Selasa, 13 Maret 2012

Tontowi/Liliyana dan Sejarah Tak Menyenangkan Ganda Campuran di All England serta Olimpiade



Sejak ganda campuran resmi dipertandingkan di Olimpiade Atlanta 1996, maka sejak saat itulah para negara papan atas bulu tangkis tak main-main dalam menyiapkan kekuatannya. Jika sebelumnya pemain ganda campuran adalah pemain yang merangkap pada nomor lainnya, maka sejak itu banyak pemain yang memang memiliki spesialisasi nomor ganda campuran.

Mulai tahun 1996 hingga sekarang pula, ada dua nama ganda campuran yang menjadi kekuatan utama Indonesia, yaitu Tri Kusharjanto/Minarti Timur dan kemudian tampuk tersebut diserahkan pada Nova Widianto/Liliyana Natsir.

Ada banyak persamaan dari dua ganda campuran Indonesia tersebut. Sama-sama banyak gelar dan pernah menduduki posisi nomor satu dunia. Negatifnya : keduanya hanya sama-sama menjadi runner up di All England dan Olimpiade.

Tri/Minarti menjadi runner up pada All England 1997 dimana mereka kalah dari Liu Yong/Ge Fei (Cina) dengan skor 10-15, 2-15. Untuk Olimpiade, kepahitan mereka rasakan di Olimpiade Sydney 2000 saat di final mereka kembali bertekuk lutut dari pasangan Cina lainnya, Zhang Jun/Gao Ling, 15-1, 13-15, 11-16.

Berlanjut ke Nova/Liliyana, duet ini bisa dikatakan meraih prestasi yang lebih tinggi dibandingkan Tri/Minarti. Hal ini dibuktikan oleh status juara dunia yang sukses mereka sandang sebanyak dua kali yaitu tahun 2005 dan 2007. Namun sayangnya, torehan lain Nova/Liliyana semakin menegaskan bahwa ganda campuran tak akrab dengan All England dan Olimpiade.

Nova/Liliyana dua kali jadi runner up All England pada tahun 2008, kalah dari Zheng Bo/Gao Ling, 21-18, 14-21, 9-21, dan tahun 2010, menyerah di tangan Zhang Nan/Zhao Yunlei, 18-21, 25-23, 18-21. Untuk Olimpiade, Beijing 2008 menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Nova/Liliyana saat mereka takluk dari ganda Korea, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung, 11-21, 17-21.

Lalu bagaimana dengan duet Tontowi/Liliyana yang memang sejak tahun 2010 langsung diharapkan bisa tampil sebagai suksesor Tri/Minarti dan Nova/Liliyana ? Duet yang baru berusia dua tahun ini langsung menggebrak dan memutus rantai kutukan ganda campuran di All England yang bahkan sudah dimulai sejak tahun 1979 saat terakhir kali Christian Hadinata/Imelda Wiguna mampu bertahta. Lewat permainan agresif, Tontowi/Liliyana merengkuh juara dengan mengalahkan Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl, 21-17, 21-19.

Dengan keberhasilan ini apakah Tontowi/Liliyana semakin meyakinkan sebagai andalan di Olimpiade London 2012 mendatang sekaligus mengakhiri kutukan ganda campuran di Olimpiade ? Tunggu dulu, selain sejarah kurang menguntungkan untuk ganda campuran Indonesia di Olimpiade, ada satu sejarah lagi yang harus dilawan oleh Tontowi/Liliyana.

Sejarah lain yang harus dilawan adalah sejarah ganda campuran dalam kapasitas keseluruhan, bukan hanya lingkup Indonesia melainkan seluruh dunia. Ya, sejak tahun 1996 dimana ganda campuran mulai dipertandingkan di Olimpiade, tak pernah ada juara All England di tahun Olimpiade yang mampu memenangi Olimpiade.

All England 1996 milik Park Joo-Bong/Ra Kyung-min (Korea), namun emas Olimpiade direbut oleh rekan senegara mereka Kim Dong-moon/Gil Young-Ah. Tahun 2000, All England dimenangi oleh Kim Dong -moon/Ra Kyung-min tetapi Zhang Jun/Gao Ling yang berhak atas emas Olimpiade.

