Selasa, 26 Februari 2013

Air Susu Dibalas…






Sering kita dengar sejak jaman dulu bahwa ada peribahasa yang berbunyi ‘Air Susu Dibalas dengan Air Tuba,’ yang artinya sebuah kebaikan yang malah berbalas dengan keburukan. Peribahasa ini memang merupakan sebuah ironi karena sejatinya setiap insan pastinya ingin mendapat feedback sebuah perlakuan yang baik atas hal baik yang telah mereka lakukan pada seseorang dan bukan malah sebuah hal yang di luar harapannya.

Berkaitan dengan Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) yang baru saja aktif bertugas pada awal tahun ini, mereka sepertinya mengedepankan servis ‘air susu’ kepada para atlet yang bernaung . Hal ini bisa dilihat dari beberapa langkah yang telah mereka lakukan sejauh ini.
Yang pertama tentunya adalah langkah memanggil para pelatih hebat yang selama ini malang melintang bertualang di luar negeri seperti Rexy Mainaky (Kabid Binpres) dan Riony Mainaky (pelatih ganda putrid). Legenda bulu tangkis Indonesia seperti Susi Susanti pun mau dibujuk untuk menjadi staff ahli di bidang pembinaan dan prestasi.

Langkah ini jelas bisa diibaratkan pemberian ‘air susu’ oleh Pengurus PBSI kepada para pemain yang ada di bawah naungan pelatnas. Dengan menghadirkan tokoh-tokoh terbaik dalam bidang pembinaan dan prestasi yang selama ini sudah dirindukan kepulangannya, PBSI pastinya berharap atlet mendapatkan polesan terbaik dalam keseharian latihan mereka.

Yang kedua pastinya soal sistem kontrak baru yang diterapkan mulai tahun ini. Dengan sistem kontrak individu, rata-rata para atlet di pelatnas saat ini menerima bayaran lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya saat kontrak masih diberlakukan dengan sistem kolektif terhadap satu apparel saja. 

Dalam pengumuman yang dirilis oleh PBSI, nilai kontrak terbesar yang didapat oleh atlet adalah lebih dari 1 miliar rupiah untuk durasi satu tahun dan yang terkecil adalah 25 juta pertahun. Dengan nilai kontrak di atas satu miliar, maka seorang pemain bisa mendapat penghasilan 90-100 juta rupiah per bulannya. Untuk yang terkecil, dua juta lebih per bulan sudah berada pada entry level penghasilan mayoritas perusahaan di Indonesia.

Uang yang mereka dapatkan itu sendiri belumlah merupakan penghasilan final. Mereka masih bisa terus meraup materi dari prestasi mereka di tiap kejuaraan yang mereka ikuti. Bukan itu saja, Gita pun menjanjikan bahwa mulai saat ini tak akan ada pemotongan terkait prize money yang didapat oleh para pemain dari tiap kejuaraan.  Belum lagi iming-iming Most Valuable Player (MVP) yang bernilai satu miliar rupiah di penghujung tahun bagi pemain yang dianggap menampilkan performa paling apik di antara para pemain pelatnas.

Sederet jabaran di atas merupakan gambaran bahwa memang PBSI sejauh ini memang terus memberikan ‘air susu’ kepada para pemain yang ada di pelatnas PBSI. Mungkin yang sedikit agak ketat hanyalah soal peraturan keluar pelatnas yang lebih diperketat dan pemberlakuan jam malam  plus sejumlah peraturan soal kedisiplinan. Namun jika ditelaah lebih dalam, peraturan itu sendiri sejatinya untuk kemajuan para atlet. Terlebih jika mengambil perbandingan dengan cabang olahraga lain di Indonesia, bulu tangkis menjadi satu-satunya cabang olahraga yang mampu menjalankan pelatnasnya sepanjang tahun tanpa kekhawatiran soal ketersediaan dana, penginapan, dan lainnya, rasanya peraturan soal disiplin hanyalah ‘persoalan kecil.’

Dengan langkah PBSI memberi ‘air susu’ kepada para pemain, maka PBSI pastinya berharap ada feedback positif dari para pemain. Feedback positif berupa prestasi ini sendiri sejatinya tidak akan membuat nama PBSI lebih besar dari pemain itu sendiri. Prestasi pemain pastinya akan melambungkan nama pemain itu sendiri, baik dari segi pamor maupun materi.

