Minggu, 09 Maret 2014

Hendra Setiawan dan Obrolan di Pengujung 2013

Recent update BBM milik saya pada Rabu (19/2) jelang siang dihiasi oleh foto sepasang bayi kembar. Di sebelahnya, tertulis nama Hendra Setiawan. Ternyata, Hendra dan istrinya, Sandiani Arief baru saja dianugerahi sepasang bayi kembar laki-laki dan perempuan.
Peristiwa ini pun kemudian membawa ingatan ke waktu beberapa bulan sebelumnya di pengujung 2013. Ketika itu, selepas sesi latihan pagi di GOR Pelatnas Cipayung, Hendra sempat berbincang-bincang mengenai target di tahun 2014 dan harapan-harapan besarnya.
Meski sudah meraih banyak gelar bergengsi, mulai dari medali emas Olimpiade, juara dunia (dua kali dengan pasangan yang berbeda), Asian Games, SEA Games, hingga sederet titel BWF  super series/premier, namun Hendra seperti belum puas dengan koleksi gelar yang dimilikinya. Maklum saja, gelar All England masih menari-nari menggoda untuk dimiliki.
Karena itulah, Hendra pun tak ragu untuk menyebut All England sebagai buruan utamanya di tahun 2014, selain tentunya ingin mempertahankan gelar juara dunia dan merebut kembali medali emas Asian Games, plus menjadi tulang punggung Indonesia untuk meraih Piala Thomas untuk pertama kalinya dalam 12 tahun terakhir.
Gambar
All England memang masih menjadi mimpi besar Hendra. Meski sudah mulai jadi ganda yang diperhitungkan di level dunia sejak bertahun-tahun silam saat berpasangan dengan Kido, Hendra belum pernah sekalipun merasakan nikmatnya mengangkat trofi All England. Karena itulah, tahun 2014 ini dianggap sebagai kesempatan terbaik untuk Hendra meraih gelar All England.
Pasalnya duet Ahsan/Hendra yang baru berusia satu tahun lebih tengah menjadi mata badai di persaingan nomor ganda putra dunia. Mereka tengah berada di performa terbaik dan memiliki kesempatan besar merebut gelar All England.
Berbicara panjang lebar soal target dan harapan, kemudian pembicaraan pun berlanjut pada fakta bahwa Ahsan dan Hendra akan menyandang status Ayah pada tahun 2014 ini. Di sinilah kemudian sisi menariknya, jika Ahsan diprediksi akan menjadi Ayah pada bulan Januari, maka Hendra justru diprediksi kemungkinan akan menjadi Ayah pada Februari hingga awal Maret.
Awal Maret adalah waktu pelaksanaan All England tahun ini, yaitu tepatnya pada 4-9 Maret. Pertanyaan selanjutnya di penghujung tahun 2013 itu pun kemudian bisa ditebak, adakah nantinya proses menunggu anak pertama ini akan mengganggu persiapan menuju All England atau bahkan membatalkan keikutsertaan Hendra ke All England jika waktu kelahirannya ternyata benar-benar bersamaan? Bagaimanapun, Hendra yang telah mengikat janji suci dengan sang istri di tahun 2011, kelahiran anak ini jelas merupakan ‘prestasi’ yang sudah ditunggu-tunggu sejak lama.
Saat itu Hendra tidak menampilkan keterkejutan dalam raut wajahnya menghadapi pertanyaan ini. seolah-olah jawaban dari pertanyaan ini memang telah dia pikirkan dan pertimbangkan sebelumnya. Hendra pun menyebut bahwa dirinya akan tetap berangkat ke All England meskipun itu berarti dia tak menunggu proses kelahiran anaknya. Semua demi tanggung jawabnya mengharumkan nama bangsa Indonesia di mata dunia.
Gambar
Namun akhirnya Hendra pun tidak dihadapkan pada pilihan sulit itu. Hendra masih ada di Indonesia ketika sepasang putra-putri nya dilahirkan ke dunia ini.  Hendra masih memiliki waktu untuk bercengkrama dengan putra-putrinya sebelum bertolak ke Birmingham untuk All England. Mungkin Richard dan Richelle, nama putra dan putri Hendra,  sendiri juga sudah tak sabar untuk menyaksikan kesuksesan sang Ayah di turnamen bulu tangkis tertua di dunia itu. Yang pasti, bertambah lagi satu motivasi Hendra untuk menjadi juara, apalagi kalau bukan untuk memberikan kado bagi keluarga kecilnya. Semoga! Semoga Ahsan/Hendra bisa juara!

Kapan Kembali, Lin Dan ?