Empat tahun berselang, cerita tahun 2000 kembali terulang. Tahta All England dikuasai oleh Kim Dong-moon/Ra Kyung-min , namun Zhang Jun/Gao Ling sukses mempertahankan emas Olimpiade. Di edisi terakhir pada Beijing 2008, Zheng Bo/Gao Ling jadi juara All England tetapi mereka harus rela Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung (Korea) jadi juara Olimpiade.

Dengan kondisi demikian, jelas rakyat Indonesia sangat berharap bahwa Tontowi/Liliyana mampu kembali mendobrak sejarah tak menyenangkan ganda campuran Indonesia di Olimpiade sekaligus menghapus kutukan juara All England tak mampu memenangi Olimpiade di tahun yang sama.

Tontowi/Liliyana terbukti memiliki kapasitas dan kualitas. Tinggal kini mereka dan pihak-pihak di sekitar mereka seperti pelatih maupun PBSI pintar-pintar menjaga ritme permainan menuju pertandingan Olimpiade yang semakin dekat. Yang patut diingat, ganda campuran saat ini menjadi salah satu nomor dimana persaingan amat ketat dan berat. Kepercayaan diri Tontowi/Liliyana bertambah setelah jadi juara All England itu pasti, tetapi jangan lengah, karena rival-rival berat mereka akan terus mengamati dan menyimpan dendam di dalam hati.

Rabu, 07 Maret 2012

Berharap Berakhirnya Kutukan ‘All End-Land’




Tidak. Tak ada yang salah dari judul yang ditulis di atas.  Event All England yang berlangsung pada 6-11 Maret untuk edisi 2012 ini memang sepertinya telah berubah nama menjadi ‘All End-Land’ atau saya artikan sebagai negeri dimana semua pemain Indonesia gugur, dalam beberapa tahun terakhir. Sejak Candra Wijaya/Sigit Budiarto menggenggam mahkota pada tahun 2003, tak ada lagi ksatria-ksatria Indonesia yang sukses menggapai tahta pada tahun-tahun berikutnya. Total sudah delapan tahun Indonesia tak memiliki juara All England, sebuah ironi jika kita masih menganggap Indonesia sebagai negara bulu tangkis.

Celakanya, jika pada 3 tahun lalu dan sebelumnya kita masih bisa berharap banyak lantaran memiliki pemain-pemain mumpuni, maka untuk dua  tahun belakangan termasuk tahun ini kita pun sudah dihitung kalah sejak catatan di atas kertas. Dari daftar unggulan yang ada, hanya Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (unggulan keempat ganda campuran) dan Mohammad Ahsan/Bona Septano (unggulan ketujuh ganda putra) yang masuk dalam daftar unggulan, di luar itu tak ada lagi para pemain Indonesia.

Dengan kondisi demikian, maka praktis hanya Tontowi/Liliyana yang benar-benar dihitung memiliki kapasitas untuk bisa menjadi juara. Itupun tidak mudah karena duo ganda Cina Zhao Yunlei/Zhang Nan dan Xu Chen Ma Jin siap menjadi penjegal utama. Belum lagi tantangan lain dari pemain macam Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (Denmark).

Perjuangan lebih berat ada di tangan Ahsan/Bona. Jelas masih berat untuk Ahsan/Bona diharapkan mampu meruntuhkan dominasi ganda papan atas macam Cai Yun/Fu Haifeng (Cina), Jung Jae Sung/Lee Yong Dae (Korea), dan Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark).

Bagaimana dengan Taufik Hidayat dan Markis Kido/Hendra Setiawan ? Menilik ambisi, jelas mereka masih memiliki gairah besar terhadap turnamen ini lantaran belum pernah memenanginya. Koleksi emas Olimpiade, status juara dunia belum mereka lengkapi dengan mahkota juara All England. Namun jika melihat kemampuan, Taufik dan Kido/Hendra pun memilih bersikap realistis terhadap situasi yang ada sekarang.
Taufik kesulitan masuk dalam rivalitas Lee Chong Wei dan Lin Dan yang terjadi selama beberapa tahun terakhir, sementara Kido/Hendra terus menunjukkan grafik menurun sejak memenangi medali emas Asian Games 2010 lalu.

