Sabtu, 25 Juni 2011

Istora, Istana Teror dari Indonesia




Teriakan abisin! abisin! menggema di seluruh penjuru Istora Gelora Bung Karno pada gelaran Djarum Indonesia Terbuka Premier Super Series 2011. Teriakan yang berarti permintaan untuk menuntaskan permainan itu ditujukan kepada Greysia Polii/Meiliana Jauhari yang tengah unggul 22-21 atas Ma Jin/Pan Pan. Sekejap kemudian, Greysia/Meiliana sukses mewujudkan harapan tersebut dan jadilah Istora semakin bergemuruh dan bergelora.

Istora boleh saja tak memiliki kapasitas sebesar National Indoor Stadium (Inggris), Putra Indoor Stadium (Malaysia), maupun Singapore Indoor Stadium (Singapura). Namun jika ditanya soal teror penoton yang ada, maka Istora boleh berbangga. Kehebatan dan kekompakan para penggemar yang memadati sekitar 8000 kursi di Istora sudah terkenal hingga seluruh penjuru dunia.

“Sulit untuk bisa bermain baik di Indonesia. Penonton begitu riuh mendukung lawan sehingga kami kesulitan bermain dengan tempo yang sebenarnya,” ucap Pan Pan seusai pertandingan.

Bukan hanya Pan Pan yang sering berbuat error lantaran terkena teror, pebulu tangkis sekaliber Lin Dan pun belum bisa membuat Istora bertekuk lutut di hadapannya. Gelar Indonesia Terbuka menjadi salah satu gelar yang belum berhasil didapatkannya, meskipun titel All England, Olimpiade, Asian Games, dan berbagai gelar super series sudah dikantonginya.

“Saya tak pernah bisa menjadi favorit jika tampil di sini. Tekanan penonton begitu besar dan itu menjadi salah satu faktor di luar lapangan yang sangat menentukan,” papar Lin Dan.

Memang, tak ada pemain yang bakal bisa tampil nyaman di Istora selain pemain Indonesia sendiri. Selain bunyi-bunyi pukulan yang berasal dari balon berbentuk panjang, seruan IN-DO-NE-SIA, serta teriakan eeaa-huuu juga menjadi pemandangan rutin di tiap pergantian angka. Sekali bersikap bermusuhan dengan penonton Istora, maka siap-siap menerima akibatnya karena penonton Istora tak akan pernah lupa.

Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba jadi contohnya. Tahun lalu, boleh mereka berhasil menjadi juara dan tersenyum penuh kemenangan di tengah sorakan penonton Istora. Namun begitu tahun ini mereka kembali, publik Istora tak lupa siapa mereka. Jadilah publik Istora semakin menggila mengutuk mereka sejak pertandingan dibuka. Untuk kali ini, tawa kemenangan pun jadi milik penonton lantaran Robert/Nadiezda langsung tumbang di babak pertama.

Meski menghadirkan teror, banyak pula pemain asing yang rindu dengan suasana keriuhan Istora. “Tidak ada penonton yang lebih gila selain di Indonesia,” ucap Tine Baun. “Saya senang dengan situasi riuh dan berisik seperti ini. Benar-benar atmosfer yang menyenangkan,” Jenny Wallwork (Inggris) menimpali.

Sementara itu untuk pebulu tangkis Indonesia, Istora akan selalu menjadi penyangga. “Semangat selalu berlipat tiap tampil di sini,” Greysia menegaskan.

Istora, Istana Teror dari Indonesia




Teriakan abisin! abisin! menggema di seluruh penjuru Istora Gelora Bung Karno pada gelaran Djarum Indonesia Terbuka Premier Super Series 2011. Teriakan yang berarti permintaan untuk menuntaskan permainan itu ditujukan kepada Greysia Polii/Meiliana Jauhari yang tengah unggul 22-21 atas Ma Jin/Pan Pan. Sekejap kemudian, Greysia/Meiliana sukses mewujudkan harapan tersebut dan jadilah Istora semakin bergemuruh dan bergelora.

Istora boleh saja tak memiliki kapasitas sebesar National Indoor Stadium (Inggris), Putra Indoor Stadium (Malaysia), maupun Singapore Indoor Stadium (Singapura). Namun jika ditanya soal teror penoton yang ada, maka Istora boleh berbangga. Kehebatan dan kekompakan para penggemar yang memadati sekitar 8000 kursi di Istora sudah terkenal hingga seluruh penjuru dunia.

