.

Terluka saat ini mungkin memang menjadi pilihan yang lebih bagus bagi Indonesia dibandingkan berjaya dan bergembira. Dengan kalah di Axiata, maka para pemain Indonesia menjadi lebih waspada dan tidak merasa jemawa. Mereka sadar bahwa mereka masih memiliki banyak kekurangan yang mesti diperbaiki di waktu yang tersisa.

Meski demikian kekalahan ini sendiri juga bisa menjadi cerminan bahwa Indonesia memang benar-benar butuh perjuangan ekstra keras andai ingin mewujudkan target juara Piala Sudirman 2013 menjadi nyata. Pasalnya, dari segi historis sendiri, Indonesia tak begitu akrab dengan turnamen yang namanya diambil dari nama Dick Sudirman, tokoh bulu tangkis Indonesia, ini.

Setelah menjadi juara di edisi perdana tahun 1989, Indonesia selalu gagal mengulangi torehan terbaik itu di tiap kesempatan berikutnya. Bahkan saat generasi pemain bulu tangkis Indonesia disebut generasi emas di era 1990-an, Indonesia selalu gagal.

Salah satu alasannya adalah karakteristik dari turnamen Piala Sudirman itu sendiri. Jika Piala Thomas dan Uber yang dibutuhkan adalah kedalaman tim alias lebih banyaknya pemain hebat dalam satu nomor, maka tidak demikian halnya dengan Piala Sudirman yang lebih condong pada pemerataan kekuatan tiap nomor dimana bisa jadi cukup satu wakil terkuat saja di tiap nomor, maka negara itu sudah bisa menjadi hebat.

Di Piala Thomas maupun Uber, suatu negara boleh saja kalah superior dari segi tunggal putra/putri pertama, namun jika tim mereka lebih dalam, maka mereka bisa lebih baik di nomor tunggal putra/putri kedua dan ketiga, pun begitu halnya dengan nomor ganda.

Hal itulah yang akhirnya membuat Indonesia, menurut penulis,  yang sukses merebut Piala  Thomas dan Uber di era 90-an, selalu gagal menggenggam Piala Sudirman karena persaingan di Piala Sudirman lebih ketat lantaran tiap negara yang hadir pasti akan mengajukan pemain terbaik di lima nomor yang ada.

Namun dengan kondisi bulu tangkis saat ini dimana tidak banyak pemain hebat yang dimiliki Indonesia, maka format Piala Sudirman lebih memberikan peluang untuk berprestasi dibandingkan format Piala Thomas atau Piala Uber.

Pasalnya, Indonesia ‘cukup’ memiliki lima pemain terbaik, yang tersebar di tiap nomor untuk bisa terus berbicara banyak di ajang ini. Sementara sebagai perbandingan, Cina yang memiliki Li Xuerui, Wang Yihan, Jiang Yanjiao di tunggal putri pun hanya bisa menurunkan seorang saja di tiap pertandingan, pun begitu halnya di nomor tunggal putra dimana Cina memiliki Lin Dan dan Chen Long.

Meski begitu, Indonesia tetap berada dalam posisi underdog alias tak diunggulkan dalam turnamen kali ini. Gambaran kasar di atas kertas, nomor tunggal putri dan nomor ganda putri kembali menjadi titik lemah bagi Indonesia karena dianggap tak bisa bersaing dengan negara lainnya.

Dengan asumsi demikian, maka pola (di atas kertas) jika Indonesia ingin memenangkan sebuah pertandingan adalah dengan mengamankan nomor ganda putra dan nomor ganda campuran, serta berharap nomor tunggal putra bisa ikut menyumbang poin dan nomor tunggal putri dan nomor ganda putri bisa memberikan kejutan andai salah satu dari tiga nomor yang disebut lebih dulu gagal melaksanakan misi tersebut.

Pemetaan kekuatan Indonesia itu sendiri masih harus melihat format pertandingan yang digunakan di Piala Sudirman. Dengan format normal, alias tak ada pemain yang rangkap, maka format pertandingan yang digelar adalah ganda putra, tunggal putri, tunggal putra, ganda putri, dan ganda campuran.

Format ini sendiri terbilang sedikit tidak menguntungkan bagi Indonesia yang pastinya berharap nomor ganda campuran bisa selalu menyumbang angka di tiap pertandingan. Pasalnya, bisa jadi pertandingan malah tak berlanjut ke partai kelima atau sudah tak lagi menentukan di partai kelima karena Indonesia sudah kehilangan tiga partai sebelumnya.