Realita berubahnya All England menjadi ‘All End-Land’ bagi para pemain Indonesia pun bisa dilihat dari kekhawatiran masyarakat pencinta bulu tangkis Indonesia. Andai pada dekade 1990-an mungkin masyarakat Indonesia berbicara tentang peluang final yang mungkin bisa mempertemukan sesama pemain Indonesia, maka untuk tahun-tahun belakangan ini, kita pun sudah disibukkan oleh pertanyaan mampukah wakil-wakil Indonesia melewati babak-babak awal.

PBSI sebagai induk organisasi bulu tangkis di Indonesia pun tak berani memberikan angin surga bagi para penikmat bulu tangkis di Indonesia. Mereka memilih sikap realistis seraya berharap agar pemain bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Memang, jika secara teknis dan kualitas kita kalah dalam hitung-hitungan di atas kertas, mari berharap bahwa All England tetap memegang sifat khas sebuah olahraga, yaitu menang-kalah tak bisa ditentukan sebelum pertandingan berakhir. Selalu ada peluang untuk Indonesia bisa tersenyum di All England tahun ini, termasuk dengan bantuan dewi fortuna yang sepertinya sudah lama tak hinggap di kubu Indonesia. Dengan begitu, All England akan kembali menjadi turnamen All England, turnamen dimana nama-nama seperti Rudy Hartono, Liem Swie King, Ade Chandra/Christian Hadinata, Susi Susanti, dan Ricky Subagdja/Rexy Mainaky pernah berkuasa, bukan berubah nama menjadi ‘All End-Land’, dimana Inggris berubah menjadi tanah petaka bagi para pebulu tangkis Indonesia.


-Putra Permata Tegar Idaman-

Minggu, 29 Januari 2012

Mendung Tak Berarti Hujan, Tapi….

Ketika melihat mendung menggelayut di langit, maka otomatis hal yang terlintas di dalam benak adalah mempersiapkan payung ataupun memakai jas hujan. Karena itu tak salah kan jika sejak saat ini kita bersiap dan mencoba lapang dada andai tradisi emas bulu tangkis di ajang Olimpiade tidak berlanjut di London bulan Agustus nanti jika melihat hasil terkini ?

Ada pepatah yang membesarkan hati kita, bahwa mendung tak berarti hujan. Kegagalan dalam beberapa tahun terakhir disambung kegagalan di dua turnamen pembuka tahun 2012, Korea Premier Super Series dan Malaysia Terbuka Super Series tidak menjamin bahwa kita pasti gagal di Olimpiade 2012 mendatang. Pun begitu halnya andai kita terus-menerus gagal di berbagai turnamen berikutnya seperti All England dan Indonesia Terbuka, tidak ada satu pun orang yang berani menjamin seratus persen bahwa kita juga kelak akan gigit jari di London Agustus nanti.

Namun jika berbicara hal yang lazim, maka lebih banyak mendung yang berakhir jadi hujan. Sama halnya dengan lazimnya jika hasil selama persiapan tidak baik, maka hasil pada pertempuran utama pun kemungkinan besar tidak baik.

Dari beberapa nama pebulu tangkis Indonesia yang menyabet emas Olimpiade pun rata-rata adalah nama-nama yang memang sudah dipersiapkan dan sudah diperhitungkan. Mereka layaknya matahari yang diyakini akan memberikan sinar cerah kebahagiaan bagi para rakyat Indonesia.

Di Olimpiade 1992, Susi Susanti sudah diharapkan jadi juara, pun begitu halnya dengan duet Ricky Subagdja/Rexy Mainaky empat tahun kemudian di Atlanta. Candra Wijaya/Tony Gunawan menjadi andalan di Sydney tahun 2000, sama seperti saat Markis Kido/Hendra Setiawan dijagokan di Beijing empat tahun lalu.

Mungkin yang sedikit di luar pakem adalah Alan Budikusuma (medali emas tunggal putra 1992) dan Taufik Hidayat (medali emas tunggal putra 2004). Alan meraih emas saat dirinya menjadi unggulan di luar empat besar sementara Taufik menjadi yang terbaik saat tidak menjadi unggulan delapan besar.