Akhir Januari lalu, Lin Dan diberitakan sudah kembali berlatih intensif dan siap untuk kembali terjun ke persaingan kompetitif bulu tangkis dunia. Namun, nyatanya, dalam daftar nama atlet yang ikut All England, nama Lin Dan belum ada. Pun begitu halnya ketika daftar nama Swiss Grand Prix Gold di-publish pada Jumat (14/2), nama Lin Dan masih tidak terlihat dari daftar nama yang terlampir. Sejatinya bagaimana Lin Dan memandang bulu tangkis sebagai bagian dari hidupnya saat ini? Hal tersebut sendiri sangatlah menarik untuk dicermati dan didiskusikan.
Banyak orang yang sangat yakin bahwa bab penutup karir Lin Dan sebagai seorang pebulu tangkis ada di Olimpiade London 2012. Saat itu, Lin Dan sudah secara sah dan diakui banyak orang sebagai pebulu tangkis terhebat di dekade ini, atau bahkan mungkin bisa diperdebatkan sebagai pebulu tangkis tunggal putra terhebat sepanjang masa, bersaing dengan nama legendaris lainnya. Menjaga konsistensi di papan atas selama bertahun-tahun plus meraih dua medali emas Olimpiade yang rentang jaraknya empat tahun, jelas butuh usaha yang luar biasa untuk mewujudkan hal tersebut.
Tapi ternyata, usai meraih medali emas Olimpiade London 2012, sama sekali tidak ada pernyataan bahwa Lin Dan akan gantung raket. Yang ada hanya pernyataan bahwa ia akan rehat sejenak dari kompetisi untuk kemudian kembali lagi. Dan janji Lin Dan itu diakhiri dengan manis tatkala ia sukses menjadi juara dunia 2013 dengan fakta bahwa ia vakum dari kompetisi level dunia untuk beberapa bulan lamanya.
Namun nyatanya usai menjadi juara dunia, Lin Dan seolah kembali meninggalkan misteri manakala ia kembali memutuskan untuk beristirahat dari kompetisi seri BWF meski untuk liga lokal atau partai eksebisi dirinya masih tampil. Pasca juara Olimpiade, memang rasanya wajar jika Lin Dan berkata bahwa ia jenuh dan ingin rehat dari kompetisi. Namun, begitu kembali bermain di kompetisi dan menjadi juara dunia, adalah hal yang mengherankan jika Lin Dan kembali memutuskan untuk kembali beristirahat dari kompetisi.
Lin Dan sudah meraih semua yang diinginkan pebulu tangkis di dunia ini. Dari gelar perorangan seperti Olimpiade, Kejuaraan Dunia, All England, Asian Games, dan berbagai titel super series lainnya, hingga gelar di turnamen beregu seperti Piala Thomas dan Piala Sudirman, semua sudah dimenangi Lin Dan. Lalu apalagi yang masih harus dibuktikan Lin Dan ?
Gambar
Sebelum meraih periode emas dalam karirnya, Lin Dan pernah mengalami masa mengesalkan dalam hidupnya sebagai seorang pebulu tangkis. Periode 2004-2006 boleh jadi merupakan salah satu masa yang diingat Lin Dan. Terlepas dari banyak gelar yang ia raih di tahun itu, Lin Dan gagal memenangi tiga turnamen besar dalam tiga tahun beruntun pada 2004-2006 yaitu Olimpiade Athena 2004, Kejuaraan Dunia 2005, dan Asian Games 2006. Padahal di tiga ajang itu, Lin Dan selalu berstatus sebagai unggulan pertama. Malah di Kejuaraan Dunia 2006 saat Lin Dan menjadi unggulan kedua Lin Dan berhasil menjadi juara.
Dan menariknya, pemenang dari Olimpiade 2004, Kejuaraan Dunia 2005, dan Asian Games 2006 berujung pada satu nama, Taufik Hidayat. Ditelisik lebih lanjut, Taufik memenangi tiga turnamen itu dengan status sebagai pemain yang tidak diunggulkan di posisi unggulan lima besar.
Mungkinkah hal ini yang juga ingin ditunjukkan Lin Dan saat ini? Bahwa ia juga bisa tetap menjadi juara meski tidak berada dalam posisi yang diunggulkan? Bahwa ia juga bisa tetap juara meskipun lama vakum dari kompetisi dan pertandingan? Lin Dan mampu membuktikan hal itu di Kejuaraan Dunia 2013 di usia yang sudah mencapai 30 tahun dan banyak puji-puji yang langsung mengalir kepadanya. Andai ia kembali mampu melakukannya saat ini, yaitu kembali dari masa vakum dan langsung memenangkan banyak gelar bergengsi, maka pujian dan pengakuan akan kehebatannya pun makin deras mengalir kepadanya.
Selain itu bisa jadi Lin Dan benar-benar jenuh terhadap persaingan di dunia bulu tangkis namun dirinya belum bisa sepenuhnya lepas dari olahraga ini dan memutuskan untuk gantung raket. Bisa saja Lin Dan merasa dirinya terlalu superior dalam keadaan normal sehingga kompetisi bulu tangkis tak akan menarik lagi baginya. Karena itu, dia menciptakan handicap dan tantangan bagi dirinya sendiri agar bulu tangkis masih menyisakan hal mendebarkan bagi dirinya.
Karena itu, Lin Dan sejauh ini belum menyatakan mundur secara resmi. Entah apa yang ada dalam benaknya. Apakah dirinya masih menyimpan hasrat untuk tampil di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, hanya dirinya yang tahu. Namun yang jelas, sikap menggantung Lin Dan saat ini adalah semacam seruan tantangan dan pernyataan perang  bagi seluruh pebulu tangkis tunggal putra di dunia untuk berada dalam kondisi siap saat Lin Dan kembali menjejakkan kaki ke arena persaingan.
-Putra Permata Tegar Idaman-