Satu hal yang mungkin bisa dicoba Indonesia nantinya adalah dengan turut memainkan pemain nomor ganda campuran di nomor ganda putri. Semisal Liliyana Natsir bermain di nomor ganda campuran dan ganda putri, maka otomatis nomor ganda campuran akan dimainkan di partai pertama kemudian berurutan nomor tunggal putra, nomor tunggal putri, dan nomor ganda putri.

Dengan demikian, maka harapannya adalah nomor ganda campuran bisa selalu berhasil memberikan poin pembuka bagi Indonesia dan membakar semangat para pemain lainnya yang akan turun setelah itu. Bagaimanapun, turnamen beregu berbeda dengan perorangan dimana tekanan partai sebelumnya akan berada pada pundak pemain yang tampil setelahnya.

Tetapi strategi ini sendiri mengandung resiko mengingat itu berarti sang pemain putri dari nomor ganda campuran akan bermain di dua partai dan bila pertarungan berlanjut ke partai kelima, maka otomatis kondisi pemain putri ganda campuran tersebut tak seratus persen bugar. Bagaimanapun, setiap strategi pastilah memiliki keuntungan dan kerugian di dalamnya.

Namun semua itu hanyalah perumpaan di atas kertas. Nomor ganda campuran, ganda putra, dan tunggal putra tak boleh merasa terbebani sementara nomor tunggal putri dan ganda putri pun tak boleh lantas menjadi kehilangan kepercayaan diri. Lakukan yang terbaik karena siapa tahu memang Piala Sudirman sudah menanti untuk dijemput pulang.

-Putra Permata Tegar Idaman-

Selasa, 26 Februari 2013

Air Susu Dibalas…






Sering kita dengar sejak jaman dulu bahwa ada peribahasa yang berbunyi ‘Air Susu Dibalas dengan Air Tuba,’ yang artinya sebuah kebaikan yang malah berbalas dengan keburukan. Peribahasa ini memang merupakan sebuah ironi karena sejatinya setiap insan pastinya ingin mendapat feedback sebuah perlakuan yang baik atas hal baik yang telah mereka lakukan pada seseorang dan bukan malah sebuah hal yang di luar harapannya.

Berkaitan dengan Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) yang baru saja aktif bertugas pada awal tahun ini, mereka sepertinya mengedepankan servis ‘air susu’ kepada para atlet yang bernaung . Hal ini bisa dilihat dari beberapa langkah yang telah mereka lakukan sejauh ini.
Yang pertama tentunya adalah langkah memanggil para pelatih hebat yang selama ini malang melintang bertualang di luar negeri seperti Rexy Mainaky (Kabid Binpres) dan Riony Mainaky (pelatih ganda putrid). Legenda bulu tangkis Indonesia seperti Susi Susanti pun mau dibujuk untuk menjadi staff ahli di bidang pembinaan dan prestasi.

Langkah ini jelas bisa diibaratkan pemberian ‘air susu’ oleh Pengurus PBSI kepada para pemain yang ada di bawah naungan pelatnas. Dengan menghadirkan tokoh-tokoh terbaik dalam bidang pembinaan dan prestasi yang selama ini sudah dirindukan kepulangannya, PBSI pastinya berharap atlet mendapatkan polesan terbaik dalam keseharian latihan mereka.

Yang kedua pastinya soal sistem kontrak baru yang diterapkan mulai tahun ini. Dengan sistem kontrak individu, rata-rata para atlet di pelatnas saat ini menerima bayaran lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya saat kontrak masih diberlakukan dengan sistem kolektif terhadap satu apparel saja. 

Dalam pengumuman yang dirilis oleh PBSI, nilai kontrak terbesar yang didapat oleh atlet adalah lebih dari 1 miliar rupiah untuk durasi satu tahun dan yang terkecil adalah 25 juta pertahun. Dengan nilai kontrak di atas satu miliar, maka seorang pemain bisa mendapat penghasilan 90-100 juta rupiah per bulannya. Untuk yang terkecil, dua juta lebih per bulan sudah berada pada entry level penghasilan mayoritas perusahaan di Indonesia.