Untuk kasus Alan sendiri, PBSI tak sepenuhnya salah karena Ardi B. Wiranata yang dijagokan untuk tunggal putra saat itu berhasil melaju hingga final sebelum dikalahkan Alan. Jadi yang benar-benar di luar pakem adalah saat Taufik memenangi Olimpiade Athena 2004 dengan status tak masuk daftar unggulan.

Dengan perbandingan 1 : 5 jelas bisa dilihat bahwa mayoritas sukses Indonesia adalah sukses yang terkondisikan alias para pemain yang memenanginya kebanyakan adalah pemain yang memang sejak awal sudah diandalkan.

Pakem seperti itu sejatinya juga masih dianut oleh PBSI saat ini. Hadi Nasri, Kabid Binpres PBSI berkali-kali menyebutkan bahwa yang bisa dan pantas diharapkan meneruskan tradisi medali emas adalah mereka yang duduk di unggulan empat besar. Dan celakanya, saat ini hanya ada Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir untuk posisi tersebut.

Tontowi/Liliyana sendiri kini mulai menunjukkan performa yang labil setelah pada awal 2011 lalu mampu mencuat dan melesat ke posisi nomor dua dunia. Sebabnya mungkin, tidak lain karena mereka terbebani dengan status sebagai satu-satunya harapan dan andalan yang logis untuk memenangi emas.

Jika ditanya, jelas mereka tak mengakui bahwa mereka terbebani dengan status harapan tunggal, namun tak bisa dimungkiri Tontowi khususnya adalah pebulu tangkis yang baru akan menjalani debut Olimpiadenya.

Lalu bagaimana solusinya ? Jangan biarkan Tontowi/Liliyana jadi matahari harapan sendirian. Mohammad Ahsan/Bona Septano pun punya peluang untuk melakukan hal tersebut. Lebih ekstrem lagi, kita berharap Taufik dan Kido/Hendra yang dulu pernah bersinar terang kembali bersinar khusus untuk Olimpiade kali ini.

All England dan Indonesia Terbuka menjadi tes sesuai untuk mengukur kadar sinar para matahari harapan ini. Jika kembali redup di dua ajang tersebut, itu artinya mendung benar-benar menggelayut. Jika mendung benar-benar terus berlanjut hingga sedetik jelang Olimpiade dimulai, maka bersiaplah menerima hujan yang berarti duka nasional karena tak ada kilauan emas untuk kontingen Indonesia.

Kamis, 29 Desember 2011

Senyum Miris Bulu Tangkis

Catatan Akhir Tahun

Putra Permata Tegar Idaman

 

Senyum Miris Bulu Tangkis

 

Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) tersenyum saat tim bulu tangkis Indonesia sukses melampaui target pada ajang SEA Games XXVI/2011 lalu. Namun, senyum yang terlihat lebih seperti senyum miris mengingat sejatinya banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan dan tantangan berat yang akan menanti di depan.

Bukan bermaksud meremehkan kerja keras para pebulu tangkis Indonesia di ajang SEA Games, namun sejatinya sukses di SEA Games bukanlah sebuah sukses yang patut dikedepankan karena memang sejak zaman dahulu, sukses di SEA Games adalah hal biasa dan lumrah bagi Indonesia.

Karena itulah, sukses di SEA Games tak mampu menutupi luka karena kering prestasi sepanjang musim yang dialami pebulu tangkis Indonesia. Dari 25 kesempatan meraih gelar di Premier Super Series, Indonesia gagal mendapatkannya. Dari 35 kesempatan meraih titel di Super Series, Indonesia hanya mampu meraih dua titel juara lewat Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di India Terbuka dan Singapura Terbuka.

Belum lagi jika berbicara soal Piala Sudirman yang kembali gagal didapat ataupun kejuaraan dunia yang kembali kita lewati tanpa gelar juara. Sudah sejak 1989 Indonesia gagal meraih Piala Sudirman dan untuk kejuaraan dunia, ini adalah ketiga kalinya secara beruntun dalam penyelenggaraan kejuaraan dunia, Indonesia gagal meraup gelar juara.