Lavillenie, 1 cm, dan Bubka

Seberapa besar arti perbedaan 1 cm itu ? Tergantung pada siapa pertanyaan itu diajukan. Jika pertanyaan itu diajukan kepada Renaud Lavillenie, maka 1 cm itu boleh dibilang merupakan perbedaan yang sangat besar. Perbedaan yang memerlukan perjuangan sekuat tenaga sepanjang hidupnya dan perbedaan yang membuat dirinya pun kini akan dikenang dalam beberapa tahun atau mungkin dekade mendatang.
Ya, Lavillenie baru saja sukses melakukan lompatan setinggi 6,16 m di ajang Donetsk Meeting di Donetsk pada Sabtu, 15 Februari kemarin. Sebuah rekor dunia baru memecahkan rekor dunia lompat galah atas nama Sergey Bubka dengan selisih 1 cm lebih tinggi.
Gambar
Renaud Lavillenie
Meski hanya perbedaan 1 cm, butuh 21 tahun untuk bisa memecahkan rekor itu karena Bubka sendiri menorehkan rekor sebelumnya pada 21 Februari tahun 1993. Dari panjangnya rentang waktu tersebut, jelas sudah sangat banyak atlet lompat galah yang terus berjuang namun gagal untuk sekedar lebih unggul 1cm saja dari Bubka.
Namun Lavillenie sukses membuat rekor dengan cara yang sangat luar biasa. Tidak hanya soal catatan angka, namun Lavillenie melakukannya di tempat Bubka menorehkan rekor sebelumnya plus di Negara tempat Bubka berasal. Tidak sampai di situ saja, Bubka sendiri menjadi satu dari sekian pasang mata yang menjadi saksi peristiwa bersejarah ini.
“Saya rasa, saya butuh waktu sesaat lagi untuk bisa kembali sadar dan menjejakkan kaki ke bumi karena perasaan saya saat ini sangatlah gembira sekali. Saya hanya berpikir bahwa tempat ini adalah tempat terbaik untuk coba memecahkan rekor dan saya berhasil melakukannya. Ini gila.”
Begitulah komentar Lavillenie setelah pertandingan berakhir. Nampak ia masih tak percaya bahwa ia kini sudah memegang rekor dunia lompat galah baik untuk indoor maupun keseluruhan (rekor outdoor juga atas nama Bubka dengan 6,14 m). Lompatannya adalah lompatan tertinggi sepanjang sejarah lompat galah sejauh ini.
Namun, keberhasilan Lavillenie sendiri tidak datang dengan serta merta begitu saja. Atletik berbeda dengan olahraga permainan yang faktor kejutannya lebih mungkin kerap terjadi. Atletik adalah olahraga terukur yang performa tiap atletnya bisa dihitung dan dicatat sebagai statistik. Faktor kejutan sangatlah minim kemungkinannya bisa hadir sebagai kenyataan.
Sebelum memecahkan rekor ini sendiri, Lavillenie adalah juara Olimpiade London 2012. Ia sudah resmi tercatat sebagai salah satu atlet lompat galah terhebat dengan torehannya tersebut meskipun untuk urusan Kejuaraan Dunia, ia harus puas dengan torehan 1 perak plus 2 perunggu sepanjang keikutsertaannya.
Namun Lavillenie sadar bahwa dirinya tidak akan dikenang oleh banyak orang jika tak bisa melewati Bubka meskipun medali emas Olimpiade sudah di tangan. Sejak tiga dasawarsa terakhir, lompat galah putra adalah Bubka dan Bubka adalah lompat galah putra. Demikian analoginya lantaran begitu dominannya Bubka semasa ia aktif menjadi atlet dan rekornya pun tak bisa dipecahkan setelah ia lama pensiun.
Karena itulah ia terus terobsesi untuk bisa melewati capaian Bubka yang sudah bertahan 21 tahun. Optimisme Lavillenie mulai menemui titik terang manakala ia mampu memperbaiki catatan terbaik dirinya sendiri pada bulan Januari lalu dengan tinggi lompatan 6,04 meter di Rouen. Tak lama berselang, Lavillenie pun kembali mempertajam catatan miliknya menjadi 6,08 meter di Bydgoszcz pada akhir Januari. Pada dua kesempatan itu, Lavillenie sendiri mengganti panjang galah yang biasa dia gunakan sebagai salah satu upaya mencari cara meningkatkan performanya.
“Pada awalnya saya hanya berharap bisa terus konsisten melompat di atas 6 meter pada tiap perlombaan tahun ini. Namun ternyata saya bisa mulus melewati dua ketinggian itu tanpa kesulitan berarti. Inilah yang membuat saya optimistis bisa memecahkan rekor dunia.”
Kalimat inilah yang diucapkan oleh Lavillenie pada bulan lalu. Sebuah optimisme memancar jelas dari pernyataannya dan nyatanya tidak butuh satu bulan dari ucapan tersebut terlontar, Lavillenie sudah benar-benar ada di puncak dunia dan mengalahkan rekor milik Bubka. Selain butuh kemampuan, kepercayaan diri jelas menjadi modal penting di balik sebuah keberhasilan.
Lalu bagaimana dengan Bubka? Adakah dirinya terluka dan merasa dipermalukan oleh peristiwa yang berlangsung di negaranya sendiri? Ternyata tidak. Bubka tetap bersikap ksatria dan memegang prinsip seorang juara.  Dia sangat sadar bahwa hari dimana rekor miliknya akan dipecahkan oleh orang lain pasti akan datang, entah itu cepat atau lambat. Karena itu pelukan hangat pun langsung diberikan Bubka kepada Lavillenie di tengah gemuruh publik Ukraina yang juga tetap menyambut hangat peristiwa bersejarah di dunia olahraga ini meski itu berarti satu catatan rekor atlet legendaris mereka terhapus.
Gambar
Bubka dan Lavillenie
“Saya tidak terkejut dengan hasil ini. Lavillenie adalah atlet yang hebat dan saya harap dirinya terus mencatat hasil spektakuler setelah ini,” kata Bubka tanpa sedikit pun nada penyesalan.
Dan Bubka memang tak perlu menyesali apa yang terjadi.  Lavillenie pun bisa melompat dengan begitu hebat tidak lain karena Bubka. Ya, karena Bubka telah menetapkan standar yang tinggi di masa silam sehingga para atlet di generasi setelahnya semakin terpacu dan berlomba untuk melampaui garis batas yang telah ditetapkan oleh Bubka.
-Putra Permata Tegar Idaman-