Tentunya secara logis hasil ini tidak akan langsung sekejap mata tercipta usai kondisi terpuruk yang dialami oleh bulu tangkis Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Namun pastinya para pemain juga diharapkan mulai memikul beban target yang ada di dalam diri mereka. Meraih target yang dicanangkan oleh pelatih dan diri mereka sendiri, setahap demi setahap, sampai akhirnya mereka nantinya bisa mencapai tujuan besar yang mereka impikan dalam perjalanan karir mereka.

PBSI sendiri menegaskan bahwa kebangkitan bulu tangkis Indonesia perlu waktu dan tidak bisa tercipta instan. Untuk tahun ini, PBSI menargetkan tiap nomor memiliki perwakilan di 10 besar dunia. Karena itu, sebelum menuju langkah besar di tahun ini, para pemain harus memulai langkah kecil mereka dengan berusaha seoptimal mungkin memenuhi target yang telah dicanangkan misal minimal babak perempat final dan seterusnya tergantung dari posisi saat ini dan realitas persaingan yang ada.

Semoga ke depannya, ‘Air Susu’ yang telah diberikan PBSI bisa berbalas gelar juara, dan bukan malah duka yang belum tahu kapan redanya. Maju terus bulu tangkis Indonesia!

- PUTRA PERMATA TEGAR IDAMAN-

Minggu, 20 Januari 2013

SELAMAT DATANG KEMBALI, SONY!





‘Saya hanya ingin bisa bermain dengan baik, tanpa ada rasa sakit.’

Itulah yang diucapkan oleh Sony Dwi Kuncoro, sekitar 10 bulan lalu. Saat itu, Sony telah menjalani serangkaian terapi dan siap untuk kembali merajut mimpi. Tidak muluk-muluk. Tidak ada ambisi untuk bisa kembali ke 20 besar, 10 besar, atau 5 besar. Sony hanya ingin kembali bermain dengan normal, dengan sehat, dan tanpa rasa sakit.

Meski apa yang diucapkan di mulut terlihat sederhana, Sony jelas butuh pembuktian besar bahwa karirnya sebagai pebulu tangkis memang belumlah habis. Dirinya tak bisa begitu saja hanya kembali bermain dan sekedar menjadi penghias turnamen. Karena jika demikian yang terjadi, maka Sony tetap akan sama riwayatnya dengan andai ia tetap terbelit cedera, dilupakan dan dianggap sudah selesai karirnya.

Dan Sony sadar benar akan hal itu. Ia menetapkan tujuan setahap demi setahap. Hasil baik pun mulai datang kepada peraih medali perunggu Olimpiade Athena 2004 ini. Selepas mengucapkan kalimat itu pada Axiata Cup yang berlangsung pada bulan April 2012, Sony mulai memperlihatkan tajinya di turnamen Malaysia Grand Prix Gold. Di turnamen ini, ia mampu melenggang ke babak final sebelum kalah dari pebulu tangkis nomor satu dunia Lee Chong Wei. Performa apik itu dilanjutkan Sony di ajang Thailand Terbuka dimana ia sukses menjadi juara, titel perdananya sejak ia menjadi juara di Singapura Super Series 2010.

Titel ini seolah menanamkan keyakinan pada diri Sony. Pebulu tangkis kelahiran 1984 ini seolah bisa berteriak kepada dirinya sendiri bahwa ia masih bisa menjadi yang terbaik. Setelah itu, grafik Sony sendiri mulai membaik dan ia bisa masuk ke babak akhir di beberapa turnamen. Tidak hanya itu, ia juga sukses menggenggam titel Indonesia Grand Prix Gold. Di akhir tahun, Sony pun sudah masuk peringkat 20 besar dunia.

Gebrakan itu kemudian berlanjut di awal tahun dimana Sony bisa merangsek ke 10 besar dan kemudian melesat ke peringkat lima dunia berkat masuk semifinal Korea Terbuka Super Series Premier. Melihat hasil di Malaysia Super Series, bukan tak mungkin peringkat Sony akan kembali melonjak.
 Sumber kekuatan utama dari kebangkitan Sony jelas terletak dari tak lunturnya motivasi untuk bangkit yang ada di dalamnya. Dirinya selalu percaya bahwa akan ada jalan selama ia tak pasrah pada kondisi yang dialaminya.