Lupakan hal yang telah lewat di belakang, tak berarti PBSI bebas tantangan dan halangan di depan. Pada tahun 2012 nanti ada ajang Piala Thomas dan Uber serta Olimpiade di London. Kebetulan pula, tahun depan adalah tahun terakhir dari periode kepengurusan PBSI di bawah Djoko Santoso.

Mungkin kegagalan di Piala Thomas dan Uber bisa dimaafkan karena memang sudah lama juga Indonesia tak bisa meraih dua piala supermasi beregu putra dan beregu putri ini. Namun, gagal meneruskan tradisi Olimpiade adalah dosa besar karena itu berarti memutus rantai prestasi yang mulai disusun sejak di Barcelona tahun 1992.

Menilik pemain yang ada, Indonesia dan PBSI pun harus mengelus dada. Taufik Hidayat dan Markis Kido/Hendra Setiawan berterus terang sudah mengalami penurunan sementara Mohammad Ahsan/Bona Septano dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir belumlah benar-benar konsisten dalam tiap turnamen. Tidak ada wakil Indonesia yang benar-benar dalam posisi jagoan saat Olimpiade tinggal tersisa tujuh bulan.

Tambahan lagi, cabang bulu tangkis pada Olimpiade mendatang menggunakan sistem round robin dimana para pebulu tangkis akan masuk dalam grup terlebih dulu sebelum masuk fase sistem gugur, bukan lagi langsung tergelar dalam sistem gugur sejak awal. Sistem round robin berarti semakin meminimalisir terjadinya kejutan karena paling tidak tiap pemain harus memainkan 2-4 partai di babak penyisihan grup terlebih dulu dan harus konsisten di tiap partai tersebut.

Persiapan dan langkah strategis harus segera dilakukan PBSI yang pastinya harus mendapat dukungan dari Pemerintah dan pihak lainnya. Jika tahun 2011 PBSI masih bisa tersenyum miris karena ada ajang SEA Games yang mampu sedikit menyelamatkan muka mereka, maka jangan sampai pada tahun depan PBSI dan Indonesia dibuat menangis karena hilangnya sebuah tradisi emas Olimpiade.

Sabtu, 03 Desember 2011

Positif-Negatif PBSI 2009-2011


Kepengurusan PBSI era Djoko Santoso sudah memasuki tahun terakhirnya. Dalam tiga tahun ini, sudah banyak langkah-langkah yang mereka lakukan bagi kemajuan bulu tangkis Indonesia. Namun tentunya tidak semua kebijakan mereka terbukti tepat dan berhasil. Berikut langkah positif dan negatif dalam sudut pandang saya.

POSITIF

+ Membentuk tim Pratama pada tahun 2009. Tim ini diproyeksikan menjadi andalan Indonesia dalam 2-3 tahun setelah tahun 2009. Mereka menjalani latihan berat di Akademi Militer selama enam bulan dan sepulangnya dari sana, mereka menjadi pribadi yang disiplin, memiliki semangat tinggi, dan berkemauan keras

+Memenuhi target empat medali emas yang dicanangkan pada SEA Games 2009. Jumlah ini sendiri sejatinya lebih sedikit dari torehan dua tahun sebelumnya dimana Indonesia sukses menyabet tujuh emas di SEA Games 2007

+Melihat prestasi mengkilap Taufik Hidayat di luar pelatnas, PBSI tak segan dan gengsi memanggil Taufik masuk dalam skuat Piala Thomas 2010. Sebuah acungan jempol bagi sikap PBSI meskipun hanya berbuah gelar runner up lantaran Indonesia kalah dari Cina

+ Kembali memanggil pemain di luar pelatnas untuk Asian Games 2010 seperti Taufik Hidayat dan Markis Kido/Hendra Setiawan. Hal ini berbuah sumbangan 1 medali emas dari Kido/Hendra.