“Sulit untuk bisa bermain baik di Indonesia. Penonton begitu riuh mendukung lawan sehingga kami kesulitan bermain dengan tempo yang sebenarnya,” ucap Pan Pan seusai pertandingan.

Bukan hanya Pan Pan yang sering berbuat error lantaran terkena teror, pebulu tangkis sekaliber Lin Dan pun belum bisa membuat Istora bertekuk lutut di hadapannya. Gelar Indonesia Terbuka menjadi salah satu gelar yang belum berhasil didapatkannya, meskipun titel All England, Olimpiade, Asian Games, dan berbagai gelar super series sudah dikantonginya.

“Saya tak pernah bisa menjadi favorit jika tampil di sini. Tekanan penonton begitu besar dan itu menjadi salah satu faktor di luar lapangan yang sangat menentukan,” papar Lin Dan.

Memang, tak ada pemain yang bakal bisa tampil nyaman di Istora selain pemain Indonesia sendiri. Selain bunyi-bunyi pukulan yang berasal dari balon berbentuk panjang, seruan IN-DO-NE-SIA, serta teriakan eeaa-huuu juga menjadi pemandangan rutin di tiap pergantian angka. Sekali bersikap bermusuhan dengan penonton Istora, maka siap-siap menerima akibatnya karena penonton Istora tak akan pernah lupa.

Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba jadi contohnya. Tahun lalu, boleh mereka berhasil menjadi juara dan tersenyum penuh kemenangan di tengah sorakan penonton Istora. Namun begitu tahun ini mereka kembali, publik Istora tak lupa siapa mereka. Jadilah publik Istora semakin menggila mengutuk mereka sejak pertandingan dibuka. Untuk kali ini, tawa kemenangan pun jadi milik penonton lantaran Robert/Nadiezda langsung tumbang di babak pertama.

Meski menghadirkan teror, banyak pula pemain asing yang rindu dengan suasana keriuhan Istora. “Tidak ada penonton yang lebih gila selain di Indonesia,” ucap Tine Baun. “Saya senang dengan situasi riuh dan berisik seperti ini. Benar-benar atmosfer yang menyenangkan,” Jenny Wallwork (Inggris) menimpali.

Sementara itu untuk pebulu tangkis Indonesia, Istora akan selalu menjadi penyangga. “Semangat selalu berlipat tiap tampil di sini,” Greysia menegaskan.

Rabu, 11 Mei 2011

Teruslah Berkarya PBSI!