Situasi ini sendiri tak serta merta muncul dalam diri Sony. Pada masa keterpurukannya di 2012, Sony sendiri terlihat sempat menghindari media. Jika biasanya Sony ramah bertegur sapa kepada media yang ditemuinya di Cipayung, pada tempo itu Sony justru memilih menghindar dan kalau bisa tidak sampai bertatap muka dan beradu pandang. 

Namun perlahan tapi pasti Sony mulai menata diri. Dia tak mau tenggelam dalam keterpurukan. Ia mulai berani berbicara soal perkembangan cederanya dan harapan yang masih ingin dicapainya. Ambisi itu kemudian dipadu oleh kerja keras yang hasilnya saat ini mulai terlihat.

Sony bisa kembali berada di posisi papan atas dunia saat ini tidak lain lantaran ia pernah merasakan berada di titik terendah dalam perjalanan karirnya. Bukan hanya lantaran mengalami kegagalan demi kegagalan, Sony bahkan sampai pada level ‘hanya ingin bermain tanpa gangguan rasa cedera.’ Hal inilah yang diyakini membuat Sony kini sangat menghargai pertandingan demi pertandingan yang ia jalani. Setiap pertandingan bagi Sony mungkin terasa seperti berkah dan nikmat besar sehingga dirinya tak akan menyia-nyiakannya.
Namun dibalik keberhasilan come back yang dialami Sony saat ini, jelas ada harapan bahwa Sony tak serta merta berpuas diri pada titik ini. Masih banyak yang bisa diraih Sony di ‘karir keduanya’ sebagai seorang pebulu tangkis. Usia yang akan menginjak 29 tahun pada 2013 ini juga bukan merupakan halangan karena dari segi tekad, Sony saat ini justru seperti pebulu tangkis muda yang baru saja meniti karirnya di dunia bulu tangkis. Yang perlu diperhatikan mungkin soal kondisi tubuhnya yang tentunya diharapkan bisa selalu dalam kondisi fit dan prima.

Memang ke depannya masih banyak tantangan yang akan dihadapi oleh Sony. Ada peribahasa bahwa merebut lebih baik daripada mempertahankan dan inilah yang mungkin dialami oleh Sony nantinya. Perjuangan Sony tahun ini dipastikan akan lebih berat. Melonjaknya peringkat Sony tahun lalu, selain didasari penampilan impresifnya, juga dilandasi oleh rekening poinnya yang memang masih sedikit. 

Berdasarkan sistem poin yang dianut oleh BWF, maka tugas Sony mempertahankan poin demi poin yang telah diraihnya tahun lalu bakal menjadi lebih berat. Namun di balik itu, keuntungan pun didapat Sony dari peringkatnya saat ini. Jika tahun lalu ia sempat merasakan menjadi pengisi waiting list di babak kualifikasi turnamen super series, maka pada awal tahun ini Sony akan menikmati status unggulan dimana langkahnya di atas kertas akan lebih mudah dibandingkan perjalanannya tahun lalu.

Mengamati kebangkitan Sony sendiri, tentunya banyak yang berharap ini adalah tonggak kebangkitan nomor tunggal putra Indonesia. Melihat Sony bisa keluar dari mission impossible yang ada pada dirinya, harusnya Simon Santoso, Dionysius Hayom Rumbaka dan tunggal putra lainnya seolah mendapat ‘tamparan.’ Seluruh pemain tunggal putra yang ada harusnya merasa ‘malu dan minder’ terhadap pencapaian Sony setahun belakangan ini dan lebih termotivasi untuk berlatih, bekerja keras, dan menunjukkan prestasi. Selamat datang kembali Sony!

-Putra Permata Tegar Idaman-

Rabu, 19 Desember 2012

Mencermati Pelatnas Usia Dini




Satu tawaran program yang menarik yang dikemukakan oleh kepengurusan PBSI periode 2012-2016 adalah wacana diadakannya pelatnas usia dini. Meski masih berupa wacana dan menunggu rapat koordinasi dengan bidang pembinaan dan prestasi, setidaknya, program itu tidaklah masih dalam angan semata.


Gita Wirjawan sudah membangun asrama baru di sisi belakang komplek pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta Timur. Itu artinya, pelaksanaan program pelatnas usia dini ini nantinya hanya tinggal menunggu keputusan dari bidang pembinaan dan prestasi mengenai perlu atau tidaknya atau penting atau tidaknya program pelatnas usia dini. Untuk fasilitas, rasanya sudah tidak ada masalah dan begitu disetujui, maka program ini bisa langsung jalan.