+Menghasilkan juara dunia junior bagi Indonesia untuk pertama kalinya sejak tahun 1992, meskipun sang juara, Alfian Eko/Gloria Emanuelle bukanlah pemain yang sudah bernaung di pelatnas

+Meraih lima medali emas pada ajang SEA Games 2011. Target yang dicanangkan PBSI sendiri untuk turnamen ini adalah empat medali emas. Pada ajang ini pula PBSI tanpa sungkan memanggil para pemain yang berada di luar pelatnas seperti  Taufik, Kido/Hendra, Tommy Sugiarto, dan Vita/Nadya

NEGATIF

- Membiarkan Taufik Hidayat keluar begitu saja dari pelatnas pada tahun 2009. Alasannya, hanya boleh ada satu pelatih di tiap nomor. Taufik memilih tetap bertahan dengan Mulyo Handoyo dan meninggalkan pelatnas serta berkarir mandiri. Eksodus pemain pertama di tengah aktif yang nantinya akhirnya menjadi tren. “Berat bagi saya untuk tinggalkan pelatnas karena semua yang ada di sana sudah seperti keluarga,” kata Taufik waktu itu.

- Memberi nilai kontrak kepada Vita Marissa dengan angka yang lebih kecil dengan disertai alasan yang tidak masuk akal. Vita yang baru dipecah pasangannya dengan Flandy Limpele dan baru mulai dipasangkan dengan Muhammad Rijal dianggap mengalami penurunan prestasi. Alasan tidak berada di papan atas jelas alasan yang dibuat-buat karena Vita baru punya waktu beberapa bulan bersama Rijal. Itu pun dia sudah sukses menjadi juara di Jepang SS. Vita menolak nilai kontrak dan hengkang dari pelatnas (masih 2009). “Saya sudah berkorban dan memberikan segalanya untuk kepentingan bangsa namun balasan yang saya terima seperti ini.”

- Gagal merebut Piala Sudirman meskipun memang Indonesia tak diunggulkan dalam turnamen ini sejak awal. Namun yang patut menjadi catatan, Indonesia tak bisa menembus final seperti torehan dua tahun sebelumnya karena kalah dari Korea di semifinal

-Benih-benih perselisihan dengan Markis Kido/Hendra Setiawan mulai dirintis di Kejuaraan Dunia 2009. Markis Kido yang yakin sudah sembuh dari darah tinggi dilarang tampil di kejuaraan dunia. PBSI berkata “Kalau ada apa-apa bukan tanggung jawab kami. Silahkan kalau ingin maju.” Sementara Kido sendiri berkata,”Saya maunya main dulu, baru nanti kalo tak sanggup saya mundur dan tak memaksakan diri. Komentar PBSI seperti itu seolah-olah ada apa-apa dan akan melempar tanggung jawab.”

-Kido memutuskan keluar dari pelatnas pada tahun 2010 karena dengan alasan kesehatan dan tak lagi bisa berlatih keras sehingga lebih baik baginya untuk berkarir di luar pelatnas dengan program yang ia buat sendiri. Hendra ikut keluar dari pelatnas karena tetap ingin berduet dengan Kido. Keluarnya Kido/Hendra ini jelas bermula dari peristiwa persiapan kejuaraan dunia 2009

-Pelatnas Pratama programnya mulai tidak jelas. Banyak yang jarang mendapatkan kesempatan untuk terjun di sebuah turnamen. Pribadi disiplin dan semangat pun mulai luntur perlahan-lahan dari diri mereka. Di tahun 2011, status utama-pratama pun ditiadakan

-Masuknya Li Mao ke pelatnas tanpa bisa seorang pun merinci detail proses kedatangannya. Adanya Li Mao di pelatnas membuat perubahan komposisi. Christian Hadinata kini hanya menjadi koordinator pelatih ganda sementara Li Mao koordinator pelatih tunggal.

-Situasi di nomor tunggal pelatnas tak kondusif sejak kedatangan Li Mao. Sarwendah Kusumawardhani yang sebelumnya sudah diminta menjadi asisten pelatih di tunggal putri pun mengundurkan diri. Marleve Mainaky yang berstatus pelatih tunggal putri pun turut mengundurkan diri beberapa bulan kemudian karena merasa tak cocok dengan Li Mao.