TANGGAL 5 Mei di Bandung, 60 tahun lalu, sebuah organisasi bernama Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) berdiri. Organisasi tersebut merupakan wadah resmi untuk menaungi cabang olahraga bulu tangkis di Indonesia. Tidak hanya bertugas mengakomodasi dan mempersatukan beberapa perkumpulan-perkumpulan bulu tangkis seperti misi dan tujuan awalnya, PBSI kemudian berubah menjadi sebuah organisasi yang mampu mencetak kebanggaan bagi bangsa Indonesia lewat prestasi para atletnya.
Sejak awal berdirinya, tak terhitung berapa banyak gelar internasional yang sudah diraih oleh para pebulu tangkis Indonesia. Piala Thomas, lambang supremasi kejuaraan beregu putra, sudah diraih sebanyak 13 kali yang menjadikan Indonesia sebagai negara peraih gelar terbanyak. Piala Uber pun sudah tiga kali disabet oleh Indonesia. Begitu pun emas Olimpiade. Sejak pertama kali dipertandingkan di Olimpiade Barcelona 1992, para pebulu tangkis Indonesia tak pernah absen menyumbangkan medali emas.
Deret kesuksesan itu jelas tak lepas dari peran PBSI sebagai induk organisasi. Lewat program-program berkualitas yang pernah dibuatlah sejumlah prestasi hebat para pemain Indonesia berasal. Tanpa desain yang bagus dari para pengurus PBSI, mustahil bakat-bakat hebat para legenda bulu tangkis Indonesia bisa termaksimalkan.
Sejak dekade 1950-an, atau kurang dari sepuluh tahun sejak PBSI berdiri, mereka sudah sukses membuat harum nama bangsa Indonesia lewat raihan Piala Thomas. Dua dekade setelahnya kemudian merekam jelas betapa dominannya Indonesia di bulu tangkis, khususnya di beregu putra. Tercatat hanya Malaysia yang berhasil mencuri gelar dari tujuh perhelatan Piala Thomas yang berlangsung di dekade 1960-an dan 1970-an.
Meski tak begitu kuat di beregu putri dengan hanya merebut satu Piala Uber dalam dekade tersebut, namun Indonesia masih memiliki putri berprestasi di kejuaraan individu seperti Minarni, Retno Koestijah, Verawaty Fadjrin, hingga Ivana Lie.
Ketika Cina sudah mulai mengikuti kompetisi BWF pada dekade 1980-an, Indonesia memang sempat meredup di dekade tersebut dengan hanya meraih satu titel Piala Thomas pada tahun 1984. Setelah memborong empat gelar juara di Kejuaraan Dunia 1980, Indonesia pun meredup di turnamen tersebut dengan hanya meraih satu titel juara pada empat kesempatan yang ada di dekade 1980-an.
Kehadiran Cina ini jadi pelecut bagi PBSI untuk memperbaiki diri. Mereka memang kalah di periode 1980-an, namun mereka mulai mempersiapkan pemain muda untuk balas dendam di dekade selanjutnya.
Terbukti, Indonesia balik mengungguli Cina di era 1990-an. Selain lima gelar beruntun Piala Thomas yang didapat dari 1994-2002, Indonesia juga sempat merusak kedigdayaan Cina di Piala Uber dengan dua gelar beruntun pada 1994 dan 1996. Selain berjaya di kelompok beregu, gelar di sektor perorangan pun begitu banyak direguk pada masa itu. All Indonesian Final jadi sesuatu yang jamak dan lazim di berbagai turnamen.
Namun kini di usianya yang ke-60 tahun, PBSI dihadapkan pada suatu situasi yang sulit. Piala Thomas sudah lama tak diraih, begitupun Piala Uber dan juga Piala Sudirman. Dua perhelatan Kejuaraan Dunia terakhir usai tanpa ada nama Indonesia sebagai juara.
Pemain andalan semakin menua, dan pemain muda masih harus berusaha keras agar bisa menggenggam tongkat estafet dari mereka. Tradisi emas Olimpiade, satu-satunya kebanggaan tingkat dunia yang tersisa, kini menjadi sebuah tanda tanya apakah bulu tangkis masih bisa menjadi kebanggan kita di London tahun depan.
Jika diibaratkan manusia, 60 tahun adalah usia yang tak lagi produktif. Sulit berharap kreasi dan prestasi lahir di usia tersebut. Usia 60 tahun adalah masa yang tepat untuk mengenang kejayaan masa lalu dengan membuka foto kenangan ataupun berbagai trofi yang tersimpan di lemari penghargaan.
Tapi PBSI bukan manusia! PBSI adalah organisasi besar kebanggaan Indonesia. Pengurusnya pun terus mengalami regenerasi sehingga seharusnya tak ada kata jemu dan jenuh. Karena itu apa yang dialami PBSI saat ini bukanlah lantaran faktor umur yang menua melainkan memang produktivitas PBSI sebagai sebuah organisasi memang tengah menurun.
 
Lantas, apakah PBSI harus dibiarkan mengobati dirinya sendiri? Saat PBSI sukses mengantarkan atletnya meraih prestasi dunia, tentu kita semua bangga. Karena itu sudah selayaknya saat PBSI tengah terkulai lesu prestasi seperti saat ini kita harus menopangnya bersama.
Pemerintah harus memperhatikan secara fokus olahraga yang satu ini. Pasalnya bulu tangkis adalah satu-satunya olahraga yang bisa memberikan emas Olimpiade dan membuat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di pesta olahraga internasional. Jangan sampai nanti baru ada reaksi terlambat dari Pemerintah saat tradisi emas di Olimpiade gagal diteruskan.
Dari sisi pengurus daerah, pengprov PBSI dan satuan-satuan di bawahnya harus bisa menjadi pendukung bagi PBSI pusat. Andai pembinaan di tingkat provinsi sudah bagus, maka tugas PBSI melalui Pelatnas-nya hanya tinggal memoles talenta yang sudah ada, bukan lagi mencetak dari awal. Tentu ini juga akan meringankan beban klub-klub bulu tangkis yang selama ini lebih dikenal sebagai pemasok atlet ke Pelatnas ketimbang Pelatda daerah mereka sendiri.
Para atlet juga memegang peranan penting. Jangan sampai Pelatnas menjadi tujuan akhir dalam karier mereka. Pelatnas hanyalah persinggahan dan tujuan akhir yang harus dicanangkan adalah prestasi tingkat dunia.
Jangan sampai perjuangan dan pengorbanan yang sudah mereka lakukan sejak kecil hanya berakhir di Cipayung. Pasalnya dengan terjun di bulu tangkis, mind set atlet tersebut sudah bukan lagi untuk menjadi yang terbaik di Indonesia ataupun Asia, melainkan harus menjadi yang terbaik di dunia.
Dengan dukungan dari berbagai sisi, niscaya pengurus PBSI akan lebih mudah memperbaiki diri. Selamat Ulang Tahun PBSI. Teruslah berkarya dengan mencetak prestasi!