Permasalahan utama justru terletak di pertimbangan mengenai pentingnya pelaksanaan program pelatnas usia dini itu sendiri. Dengan menggelar program pelatnas usia dini, maka pemain yang dipanggil nantinya adalah pemain-pemain yang masih dalam batasan umur kategori remaja ke bawah, alias di bawah umur 17 tahun.


Lantaran hal itu, maka PBSI harus benar-benar menempatkan tujuan yang jelas terkait program ini.Pasalnya, biasanya pemain yang mulai direkrut ke pelatnas adalah pemain yang sudah mulai masuk ke dalam kelompok taruna yang pada era kepengurusan sebelumnya sering disebut pemain pelatnas pratama.


Dengan mengadakan program pelatnas usia dini, itu artinya PBSI harus bisa melakukan pendekatan yang baik dengan klub serta memberikan batasan yang jelas soal rekrutmen pemain yang diincar untuk bergabung ke program pelatnas usia dini.


Hal itu terjadi karena dengan mengadakan pelatnas usia dini, itu artinya ada sedikit penyempitan ruang gerak klub dalam melakukan pembinaan. Pemain yang nantinya sudah bagus di kategori remaja bisa langsung diambil oleh pelatnas PBSI. Di beberapa kepengurusan sebelumnya, pemain yang masuk kategori superior di remaja saja yang mungkin bisa langsung ditarik ke pelatnas,  tidak dalam program khusus pelatnas usia dini yang pastinya akan menarik atlet dalam jumlah yang cukup besar dan berdiri sendiri sebagai program yang terpisah dari pelatnas yang umumnya berjalan.


Susi Susanti, legenda bulu tangkis Indonesia yang kini menjabat sebagai staff ahli bidang pembinaan dan prestasi pernah bercerita bahwa kondisi awal karir dia sebagai pemain juga nyaris serupa dengan kondisi saat ini. Di tahun 1986, Susi yang saat itu masih berusia 15 tahun sudah masuk dalam program pantauan PBSI sebagai persiapan menyambut Olimpiade Barcelona 1992. Susi dan beberapa pemain muda lainnya yang dianggap berbakat diseleksi terus menerus hingga akhirnya pada tahun akhir jelang Olimpiade bisa diketahui siapa pemain yang bisa diandalkan.


Jika saat itu butuh enam tahun sampai sang atlet bisa jadi tumpuan harapan meraih medali emas Olimpiade, maka jika diambil persamaannya, berat bagi atlet pelatnas usia dini nantinya bisa diandalkan di Olimpiade Rio de Janeiro yang tinggal berjarak empat tahun dari sekarang. Logisnya, pemain yang jadi andalan di Olimpiade Rio de Janeiro nanti adalah pemain yang menjadi wakil Indonesia di kejuaraan junior dalam 1-2 tahun belakangan plus pemain muda yang ada di pelatnas saat ini.


Meski hampir tidak mungkin jadi andalan di Olimpiade Rio de Janeiro, program pelatnas usia dini sendiri punya sisi menarik untuk dicoba. Selama ini ada beberapa suara yang menyebut bahwa Indonesia sudah ketinggalan dalam proses regenerasi dibandingkan negara lain sehingga Pasukan Merah-Putih sering kesulitan mengejar laju negara lain. Ekstremnya, bahkan ada yang menyarankan potong generasi pemain sehingga PBSI saat ini fokus untuk menggembleng pemain muda saja agar di masa depan bisa kembali sejajar.


Nah, selagi Gita berjanji tidak akan ada masalah soal finansial, maka program pelatnas usia dini bisa saja menjadi program yang menarik untuk dicoba. Dengan dukungan finansial, PBSI mulai bisa meracik masa depan bulu tangkis Indonesia  selagi terus menjalankan program untuk pemain-pemain utama yang ada saat ini. Bagaimanapun, pemain utama yang ada saat ini masihlah merupakan pemain yang terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Dengan demikian maka kedua program ini bisa berjalan tanpa saling mengorbankan. Dengan demikian, dilema antara prestasi dan regenerasi sendiri tak akan kembali terjadi.