Gugur Satu, Tumbuh atau Tunggu Seribu ?

Gugur Satu Tumbuh Seribu. Peribahasa Indonesia lawas yang bernuansa positif. Artinya segala sesuatu yang telah hilang akan ada penggantinya. Namun jelas, tidak semuanya bakal berjalan sebagaimana yang direncanakan dan diharapkan.
Contoh sederhananya peribahasa Gugur Satu Tumbuh Seribu yang belum terwujud adalah munculnya sosok pengganti dari Susi Susanti, pebulu tangkis tunggal putri terbaik di Indonesia yang pernah ada sejak dirinya memutuskan gantung raket. Sudah lebih dari satu dekade Indonesia menantikan munculnya pengganti Susi, namun hingga Susi berusia 43 tahun hari ini, 11 Februari, sosok yang dinanti belum juga ada. Jangankan seribu seperti halnya peribahasa, satu pun Indonesia belum punya.
Gambar
copyright : BBC
Susi memang istimewa. Semua aksi yang pernah dilakukannya di lapangan masih terbayang jelas di benak bangsa Indonesia, mulai dari mereka yang sudah dewasa hingga anak-anak yang belum paham sepenuhnya tentang permainan bulu tangkis ketika Susi sedang berjaya. Mulai dari gaya servis, foot work, hingga aksi split untuk menjangkau shuttlecock pun tak pernah bisa lepas seluruhnya dari ingatan di dalam kepala.
Gambar
copyright : The Star
Susi memang istimewa. Mental bertandingnya begitu luar biasa. Membaca ulasan-ulasan dan tulisan yang ada, Susi memang tak akan mau menyerah jika pertandingan belum benar-benar berakhir meski dirinya sudah tertinggal dengan skor yang sangat jauh. Selain medali emas Asian Games, seluruh gelar bergengsi di turnamen bulu tangkis sudah semuanya dimiliki oleh Susi. Susi pun bisa tersenyum karena untuk urusan nomor beregu pun, tangannya pernah mengangkat Piala Sudirman dan Piala Uber.
Dan tak perlu diperdebatkan lagi, sosok Susi lah yang kemudian mendorong banyak putri-putri di Indonesia untuk menggemari permainan bulu tangkis. Semuanya ingin menjadi seperti Susi. Semua ingin nantinya bisa berada di posisi Susi, di podium tertinggi untuk mengharumkan nama Indonesia.
Boleh dibilang, para pebulu tangkis Indonesia yang mulai berkarir di era 2000-an, setelah Susi pensiun di penghujung dekade 1990-an,  pun banyak yang menganggap Susi sebagai idola dan panutan mereka dalam berkarir bulu tangkis. Namun hingga kini, 20 tahun setelah Susi memimpin Tim Indonesia menjuarai Piala Uber untuk yang kedua kalinya pada 1994, belum ada pemain yang benar-benar sukses mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Susi sebagai andalan Indonesia di nomor tunggal putri.
Susi sendiri pun mungkin sudah bosan setiap mendengar pertanyaan tentang kondisi tunggal putri Indonesia saat ini dan terus dibanding-bandingkan dengan kehebatan dirinya di masa lalu. Jawaban Susi pastinya akan tetap sama,.
Seperti masyarakat Indonesia lainnya, dirinya juga terus menantikan pebulu tangkis tunggal putri Indonesia yang mampu menjelma menjadi pemain papan atas dunia dan untuk kemudian mendominasi permainan dunia.
Seperti masyarakat Indonesia lainnya, Susi pun harus terus bersabar dan mengelus dada ketika putri-putri Cina telah sukses mengembalikan dominasi mereka di persaingan bulu tangkis tunggal putri dunia seperti halnya tahun 1980-an ketika dirinya masih pemula. Seperti masyarakat Indonesia lainnya, Susi pun mungkin iri dengan keberhasilan Thailand dan India untuk maju beberapa langkah dibandingkan Indonesia saat ini untuk urusan tunggal putri.
Gambar
Selamat ulang tahun Susi Susanti. Semoga peribahasa Gugur Satu Tumbuh Seribu untuk dirimu dan tunggal putri Indonesia segera terwujud, dan bukannya Gugur Satu Tunggu Seribu (Atlet) seperti yang sedang terjadi saat ini.
-Putra Permata Tegar Idaman-