Kamis, 05 Mei 2011

‘Tim Kali Ini Lebih Bagus’




Kesuksesan Satria Muda (SM) Britama merajai NBL Indonesia atau dulu disebut IBL tak lepas dari peran vitalnya. Berbekal kecepatan dan visi bermain yang bagus, Faisal Julius Achmad memang menjadi momok mengerikan bagi setiap tim lawan. Harapan yang saa pun dibebankan pada pundaknya manakala dirinya bergabung dalam tim SEA Games kali ini. Bagaimana harapan Faisal, berikut petikan wawancaranya bersama TopSkor.
Anda termasuk dalam barisan pemain senior dalam tim SEA Games kali ini, bagaimana pendapat anda ?
Jika acuannya adalah tahun bermain, saya memang sudah cukup lama memperkuat tim nasional yaitu sejak tahun 2004, namun untuk ajang SEA Games sendiri saya baru sekali memperkuat tim yaitu pada tahun 2007, karena di tahunn 2005 dan 2009 bola basket tidak dipertandingkan.
Dibandingkan dengan tim tahun 2007, dimana posisi tim tahun ini ?
Jika dilihat dari segi persiapan tim 2007 bisa dikatakan lebih baik karena kami melakukan persiapan selama setahun sebelum SEA Games digelar. Namun jika dilihat dari materi tim, tim tahun ini lebih bagus karena eks pemain dalam tim 2007 pastinya bertambah matang dipadu dengan pemain-pemain muda yang memiliki talenta hebat
Dengan kondisi demikian, target apa yang pantas disandang ?
Kami semua sedari awal sudah berkomitmen untuk sekuat tenaga mewujudkan emas pertama bagi cabang bola basket di ajang SEA Games. Dengan latihan yang dan kerja keras kami sampai waktu pelaksanaan nanti, semoga hal itu bisa terwujud.
Apakah lawan berat hanya Filipina ?
Tidak. Thailand dan Malaysia juga sudah mulai mengancam. Bisa kita lihat di Asean Basketball League, dimana pemain Thailand banyak memperkuat Thailand Slammers dan tim nasional Malaysia bermain di Kuala Lumpur Dragons. Dibandingkan musim pertama, mereka menunjukkan perkembangan grafik permainan yang meningkat, saya sendiri beruntung karena pernah menjajal kemampuan mereka di ajang ABL
Banyak pemain SM Britama tergabung dalam tim ini. Apakah itu membuat kalian mengelompok dalam pelatihan ini ?
Sama sekali tidak. Kami berbaur dengan para pemain lainnya. Meskipun berbeda tim namun kami semua sudah akrab satu sama lain sehingga tidak ada istilah mengelompok dalam pelatnas ini.