Sementara itu bicara mengenai tantangan, ada sejumlah tantangan yang akan dihadapi oleh PBSI jika program ini benar-benar terealisasi. Yang pertama, PBSI harus mampu meyakinkan tiap klub tempat pemain yang diincar untuk bergabung ke program pelatnas usia dini. PBSI harus berani berjanji bahwa program yang mereka tawarkan nantinya memiliki keunggulan dibandingkan program yang ada di klub. Selain itu, juga harus ada jaminan bahwa pemain yang bergabung di pelatnas usia dini benar-benar diberdayakan di pelatnas.


Yang kedua, tentu sasaran turnamen yang akan diberikan untuk para pemain pelatnas usia dini ini. Apakah nantinya mereka akan dikirim ke turnamen luar negeri dengan kategori misalnya future atau international dan kemudian beranjak ke level selanjutnya jika dirasa mampu? Atau hanya berlaga di kisaran nasional seperti sirkuit nasional dan turnamen swasta nasional? Semua ini nantinya akan sejurus dengan target-target yang ingin dicapai oleh PBSI sendiri terkait program itu. Apakah program itu untuk menjadi juara dunia junior dan juara kejuaraan beregu junior misalnya.


Yang ketiga, PBSI harus mampu menyadari beratnya nama ‘pemain pelatnas’ yang akan disandang oleh para pemain muda ini nantinya. Dengan status sebagai pemain pelatnas, gerak-gerik mereka akan selalu jadi pantauan publik, baik itu saat berlaga di turnamen dalam negeri maupun luar negeri. Karena itu, butuh penanaman mental yang kuat bagi para pemain ini.


Mental yang kuat juga mutlak dibutuhkan para pemain yang tergabung di pelatnas usia dini andai nantinya mereka tersisih dari persaingan selama menjalani program latihan dalam satu-dua tahun ke depan. Jangan sampai, mereka yang tersisih, dimana umur mereka masih belasan, menjadi putus asa dan tak lagi bersemangat menjalani karir mereka sebagai pebulu tangkis. Tumbuhkan harapan kepada mereka bahwa dengan umur masih muda, segalanya masih mungkin terjadi meski mereka tersisih di program pelatnas usia dini.


Tentunya banyak yang berharap, pelatnas usia dini ini bisa menghasilkan bintang yang berkualitas dunia seperti masa kejayaan. Ibarat merawat benih bunga sejak dini, tentu bunga yang mekar indah yang diharapkan, bukan kenyataan kejam berupa bunga yang layu sebelum berkembang lantaran kesalahan pola perawatan.

-Putra Permata Tegar Idaman-

Kamis, 29 November 2012

Kayu Bakar, Bahan Bakar, Pemantik Api dan Bulu Tangkis Indonesia


Dalam sebuah acara outdoor seperti berkemah, api unggun sering kali menjadi acara puncak dari daftar acara yang ada. Dalam kesempatan seperti itu, sering kali kita melihat betapa megahnya kobaran api unggun yang membara menghias kegelapan langit malam.

 
Rahasia kemegahan api unggun jelas terlihat dari pemilihan kayu bakar yang bagus, ketersediaan bahan bakar, dan pastinya pemantik api. Jika saja ada satu dari tiga unsur tersebut yang tidak terpenuhi dengan baik, maka akan sulit menciptakan kobaran api yang besar.

 
Analogi di atas bisa dikaitkan pada pengembangan prestasi bulu tangkis di Indonesia. Jika prestasi tinggi adalah kobaran api yang besar, maka atlet adalah kayu bakar, bidang pembinaan prestasi termasuk pelatih adalah pemantik api, dan pengurus PBSI adalah bahan bakar (minyak tanah/bensin).


Dimulai dari atlet, dalam diri atlet haruslah menetapkan diri dalam posisi siap berprestasi. Tekad untuk menang dalam diri harus besar. Tekad itu kemudian harus diaplikasikan dalam bentuk kerja keras mulai dari saat latihan, pertandingan, hingga pasca pertandingan. 