Peringatan dari Kasus LYD-KKJ

Peringatan dari Kasus LYD-KKJ

Selasa, 28 Januari ini berisi sebuah berita yang mengejutkan. Lee Yong Dae dan Kim Ki Jung dihukum larangan bertanding selama satu tahun lantaran tiga kali tidak mengabarkan keberadaannya pada tahun lalu sehingga BWF tidak bisa melakukan tes doping terhadap mereka.
Kelihatannya memang keputusan ini menyebalkan. Memangnya kenapa tidak mengabarkan keberadaan selama tiga kali saja sepanjang tahun lalu langsung bisa terkena skors? Kenapa tidak melakukan tes doping terhadap mereka saat mereka turun di sebuah turnamen yang sudah jelas keberadaannya?
Menelusuri pemberitaan yang ada, tiga panggilan tes dan pelaporan keberadaan Kim Ki Jung dan Lee Yong Dae adalah memang tes BWF yang berupa out of competition testing. Jadi memang tes doping secara acak itu dimaksudkan dan dilakukan ketika para atlet tidak sedang berkompetisi.
Gambar
Di dunia bulu tangkis, kasus doping memang merupakan sebuah kasus yang jarang terjadi, beda misalnya dengan di olahraga balap sepeda, atletik, dan akuatik yang sering tampil dengan berita mencengangkan terkait kasus doping. Juara Tour de France tujuh kali Lance Armstrong dan juara Olimpiade 100 m Ben Johnson menjadi sedikit contoh dari banyaknya nama besar yang tersangkut oleh kasus doping.
Berkaca dari peristiwa itu sendiri, bisa ada dua sudut pandang yang diambil. Apakah memang para atlet balap sepeda, atletik, dan renang itu banyak yang menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan atau memang tes doping di luar tiga cabang olahraga tersebut tidak seketat yang dilakukan tim anti doping dari tiga cabang olahraga tersebut?
Dan Badminton World Federation (BWF) sendiri sepertinya memang terus ingin membuktikan bahwa mereka juga merupakan organisasi yang serius dan perhatian terhadap masalah doping. Karena itulah kemudian, mereka akhirnya menjatuhkan keputusan ini terhadap Lee Yong Dae dan Kim Ki Jung ketika sang pemain sudah tiga kali tidak mengabarkan keberadaan mereka pada tahun lalu.
Kasus terakhir yang saya tahu terkait doping di bulu tangkis adalah kasus Zhou Mi, pebulu tangkis nomor satu dunia asal Cina yang kemudian beralih membela Hong Kong. Pada tahun 2010, Zhou Mi dihukum larangan bertanding selama dua tahun setelah dalam tubuhnya terkandung zat clenbuterol. Tes yang membuktikan kandungan clenbuterol ini sendiri adalah out of competition testing.
Kasus di atas jelas menjadi pelajaran yang menarik bagi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) dan para pebulu tangkis Indonesia sendiri. Setiap proses dan permintaan BWF terhadap kasus doping harus direspon dan tidak dianggap remeh seperti halnya yang terjadi di Badminton Korea Association yang juga menjadi pihak yang bersalah dari timbulnya kasus ini.
 Ingat, kasus Viktor Troicki bisa menjadi pelajaran yang bagus. Petenis Serbia ini tidak memberikan sampel darahnya pada ajang Monte Carlo Masters 2013 lalu dan akhirnya dijatuhi hukuman larangan bertanding 18 bulan dari International Tennis Federation (ITF) sebelum akhirnya berkurang menjadi 1 tahun. Alasan Troicki ketika itu adalah dirinya sedang merasa tidak enak badan dan memiliki phobia terhadap jarum.
Selain kaitan dengan kewajiban tes doping, hal lain yang perlu diperhatikan dalam kasus doping adalah penggunaan obat, suplemen, hingga konsumsi makanan. Untuk suplemen, contohnya ada pada Indra Gunawan dan Guntur Pratama, dua perenang Indonesia yang tahun lalu gagal tes doping. Masalahnya boleh dibilang sederhana saja, karena mereka tidak tahu bahwa susu yang mereka minum itu mengandung zat terlarang.
 Setiap apapun yang dimakan dan dikonsumsi oleh pebulu tangkis Indonesia memang sebaiknya terus didiskusikan terlebih dulu dengan tim ahli di PBSI. Jumlah zat-zat yang masuk kategori doping pun tiap tahunnya mengalami pembaruan sehingga mereka yang ahli di bidang ini harus terus aware dan memberikanupdate kepada para atlet. Pasalnya, banyak kemungkinan zat-zat terlarang itu masuk secara tidak sengaja ke dalam tubuh si atlet.
Karena kasus doping bukan saja kasus tentang mutlak bersalah atau tidak, meminum zat terlarang atau tidak yang hitam-putihnya jelas. Kasus doping lebih rumit dari itu dan perlu perhatian yang lebih dari pihak-pihak terkait.
 -Putra Permata Tegar Idaman-