Uang yang mereka dapatkan itu sendiri belumlah merupakan penghasilan final. Mereka masih bisa terus meraup materi dari prestasi mereka di tiap kejuaraan yang mereka ikuti. Bukan itu saja, Gita pun menjanjikan bahwa mulai saat ini tak akan ada pemotongan terkait prize money yang didapat oleh para pemain dari tiap kejuaraan.  Belum lagi iming-iming Most Valuable Player (MVP) yang bernilai satu miliar rupiah di penghujung tahun bagi pemain yang dianggap menampilkan performa paling apik di antara para pemain pelatnas.

Sederet jabaran di atas merupakan gambaran bahwa memang PBSI sejauh ini memang terus memberikan ‘air susu’ kepada para pemain yang ada di pelatnas PBSI. Mungkin yang sedikit agak ketat hanyalah soal peraturan keluar pelatnas yang lebih diperketat dan pemberlakuan jam malam  plus sejumlah peraturan soal kedisiplinan. Namun jika ditelaah lebih dalam, peraturan itu sendiri sejatinya untuk kemajuan para atlet. Terlebih jika mengambil perbandingan dengan cabang olahraga lain di Indonesia, bulu tangkis menjadi satu-satunya cabang olahraga yang mampu menjalankan pelatnasnya sepanjang tahun tanpa kekhawatiran soal ketersediaan dana, penginapan, dan lainnya, rasanya peraturan soal disiplin hanyalah ‘persoalan kecil.’

Dengan langkah PBSI memberi ‘air susu’ kepada para pemain, maka PBSI pastinya berharap ada feedback positif dari para pemain. Feedback positif berupa prestasi ini sendiri sejatinya tidak akan membuat nama PBSI lebih besar dari pemain itu sendiri. Prestasi pemain pastinya akan melambungkan nama pemain itu sendiri, baik dari segi pamor maupun materi.

Tentunya secara logis hasil ini tidak akan langsung sekejap mata tercipta usai kondisi terpuruk yang dialami oleh bulu tangkis Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Namun pastinya para pemain juga diharapkan mulai memikul beban target yang ada di dalam diri mereka. Meraih target yang dicanangkan oleh pelatih dan diri mereka sendiri, setahap demi setahap, sampai akhirnya mereka nantinya bisa mencapai tujuan besar yang mereka impikan dalam perjalanan karir mereka.

PBSI sendiri menegaskan bahwa kebangkitan bulu tangkis Indonesia perlu waktu dan tidak bisa tercipta instan. Untuk tahun ini, PBSI menargetkan tiap nomor memiliki perwakilan di 10 besar dunia. Karena itu, sebelum menuju langkah besar di tahun ini, para pemain harus memulai langkah kecil mereka dengan berusaha seoptimal mungkin memenuhi target yang telah dicanangkan misal minimal babak perempat final dan seterusnya tergantung dari posisi saat ini dan realitas persaingan yang ada.

Semoga ke depannya, ‘Air Susu’ yang telah diberikan PBSI bisa berbalas gelar juara, dan bukan malah duka yang belum tahu kapan redanya. Maju terus bulu tangkis Indonesia!

- PUTRA PERMATA TEGAR IDAMAN-

Minggu, 20 Januari 2013

SELAMAT DATANG KEMBALI, SONY!





‘Saya hanya ingin bisa bermain dengan baik, tanpa ada rasa sakit.’

Itulah yang diucapkan oleh Sony Dwi Kuncoro, sekitar 10 bulan lalu. Saat itu, Sony telah menjalani serangkaian terapi dan siap untuk kembali merajut mimpi. Tidak muluk-muluk. Tidak ada ambisi untuk bisa kembali ke 20 besar, 10 besar, atau 5 besar. Sony hanya ingin kembali bermain dengan normal, dengan sehat, dan tanpa rasa sakit.

Meski apa yang diucapkan di mulut terlihat sederhana, Sony jelas butuh pembuktian besar bahwa karirnya sebagai pebulu tangkis memang belumlah habis. Dirinya tak bisa begitu saja hanya kembali bermain dan sekedar menjadi penghias turnamen. Karena jika demikian yang terjadi, maka Sony tetap akan sama riwayatnya dengan andai ia tetap terbelit cedera, dilupakan dan dianggap sudah selesai karirnya.