Mereka harus berpikir bahwa karir mereka sebagai atlet adalah karir singkat. Tak boleh ada detik dan menit yang terbuang sia-sia karena nantinya hal itu bisa menjadi penyesalan di masa tua. Sekali memilih jalur sebagai atlet, maka saat itu pula komitmen dan konsistensi niat mereka ditentukan. Memang berat, karena di usia muda, usia dimana orang umum tengah menikmati kegembiraan untuk berekspresi dengan berbagai aktivitas, mereka sudah harus fokus menata prestasi dan berpeluh keringat berlatih setiap hari. Itulah konsekuensi yang harus mereka jalani lantaran memilih meniti karir sebagai pebulu tangkis di negeri ini. Sebuah cita-cita dan ambisi yang mulia dimana harus diletakkan kerja keras di dalamnya.


Karena memang sulit untuk menciptakan prestasi besar, jika atlet sendiri tidak memiliki keinginan untuk maju dan berprestasi atau memiliki keinginan maju tapi tanpa aplikasi. Sama halnya dengan sulitnya membuat kobaran api yang besar jika kayu bakar yang ada basah, tak peduli betapa banyaknya pemantik api atau bahan bakar yang tersedia. 


Yang kedua, adalah bidang pembinaan dan prestasi termasuk pelatih di dalamnya. Unit ini jelas memegang peranan penting dalam terciptanya prestasi tingkat dunia. Pelatih harus punya visi yang jelas dalam melihat potensi dan bakat atlet. Pelatih juga harus memiliki misi dan program-program yang bermuara pada prestasi. Tidak hanya itu, pelatih juga sebaiknya bisa berperan sebagai orang tua atlet selama atlet berada di pelatnas Cipayung karena dengan demikian akan mudah bagi pelatih untuk menggali permasalahan yang dialami atlet dalam kesehariannya yang terkadang berpotensi menghambat perkembangannya.


Sama halnya dengan pelatih, bidang pembinaan dan prestasi sebagai pihak yang mengawasi program pelatnas secara keseluruhan juga harus jeli dan cermat. Pengiriman pemain ke berbagai turnamen harus disertai tujuan dan target yang jelas. Dengan demikian, maka kesempatan bertanding di event internasional akan mengeluarkan hasil yang optimal. 


Jelas peran bidang pembinaan dan prestasi beserta pelatih sangat besar peranannya. Tanpa bidang pembinaan dan prestasi serta pelatih yang bagus, sulit bagi Indonesia mendapatkan atlet yang berlevel papan atas. Sama halnya dengan sulitnya membuat kobaran api yang besar tanpa adanya pemantik api, meskipun kayu bakar kualitas bagus dan bahan bakar tersedia.


Yang terakhir, Pengurus PBSI. Dalam meramu kesuksesan, Pengurus PBSI juga memiliki tanggung jawab yang besar. Mereka harus bisa menciptakan suasana yang kondusif di pelatnas sehingga pelatih dan pemain bisa bekerja dengan tenang.


Selain itu, Pengurus PBSI juga wajib memenuhi fasilitas di Pelatnas Cipayung sehingga segala program yang dibuat oleh bidang pembinaan dan prestasi bisa mendapat dukungan optimal, baik itu fasilitas utama seperti fasilitas untuk latihan maupun fasilitas penunjang seperti fasilitas kesehatan maupun gizi.


Tidak hanya itu, PBSI juga harus piawai mengurus kebutuhan dana yang diperlukan pelatnas setiap tahunnya. Baik itu pencarian lewat swasta dimana sebelumnya hal tersebut kurang terlaksana dengan baik maupun lewat permohonan kepada pemerintah. Jika dana tak lagi menjadi masalah, maka tak ada lagi alasan bahwa program tak jalan lantaran masalah keuangan.


Jika Pengurus PBSI tak bisa menampilkan kinerja yang baik, maka berat bagi pelatih dan atlet untuk berprestasi. Sama halnya dengan sulitnya membuat kobaran api tanpa bantuan bahan bakar seperti minyak tanah atau bensin. Tanpa itu, butuh perjuangan berat bagi pemantik api untuk membuat kobaran api yang besar, belum lagi resiko api mati di tengah jalan.


Kesimpulannya, jika atlet, pelatih, dan Pengurus PBSI bisa menjalankan kewajiban dan menunjukkan kinerja dengan baik, maka peluang munculnya prestasi akan lebih besar. Hal itu terjadi lantaran prestasi adalah kerja kolektif, bukan dorongan satu sisi. Sama halnya dengan kobaran api yang besar yang akan terjadi jika kriteria kayu bakar, bahan bakar, dan pemantik api yang baik terpenuhi.

-Putra Permata Tegar Idaman-