Selasa, 05 April 2011

Djokovic dan Status Tak Terkalahkan


Sejak beberapa tahun lalu, Novak Djokovic, bersama Andy Murray telah disebut-sebut sebagai calon pengganggu keperkasaan rivalitas Roger Federer-Rafael Nadal. Namun tahun berganti tahun, baru pada 2011 inilah Djokovic benar-benar menunjukkan aksinya.
Melihat rekam jejak Djokovic di tahun 2011 ini, siapapun pasti setuju bahwa Djokovic sudah mengalami peningkatan level dari sekedar pengganggu rivalitas Nadal-Federer menjadi perusak. Bagaimana tidak, ia mampu tampil sempurna dengan tidak pernah kalah di tiga bulan pertama di tahun 2011 ini. Dia tak terkalahkan di 26 partai dan merebut Australia Terbuka, ATP Dubai, Indian Wells Masters, dan Miami Masters. Borongan gelar ini sendiri membuat Federer dan Nadal menjadi hampa gelar sepanjang ini.
Dengan kemampuan superiornya, apakah tahun 2011 ini akan menjadi milik Djokovic ? Memang hampir mustahil untuk tidak terkalahkan sepanjang tahun, namun untuk bisa mendominasi tahun 2011 seperti yang dilakukan Nadal di tahun 2008 dan 2010 serta Federer pada 2009, 2007, dan tahun-tahun sebelumnya, peluang Djokovic untuk melakukan itu sangat terbuka.
Namun sebelum Djokovic berpikir mampu untuk melakukannya, ia akan mendapati tantangan berat tak lama lagi. Ya, seri ATP sebentar lagi akan memasuki seri lapangan tanah liat, lapangan yang selama ini identik dengan sosok Nadal.
Djokovic memang memiliki sedikit rekam jejak juara di lapangan tanah liat seperti pada Roma Masters 2008 ini. Namun secara keseluruhan, Djokovic hanyalah ‘batu kerikil’ jika dibandingkan oleh Nadal di lapangan tanah liat. Ya, Djokovic hanya meraih empat titel di lapangan tanah liat dimana tiga lainnya adalah turnamen kelas ATP World Tour 250 Series yang merupakan turnamen kasta keempat.
Bandingkan torehan tersebut dengan rekor Nadal. Tidak perlu mengambil waktu lama, cukup menilik ke rekor tahun lalu, dimana Nadal menyapu bersih gelar di Monte Carlo, Roma, dan Madrid Masters, plus menjadi yang terbaik di grand slam Prancis Terbuka.
Jadi jika memang Djokovic benar-benar menguasai musim ini, indikatornya akan lebih terpenuhi andai dirinya mampu setidaknya mengganggu dominasi Nadal di seri lapangan tanah liat tahun ini. Karena apa yang dilakukan Djokovic di seri lapangan jenis hard court awal tahun ini, bukanlah sesuatu yang begitu istimewa mengingat hard court adalah jenis lapangan yang paling dikuasai oleh Djokovic sejauh ini.

Minggu, 03 April 2011

Hadi Tak Bisa Langsung Abrakadabra




Setelah lowong selama tiga bulan, posisi Kabid Binpres PBSI akhirnya resmi terisi. PBSI resmi menunjuk Hadi Nasri sebagai Kabid Binpres PBSI di sisa waktu dua tahun masa kepengurusan PBSI era Djoko Santoso. Di samping Ketua Umum, jelas sudah bahwa Kabid Binpres adalah posisi paling rawan disorot, baik oleh media maupun masyarakat.
Karena itu, setibanya Hadi duduk di kursi itu, pastilah tatapan tajam para pencinta bulu tangkis Indonesia menjadi pemandangan yang lumrah bagi Hadi. Dirinya harus bisa segera membangkitkan prestasi bulu tangkis Indonesia di tingkat dunia, itulah yang ada di benak para pengharap.
Ya, Hadi memang sudah berpengalaman. Track record nya bagus jika tidak mau disebut nyaris sempurna. Ia masuk dalam tim Bidang Pembinaan dan Prestasi baik itu sebagai koordinator pelatih maupun Wakabid Binpres  pada era 1989-2002, era dimana bulu tangkis Indonesia disebut sebagai yang terhebat di dunia. Karena itu, wajar jika harapan agar Indonesia bisa kembali jaya tersemat di pundaknya.
Namun satu hal yang pasti, Hadi bukanlah pesulap yang saat ini bisa langsung berucap abrakadabra dan  semua permasalahan bulu tangkis saat ini hilang tak berbekas dan berganti menjadi kejayaan yang disambut oleh tepuk tangan penonton.
Hadi memang diharapkan sebagai pesulap handal oleh PBSI, tetapi pesulap pun butuh materi dan trik untuk mempersiapkan pertunjukannya terlebih dulu. Tidak ada pesulap yang bisa langsung naik panggung dan memunculkan kelinci dari dalam topi jika ia tak mempersiapkan triknya terlebih dulu di belakang panggung.
Inilah yang akan coba dikerjakan oleh Hadi saat ini. Ia berjanji akan mulai bergerak dan bekerja. Mulai dari menganalisa situasi yang ada pada para pemain, pelatih, hingga pengurus, sampai akhirnya nanti mulai merumuskan program berjenjang.
Dalam mempersiapkan materi ‘sulap’ nya ini, jelas Hadi butuh masukan dan kritikan. Ia pun secara terbuka menegaskan hal tersebut. Namun yang pasti, saya harap jangan ada intervensi wewenang atau bahkan ‘kudeta’ dalam upaya Hadi mempersiapkan bahan sulapnya. Biarkan Hadi memiliki otorisasi penuh dimana didalamnya terdapat celah bagi setiap pencinta bulu tangkis Indonesia memiliki tempat untuk memberi masukan.
Selagi Hadi mempersiapkan bahan sulapnya, sudilah kiranya kita sabar menantinya dengan sebuah pengharapan dan tentu doa berisi dukungan. Piala Sudirman tak mungkin jadi panggung utama untuk Hadi beraksi mementaskan sulapnya karena waktunya terlalu singkat. Namun semoga saja dari Kejuaraan Dunia 2011 yang berlanjut pada SEA Games 2011, Piala Thomas/Uber 2012, hingga Olimpiade 2012, Hadi sudah siap beraksi dan memamerkan kebolehannya menyulap prestasi bulu tangkis Indonesia dan mendapat sambutan meriah dari para penonton yang selama jantungnya terus berdegup kencang.