Dan Sony sadar benar akan hal itu. Ia menetapkan tujuan setahap demi setahap. Hasil baik pun mulai datang kepada peraih medali perunggu Olimpiade Athena 2004 ini. Selepas mengucapkan kalimat itu pada Axiata Cup yang berlangsung pada bulan April 2012, Sony mulai memperlihatkan tajinya di turnamen Malaysia Grand Prix Gold. Di turnamen ini, ia mampu melenggang ke babak final sebelum kalah dari pebulu tangkis nomor satu dunia Lee Chong Wei. Performa apik itu dilanjutkan Sony di ajang Thailand Terbuka dimana ia sukses menjadi juara, titel perdananya sejak ia menjadi juara di Singapura Super Series 2010.

Titel ini seolah menanamkan keyakinan pada diri Sony. Pebulu tangkis kelahiran 1984 ini seolah bisa berteriak kepada dirinya sendiri bahwa ia masih bisa menjadi yang terbaik. Setelah itu, grafik Sony sendiri mulai membaik dan ia bisa masuk ke babak akhir di beberapa turnamen. Tidak hanya itu, ia juga sukses menggenggam titel Indonesia Grand Prix Gold. Di akhir tahun, Sony pun sudah masuk peringkat 20 besar dunia.

Gebrakan itu kemudian berlanjut di awal tahun dimana Sony bisa merangsek ke 10 besar dan kemudian melesat ke peringkat lima dunia berkat masuk semifinal Korea Terbuka Super Series Premier. Melihat hasil di Malaysia Super Series, bukan tak mungkin peringkat Sony akan kembali melonjak.
 Sumber kekuatan utama dari kebangkitan Sony jelas terletak dari tak lunturnya motivasi untuk bangkit yang ada di dalamnya. Dirinya selalu percaya bahwa akan ada jalan selama ia tak pasrah pada kondisi yang dialaminya.

Situasi ini sendiri tak serta merta muncul dalam diri Sony. Pada masa keterpurukannya di 2012, Sony sendiri terlihat sempat menghindari media. Jika biasanya Sony ramah bertegur sapa kepada media yang ditemuinya di Cipayung, pada tempo itu Sony justru memilih menghindar dan kalau bisa tidak sampai bertatap muka dan beradu pandang. 

Namun perlahan tapi pasti Sony mulai menata diri. Dia tak mau tenggelam dalam keterpurukan. Ia mulai berani berbicara soal perkembangan cederanya dan harapan yang masih ingin dicapainya. Ambisi itu kemudian dipadu oleh kerja keras yang hasilnya saat ini mulai terlihat.

Sony bisa kembali berada di posisi papan atas dunia saat ini tidak lain lantaran ia pernah merasakan berada di titik terendah dalam perjalanan karirnya. Bukan hanya lantaran mengalami kegagalan demi kegagalan, Sony bahkan sampai pada level ‘hanya ingin bermain tanpa gangguan rasa cedera.’ Hal inilah yang diyakini membuat Sony kini sangat menghargai pertandingan demi pertandingan yang ia jalani. Setiap pertandingan bagi Sony mungkin terasa seperti berkah dan nikmat besar sehingga dirinya tak akan menyia-nyiakannya.
Namun dibalik keberhasilan come back yang dialami Sony saat ini, jelas ada harapan bahwa Sony tak serta merta berpuas diri pada titik ini. Masih banyak yang bisa diraih Sony di ‘karir keduanya’ sebagai seorang pebulu tangkis. Usia yang akan menginjak 29 tahun pada 2013 ini juga bukan merupakan halangan karena dari segi tekad, Sony saat ini justru seperti pebulu tangkis muda yang baru saja meniti karirnya di dunia bulu tangkis. Yang perlu diperhatikan mungkin soal kondisi tubuhnya yang tentunya diharapkan bisa selalu dalam kondisi fit dan prima.

Memang ke depannya masih banyak tantangan yang akan dihadapi oleh Sony. Ada peribahasa bahwa merebut lebih baik daripada mempertahankan dan inilah yang mungkin dialami oleh Sony nantinya. Perjuangan Sony tahun ini dipastikan akan lebih berat. Melonjaknya peringkat Sony tahun lalu, selain didasari penampilan impresifnya, juga dilandasi oleh rekening poinnya yang memang masih sedikit. 