-Prestasi di turnamen BWF tak menggembirakan. yang terparah adalah hampa gelar di Indonesia Terbuka dan Kejuaraan Dunia selama tiga tahun beruntun, 2009-2011



Jumat, 02 Desember 2011

Setengah Tahun ke Depan, Pemain Harus Bekerja Keras



Berbicara peluang bulu tangkis Indonesia di kancah Olimpiade, tentu tak lepas ingatan kita pada sosok Susi Susanti, pebulu tangkis Indonesia yang memulai tradisi medali emas bulu tangkis di ajang Olimpiade pada Olimpiade Barcelona 1992. Meskipun sudah lama gantung raket, Susi masih terus menaruh perhatian pada perkembangan bulu tangkis Indonesia. Bagaimana pendapat Susi, berikut petikan wawancaranya kepada TopSkor :

Bagaimana peluang Indonesia melihat prestasi para pebulu tangkisnya sejauh ini ?
Kalo mau jujur, bisa dibilang peluang Indonesia untuk Olimpiade tahun depan cukup berat karena prestasi para pebulu tangkis tahun Indonesia tahun ini pun bisa dibilang kurang memuaskan. Mengaca pada hal tersebut, rasanya Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir adalah wakil yang paling layak dijagokan untuk meraih medali emas.

Melihat permainan Tontowi/Liliyana yang belakangan ini justru menurun, apa pendapat anda ?
Grafik naik-turun seorang atlet itu wajar. Mereka terutama Tontowi harus menyadari bahwa kalah di satu turnamen tidak berdampak apa-apa di turnamen berikutnya. Karena itu begitu kalah, mereka harus kembali menata diri dan mempersiapkan diri lebih baik lagi di turnamen selanjutnya karena saya lihat mereka memiliki potensi.

Bagaimana dengan peluang pemain lainnya ?
Mohammad Ahsan/Bona Septano juga memiliki kans untuk diandalkan. Begitu juga para pemain senior macam Taufik Hidayat dan Markis Kido/Hendra Setiawan meskipun secara statistik mereka saat ini sudah menunjukkan penurunan. Yang pasti, seluruh pemain Indonesia harus bekerja keras dalam setengah tahun depan untuk menunjukkan bahwa mereka siap menghadapi Olimpiade tahun depan.

Jika nantinya saat pelaksanaan Olimpiade para pebulu tangkis Indonesia gagal menempati unggulan empat besar, apakah itu berarti kans Indonesia untuk jadi juara semakin mengecil ?
Tidak juga karena bagaimanapun di setiap turnamen, potensi kejutan itu selalu ada. Alan Budikusuma bisa jadi contoh konkret. Di Olimpiade Barcelona, dirinya di luar posisi unggulan empat besar namun bisa keluar sebagai juara. Jadi jika bicara soal peluang, maka hal itu tetaplah ada

Apa arti Olimpiade bagi seorang pebulu tangkis ?
Olimpiade adalah turnamen yang paling sulit dimenangi oleh pebulu tangkis karena durasi kompetisi ini empat tahun sekali. Itu berarti kans untuk seorang pemain berada di posisi puncak atau peak performance mungkin hanya terjadi sekali saja sepanjang karirnya. Contohnya saya, saat tampil di Olimpiade Atlanta 1996, performa saya, saya nilai sudah menurun meskipun masih berhasil meraih perunggu. Karena itu untuk pemain Indonesia, manfaatkan kesempatan yang ada!