Bekasi, 5 April 2011

Baggio dan Cinta Pertama Saya Kepada Sepakbola


Tak mungkin bisa dilupakan, hari itu pagi di rumah suasana sudah ceria. Saya yang saat itu masih kelas 4 SD melihat Bapak begitu antusias memandangi layar kaca. Ya, saat itu di layar kaca memang World Cup 94 sedang ditayangkan secara langsung. Saya sendiri bukanlah anak yang awam dengan sepak bola. Sejak kecil, Bapak selalu mendekatkan saya dengan sepakbola, mulai dari memberikan kaos Maradona saat masih balita, memperkenalkan Sampdoria sebagai klub favoritnya, hingga mengidolakan Brasil sebagai juara Piala Dunia 1994.
Namun ternyata semua godaan yang Bapak berikan tak membuat saya jatuh cinta. Saya lebih suka memilih cinta pertama saya pada sepakbola dengan mandiri. Satu persatu pemain hebat saya amati, mulai dari Romario, Juergen Klinsmann, Hristo Stoickhov, Tomas Brolin, hingga Maradona yang saat itu berada di penghujung karirnya.
Tidak, tak satupun yang membuat hati ini tergoda. Hati ini baru berdegup kencang saat melihat tim Italia bertanding. Saya tahu Maldini, saya tahu Franco Baresi, dan saya tahu Roberto Baggio, karena dia adalah pemain terbaik setahun sebelumnya, itu yang saya baca di Koran keesokan harinya. Ya, keesokan harinya karena sehari sebelumnya saya begitu terkesima melihat sosoknya. Rambut ekor kuda jelas menjadi daya tarik paling besar dari dirinya, karena secara teknis permainan, sebagai anak delapan tahun saya pun belum tahu apa-apa.
Piala Dunia 1994 pun menjadi semakin menarik seusai saya menemukan sosok dan tim favorit yang tentu saja jatuh pada Italia. Pertandingan yang berlangsung pada Subuh atau pagi hari semakin memudahkan saya untuk mendalami kehebatan Baggio.
Bak cerita sinetron, kehebatan Baggio pun semakin meningkat seiring terus melajunya Italia. Saya semakin tergila-gila dan tak ragu untuk memilih namanya sebagai pemain favorit dalam dunia sepakbola.
Namun ternyata, apa yang diharapkan tidak selalu menjadi kenyataan. Italia yang melaju ke final dengan Baggio sebagai aktor utama gagal merengkuh trofi Piala Dunia untuk keempat kalinya dimana Baggio juga dianggap sebagai aktor utama kegagalan tersebut. Semua mencaci Baggio saat itu, tapi pendirian saya tak goyah. Dia memang tertunduk lesu usai tendangannya melayang di atas mistar, namun sosok itu justru terlihat gagah di mata saya. Meski Italia gagal juara dunia, ‘cinta’ saya terhadap Baggio justru mencapai klimaks dan mempengaruhi sikap saya terhadap dunia sepakbola di tahun-tahun berikutnya.