Li Na, Tenis dan Bulu Tangkis

Li Na, Tenis dan Bulu Tangkis

Apa yang dilakukan dan telah terjadi sekarang akan berdampak besar pada masa yang akan datang. Hal itu mungkin yang bisa dipetik dari kisah hidup Li Na, satu-satunya petenis Asia yang mampu menjadi juara nomor tunggal grand slam, bahkan hingga dua kali sejauh ini sepanjang karirnya.
Gambar
copyright : AP
Li Na lahir di Wuhan, 26 Februari 1982 dan pada bulan berikutnya Zhang Ailing berhasil memenangkan turnamen bulu tangkis All England usai mengalahkan Li Lingwei, 11-4, 11-6 dalam partai All Chinese Final. Itu adalah kali pertama tunggal putri asal Cina mampu memenangi turnamen All England setelah pada tahun sebelumnya Cina resmi masuk menjadi anggota IBF.
Sebuah peristiwa olahraga besar tercatat dalam sejarah Cina. Dan menariknya, torehan Zhang Ailing itu seolah hanya merupakan awalan karena pada periode 1982-1989 Cina tercatat meraih enam gelar juara tunggal putri dan mempersembahkan empat All Chinese Final. Hanya pada tahun 1985 dan 1986 lah Cina gagal meraih gelar juara meski tetap menempatkan wakilnya di babak final.
Seperti yang sudah disebut di atas, apa yang dilakukan dan terjadi sekarang akan berdampak besar pada masa yang akan datang. Bisa dibayangkan situasi di Cina ketika itu (pada tahun 1980-an), kepopuleran bulu tangkis pastinya menanjak seiring tenarnya nama-nama seperti Zhang Ailing, Li Lingwei, dan Han Aiping. Itu baru dari satu turnamen All England saja. Belum lagi dari kisah keberhasilan Tim Cina meraih Piala Uber pada tahun 1984, 1986, dan 1988 yang pasti semakin melambungkan popularitas atlet dan olahraga bulu tangkis. Makin lengkap pula cerita itu dengan fakta bahwa tunggal putri Cina selalu menjadi juara dunia pada periode 1983-1991.
Karena itu akhirnya menjadi wajar ketika orang tua Li Na sangat berharap anaknya bisa menjadi pebulu tangkis top dunia. Maklum, Ayah Li Na sendiri adalah seorang pebulu tangkis dan mereka pun sudah melihat bahwa bulu tangkis bisa menjadi profesi yang memiliki titik cerah di Cina. Anak mereka bisa menjadi sosok yang terkenal dan mungkin berada di tempat tertinggi sama halnya dengan Li Lingwei dan kawan-kawan.
Dan keinginan itulah yang kemudian diwujudkan dengan dorongan kepada Li Na untuk berlatih bulu tangkis sejak usia dini. Li Na kecil sudah dikenalkan dasar-dasar bermain bulu tangkis. Tujuannya jelas, agar kelak ia bisa menjadi atlet bulu tangkis yang hebat.
Namun memang pada dasarnya tak semuanya keinginan di dunia ini bisa terwujud. Menginjak durasi dua tahun sejak mulai mengayun raket bulu tangkis, Li Na kecil divonis tak berada di arah yang benar untuk meniti karir sebagai pebulu tangkis. Gaya dan kecenderungannya justru lebih mengarah ke tenis.
Apa yang dilakukan dan terjadi sekarang akan berdampak besar pada masa yang akan datang. Keputusan telah diambil. Li Na akhirnya banting stir dari bulu tangkis menuju tenis. Sebuah keputusan yang berani karena meskipun di dunia global tenis jauh lebih populer dibandingkan dengan bulu tangkis, namun tidak demikian halnya di Cina. Tenis masih boleh dibilang olahraga awam yang tak umum dimainkan.
Dan apapun yang dipilih Li Na pada akhirnya tetap saja menghadirkan tantangan tersendiri. Memilih bulu tangkis, maka Li Na akan bersaing ketat sejak usia dini untuk menjadi pebulu tangkis terbaik di Cina. Namun andaikata sudah berhasil menyandang predikat pebulu tangkis terbaik Cina, maka rasanya predikat pebulu tangkis terbaik dunia hanya tinggal berjarak beberapa jengkal saja. Ini memang karena status Cina sebagai produsen pebulu tangkis tunggal putri hebat yang tak pernah luntur oleh waktu.