Kamis, 24 November 2011

Meski Juara Umum, Banyak Cabang yang Tak Capai Target




Status juara umum yang diperoleh Indonesia di ajang SEA Games XXVI/2011 jelas membanggakan lantaran inilah kali pertama Indonesia bisa kembali menjadi raja Asia Tenggara sejak 1997. Namun dibalik itu semua, ternyata ada banyak cabang yang sejatinya tidak memenuhi target yang mereka kumandangkan pada SEA Games kali ini.
Cabang yang banyak menuai kegagalan dalam SEA Games kali ini adalah cabang olahraga permainan tim, seperti bola basket, sepak bola, futsal, bola voli indoor dan voli pantai, serta sofbol dan bisbol. Dengan ketersediaan satu emas di tiap nomor (putra/putri) dan sistem kompetisi yang panjang, memang berat bagi tim Indonesia untuk memenuhi target di kategori ini. Sekali salah, mereka tak memiliki kesempatan untuk memperbaikinya.
“Para pemain sudah berjuang keras memberikan yang terbaik. Namun memang lawan tampil lebih baik di saat terakhir sehingga kita harus kalah,” papar pelatih tim basket Indonesia Rastafari Horongbala yang sepertinya juga menggambarkan perasaan seluruh pelatih cabang olahraga permainan tim.
Bukan hanya di kategori permainan tim, target meleset juga banyak dialami oleh cabang yang menyediakan banyak medali emas seperti gulat, angkat besi, boling, ski air, sepak takraw, layar, anggar dan tinju. Secara umum, target medali di nomor ini meleset sekitar 1-2 emas dari yang seharusnya diharapkan. Namun ada juga kasus khusus seperti perahu naga yang harus menerima nasib pahit lantaran gagal mendulang sekeping emas pun dari enam medali emas yang dibebankan kepada mereka.
 “Myanmar mampu mengejutkan kami. Mereka memang selama setahun ini terus membunyikan kekuatan sambil memantau persiapan kami,” ucap pelatih tim perahu naga Suryadi memberikan alasan penyebab kegagalan timnya memenuhi target.
Keberhasilan Indonesia menjadi juara umum di tengah-tengah banyaknya cabang yang gagal memenuhi target medali emas yang mereka kumandangkan tidak lain adalah lantaran banyak pula cabang yang sukses merengkuh medali emas lebih banyak dari yang ditargetkan. Contohnya saja adalah atletik yang mendapat 13 emas dari 7 yang mereka targetkan, sepatu roda yang memberikan 12 emas dari 4 yang mereka janjikan, dan balap sepeda yang berhasil mengumpulkan 12 emas dari 9 yang mereka janjikan.
Torehan tersebut sendiri mampu membuat jumlah medali emas yang diperoleh kontingen Indonesia di akhir SEA Games melebihi perkiraan para pengurus PB. Target total Pengurus PB sebelum SEA Games adalah 170 emas sedangkan di akhir SEA Games ini, Indonesia sukses mendulang 182 emas. Sebagai catatan, Program Indonesia Emas (Prima) sendiri menargetkan 155 emas di ajang SEA Games ini.

Daftar Target Medali Emas Berdasarkan Keterangan tiap PB

Cabang Olahraga              Target Emas                       Realisasi
1.       Akuatik
Renang                                                                6                              6
Loncat Indah                                      2                              1
Renang Indah                                    2                              0
Polo Air                                                1                              0
OWS                                                      2                              0
2.       Panahan                                             4                              4
3.       Atletik                                                   7                              13
4.       Badminton                                          4                              5
5.       Bisbol/Sofbol                                    1                              0
6.       Bola basket                                        1                              0
7.       Biliar                                                     2                              1
8.       Boling                                                   2                              0
9.       Tinju                                                      4                              2
10.   Bridge                                                   6                              4
11.   Kano/Kayak                                        2                              6
12.   Rowing                                                 2                              3
13.   Perahu Naga                                      6                              0
14.   Catur                                                     2                              1
15.   Sepeda                                                                 9                              12
16.   Berkuda                                               3                              3
17.   Fin Swimming                                    5                              7
18.   Sepakbola                                           1                              0
19.   Futsal                                                    2                              0
20.   Anggar                                                  2                              1
21.   Golf                                                       1                              2
22.   Senam                                                  3                              1
23.   Judo                                                      3                              4
24.   Karate                                                   8                              10
25.   Kempo                                                 5                              8
26.   Paralayang                                          5                              11
27.   Pencak Silat                                        7                              9
28.   Petanque                                            2                              0
29.   Sepatu Roda                                      4                              12
30.   Layar                                                     3                              1
31.   Sepak Takraw                                    2                              1
32.   Menembak                                         2                              2
33.   Ski Air                                                   5                              4
34.   Tenis                                                     2                              4
35.   Soft Tenis                                            3                              7
36.   Tenis Meja                                          0                              0
37.   Taekwondo                                        6                              6
38.   Bola Voli/Voli Pantai                     3                              1
39.   Panjat Dinding                                   6                              9
40.   Angkat Besi                                        7                              4
41.   Gulat                                                     5                              4
42.   Wushu                                                  5                              8
43.   Vovinam                                              5                              5
Total Emas                  :                 170                          182