Berdasarkan sistem poin yang dianut oleh BWF, maka tugas Sony mempertahankan poin demi poin yang telah diraihnya tahun lalu bakal menjadi lebih berat. Namun di balik itu, keuntungan pun didapat Sony dari peringkatnya saat ini. Jika tahun lalu ia sempat merasakan menjadi pengisi waiting list di babak kualifikasi turnamen super series, maka pada awal tahun ini Sony akan menikmati status unggulan dimana langkahnya di atas kertas akan lebih mudah dibandingkan perjalanannya tahun lalu.

Mengamati kebangkitan Sony sendiri, tentunya banyak yang berharap ini adalah tonggak kebangkitan nomor tunggal putra Indonesia. Melihat Sony bisa keluar dari mission impossible yang ada pada dirinya, harusnya Simon Santoso, Dionysius Hayom Rumbaka dan tunggal putra lainnya seolah mendapat ‘tamparan.’ Seluruh pemain tunggal putra yang ada harusnya merasa ‘malu dan minder’ terhadap pencapaian Sony setahun belakangan ini dan lebih termotivasi untuk berlatih, bekerja keras, dan menunjukkan prestasi. Selamat datang kembali Sony!

-Putra Permata Tegar Idaman-

Rabu, 19 Desember 2012

Mencermati Pelatnas Usia Dini




Satu tawaran program yang menarik yang dikemukakan oleh kepengurusan PBSI periode 2012-2016 adalah wacana diadakannya pelatnas usia dini. Meski masih berupa wacana dan menunggu rapat koordinasi dengan bidang pembinaan dan prestasi, setidaknya, program itu tidaklah masih dalam angan semata.


Gita Wirjawan sudah membangun asrama baru di sisi belakang komplek pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta Timur. Itu artinya, pelaksanaan program pelatnas usia dini ini nantinya hanya tinggal menunggu keputusan dari bidang pembinaan dan prestasi mengenai perlu atau tidaknya atau penting atau tidaknya program pelatnas usia dini. Untuk fasilitas, rasanya sudah tidak ada masalah dan begitu disetujui, maka program ini bisa langsung jalan.


Permasalahan utama justru terletak di pertimbangan mengenai pentingnya pelaksanaan program pelatnas usia dini itu sendiri. Dengan menggelar program pelatnas usia dini, maka pemain yang dipanggil nantinya adalah pemain-pemain yang masih dalam batasan umur kategori remaja ke bawah, alias di bawah umur 17 tahun.


Lantaran hal itu, maka PBSI harus benar-benar menempatkan tujuan yang jelas terkait program ini.Pasalnya, biasanya pemain yang mulai direkrut ke pelatnas adalah pemain yang sudah mulai masuk ke dalam kelompok taruna yang pada era kepengurusan sebelumnya sering disebut pemain pelatnas pratama.


Dengan mengadakan program pelatnas usia dini, itu artinya PBSI harus bisa melakukan pendekatan yang baik dengan klub serta memberikan batasan yang jelas soal rekrutmen pemain yang diincar untuk bergabung ke program pelatnas usia dini.


Hal itu terjadi karena dengan mengadakan pelatnas usia dini, itu artinya ada sedikit penyempitan ruang gerak klub dalam melakukan pembinaan. Pemain yang nantinya sudah bagus di kategori remaja bisa langsung diambil oleh pelatnas PBSI. Di beberapa kepengurusan sebelumnya, pemain yang masuk kategori superior di remaja saja yang mungkin bisa langsung ditarik ke pelatnas,  tidak dalam program khusus pelatnas usia dini yang pastinya akan menarik atlet dalam jumlah yang cukup besar dan berdiri sendiri sebagai program yang terpisah dari pelatnas yang umumnya berjalan.


Susi Susanti, legenda bulu tangkis Indonesia yang kini menjabat sebagai staff ahli bidang pembinaan dan prestasi pernah bercerita bahwa kondisi awal karir dia sebagai pemain juga nyaris serupa dengan kondisi saat ini. Di tahun 1986, Susi yang saat itu masih berusia 15 tahun sudah masuk dalam program pantauan PBSI sebagai persiapan menyambut Olimpiade Barcelona 1992. Susi dan beberapa pemain muda lainnya yang dianggap berbakat diseleksi terus menerus hingga akhirnya pada tahun akhir jelang Olimpiade bisa diketahui siapa pemain yang bisa diandalkan.