Beda dengan tenis. Mungkin perjalanan Li Na akan mulus di tingkat nasional. Namun setelah itu tantangan luas terbentang. Banyak pesaing-pesaing tangguh dari berbagai Negara yang siap mengadangnya menuju puncak dunia.
Hal itu terbukti benar dalam perjalanan karir Li Na. Di saat Li Na masih merambah turnamen-turnamen ITF, Gong Ruina yang lahir pada 1981 telah berhasil menjadi juara dunia bulu tangkis. Saat Tim Putri Cina merayakan kemenangan di Piala Uber 2002, Li Na justru tengah bersitegang dengan Asosiasi Tenis Cina dan akhirnya sempat vakum di dunia tenis.
Gambar
Gong Ruina
Meski akhirnya kembali bermain tenis, Li Na belum melakukan lompatan berarti. Gelar WTA pertamanya datang pada tahun 2004 saat ia memenangi turnamen kelas bawah WTA Guangzhou. Kemenangan kedua baru datang bagi Li Na tiga tahun kemudian di WTA Brisbane 2008. Padahal dalam durasi 2004-2008 itu, Xie Xingfang yang juga hanya setahun lebih tua darinya mampu dua kali menjadi juara dunia bulu tangkis dan tiga kali juara All England plus sederet gelar bergengsi lainnya.
Namun Li Na tidak pernah menyerah. Ia terus mengayun raket dan mengikuti berbagai kompetisi. Meski perkembangannya tak kilat, ia akhirnya mampu masuk top 10 pada tahun 2010 saat usianya sudah 28 tahun. Namun nyatanya prestasi ini belumlah merupakan puncak prestasi dari Li Na.
Li Na terus merangsek dan mulai jadi ancaman bagi nama-nama besar. Ia sukses masuk final Australia Terbuka 2011 namun kalah dari Kim Clijsters. Dunia mulai memperhatikan Li Na. Li Na pun seolah tak ingin membuat dunia berpaling lagi darinya. Ia memenangi grand slam Prancis Terbuka 2011 dan menjadi petenis Asia pertama yang mampu menjuarai grand slam. Li Na menjadi juara, saat Xie Xingfang sudah menikahi Lin Dan dan tak lagi mengayun raket dan saat Gong Ruina sudah lama berhenti bermain bulu tangkis.
Ternyata titel Prancis Terbuka 2011 bukan merupakan titel grand slam satu-satunya yang dimenangi oleh Li Na. Ia kembali menjadi juara, kali ini di Australia Terbuka 2014, setelah pada dua final sebelumnya yaitu di 2011 dan 2013 dirinya selalu menjadi pihak yang kalah. Dua gelar grand slam cukup menjadi pernyataan yang tegas bahwa kemenangan Li Na di Prancis bukanlah kebetulan semata. Ia memang layak bersaing dan bersanding dengan petenis hebat lainnya di papan atas. Hebatnya, itu dilakukan Li Na di usia hampir 32 tahun, di saat pebulu tangkis Cina sebayanya sudah mulai sibuk dengan kehidupan barunya.
Li Na membuktikan bahwa pilihan hidupnya tak salah. Jika berbicara bulu tangkis dan Cina, maka akan terpikir banyak nama yang ada di dalam pikiran tiap orang Cina yang ditanya. Pun ketika lingkupnya diperkecil, bulu tangkis tunggal putri dan Cina, maka tetap masih banyak nama yang mengapung di pikiran mulai dari generasi Li Lingwei, Ye Zhaoying, Gong Zhichao, Xie Xingfang, hingga generasi masa kini macam Wang Yihan dan Li Xuerui.
Tetapi, jika dua kata yang diajukan adalah tenis dan Cina, tak perlu spesifik menyebut tenis putri, maka hampir pasti rakyat Cina akan menyebut nama Li Na. Jawaban yang mungkin bukan hanya mengapung dari mulut para rakyat Cina saja, karena jawaban ini sudah mendapat legitimasi dari publik dunia.
Gambar
copyright : skysports
-Putra Permata Tegar Idaman-