Jika saat itu butuh enam tahun sampai sang atlet bisa jadi tumpuan harapan meraih medali emas Olimpiade, maka jika diambil persamaannya, berat bagi atlet pelatnas usia dini nantinya bisa diandalkan di Olimpiade Rio de Janeiro yang tinggal berjarak empat tahun dari sekarang. Logisnya, pemain yang jadi andalan di Olimpiade Rio de Janeiro nanti adalah pemain yang menjadi wakil Indonesia di kejuaraan junior dalam 1-2 tahun belakangan plus pemain muda yang ada di pelatnas saat ini.


Meski hampir tidak mungkin jadi andalan di Olimpiade Rio de Janeiro, program pelatnas usia dini sendiri punya sisi menarik untuk dicoba. Selama ini ada beberapa suara yang menyebut bahwa Indonesia sudah ketinggalan dalam proses regenerasi dibandingkan negara lain sehingga Pasukan Merah-Putih sering kesulitan mengejar laju negara lain. Ekstremnya, bahkan ada yang menyarankan potong generasi pemain sehingga PBSI saat ini fokus untuk menggembleng pemain muda saja agar di masa depan bisa kembali sejajar.


Nah, selagi Gita berjanji tidak akan ada masalah soal finansial, maka program pelatnas usia dini bisa saja menjadi program yang menarik untuk dicoba. Dengan dukungan finansial, PBSI mulai bisa meracik masa depan bulu tangkis Indonesia  selagi terus menjalankan program untuk pemain-pemain utama yang ada saat ini. Bagaimanapun, pemain utama yang ada saat ini masihlah merupakan pemain yang terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Dengan demikian maka kedua program ini bisa berjalan tanpa saling mengorbankan. Dengan demikian, dilema antara prestasi dan regenerasi sendiri tak akan kembali terjadi.


Sementara itu bicara mengenai tantangan, ada sejumlah tantangan yang akan dihadapi oleh PBSI jika program ini benar-benar terealisasi. Yang pertama, PBSI harus mampu meyakinkan tiap klub tempat pemain yang diincar untuk bergabung ke program pelatnas usia dini. PBSI harus berani berjanji bahwa program yang mereka tawarkan nantinya memiliki keunggulan dibandingkan program yang ada di klub. Selain itu, juga harus ada jaminan bahwa pemain yang bergabung di pelatnas usia dini benar-benar diberdayakan di pelatnas.


Yang kedua, tentu sasaran turnamen yang akan diberikan untuk para pemain pelatnas usia dini ini. Apakah nantinya mereka akan dikirim ke turnamen luar negeri dengan kategori misalnya future atau international dan kemudian beranjak ke level selanjutnya jika dirasa mampu? Atau hanya berlaga di kisaran nasional seperti sirkuit nasional dan turnamen swasta nasional? Semua ini nantinya akan sejurus dengan target-target yang ingin dicapai oleh PBSI sendiri terkait program itu. Apakah program itu untuk menjadi juara dunia junior dan juara kejuaraan beregu junior misalnya.


Yang ketiga, PBSI harus mampu menyadari beratnya nama ‘pemain pelatnas’ yang akan disandang oleh para pemain muda ini nantinya. Dengan status sebagai pemain pelatnas, gerak-gerik mereka akan selalu jadi pantauan publik, baik itu saat berlaga di turnamen dalam negeri maupun luar negeri. Karena itu, butuh penanaman mental yang kuat bagi para pemain ini.


Mental yang kuat juga mutlak dibutuhkan para pemain yang tergabung di pelatnas usia dini andai nantinya mereka tersisih dari persaingan selama menjalani program latihan dalam satu-dua tahun ke depan. Jangan sampai, mereka yang tersisih, dimana umur mereka masih belasan, menjadi putus asa dan tak lagi bersemangat menjalani karir mereka sebagai pebulu tangkis. Tumbuhkan harapan kepada mereka bahwa dengan umur masih muda, segalanya masih mungkin terjadi meski mereka tersisih di program pelatnas usia dini.


Tentunya banyak yang berharap, pelatnas usia dini ini bisa menghasilkan bintang yang berkualitas dunia seperti masa kejayaan. Ibarat merawat benih bunga sejak dini, tentu bunga yang mekar indah yang diharapkan, bukan kenyataan kejam berupa bunga yang layu sebelum berkembang lantaran kesalahan pola perawatan.

-Putra Permata Tegar Idaman-