Heroic of Paralympic

Olahraga itu menginspirasi. Banyak cerita perjuangan hebat yang ada di ranah olahraga yang akhirnya kemudian membangkitkan gairah seseorang dalam kehidupan nyata mereka bagai manusia. Karena itulah, ketika awal pekan ini mendengar keberhasilan Indonesia menjadi juara umum ASEAN Paragames 2014 yang berlangsung di Myanmar, saya pun langsung larut dalam perasaan sukacita yang mendalam.
Memang, untuk tahun ini saya tak memiliki kesempatan untuk melihat langsung sepak terjang para atlet difabel dalam upayanya mengharumkan Indonesia di kancah olahraga Asia Tenggara. Namun di penghujung tahun 2011 lalu, saya berkesempatan meliput aksi mereka di Solo, Jawa Tengah. Boleh dikatakan, liputan ASEAN Paragames 2011 itu adalah liputan paling berkesan selama saya menjalani  profesi ini.
Gambar
Dalam keseharian, terus terang saja masih banyak yang menganggap orang-orang difabel sebagai sosok yang lemah, tak berdaya, dan tak sanggup melakukan hal-hal yang hebat. Namun anggapan itu akan menemui benturan jika orang-orang tersebut melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana para atlet difabel ini berjuang dan berkompetisi di lapangan, berkeringat dan berpeluh untuk mencapai sebuah kemenangan.
Gambar
Mereka mampu berenang meski mungkin tangan mereka tak berbentuk seperti tangan manusia pada umumnya. Mereka mampu berlari meski tanpa melihat. Mereka mampu menembakkan busur panah dengan akurat meski kaki mereka tak solid. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya yang bisa dilihat dari olahraga paragames ini.
Menilik cerita di balik kehebatan para atlet, maka yang akan muncul adalah rasa kagum dan salut. Para atlet difabel ini boleh dibilang terbagi dari dua kategori, difabel sejak lahir ataupun difabel karena sebuah kecelakaan dan sebagainya.  Namun satu persamaannya, mereka telah melewati perjuangan yang luar biasa sampai akhirnya mampu tersenyum ataupun menangis haru di atas podium kemenangan. Nilai-nilai inilah yang menarik untuk dicermati dan diresapi oleh para penonton yang melihat aksi mereka.
Gambar
Para kaum difabel itu sedianya tak butuh dikasihani. Mereka tidak akan hidup jika di dalam lingkungan sekitar mereka, mereka dianggap sebagai orang yang tak berdaya. Mereka butuh kompetisi. Mereka butuh kesempatan yang sama untuk aktualisasi diri. Karena sejatinya seperti manusia lain yang ada di muka bumi, mereka butuh alasan dan tujuan untuk hidup. Dan mereka pun punya hak yang sama untuk mencoba mengharumkan nama bangsa di mata dunia.
Gambar
Karena itulah, dengan momentum keberhasilan Indonesia menjadi juara umum ASEAN Paragames 2014, memperbaiki catatan di ASEAN Paragames 2011 dimana Indonesia menjadi runner up, diharapkan perkembangan olahraga paralimpik di Indonesia bisa meningkat drastis. Selama ini (yang saya tahu), perkembangan olahraga paralimpik di Indonesia masih terpusat di Solo. Semoga nantinya perkembangan olahraga difabel bisa menyebar menyeluruh ke pelosok Indonesia, baik itu perihal pusat latihan maupun  kompetisi.
Gambar
Dengan demikian, maka makin banyak kesempatan untuk publik melihat kehebatan atlet-atlet difabel dalam berkompetisi. Akan makin banyak kesempatan untuk melihat bahwa kemenangan memang hadir bagi siapa saja yang berusaha.  Karena lewat olahraga, para atlet difabel ini bisa memotivasi Indonesia, bukan hanya untuk golongan difabel semata, melainkan juga untuk rakyat Indonesia secara keseluruhan. Bahwa hidup adalah perjuangan dan hambatan adalah tantangan.
Gambar
Gambar
-Putra Permata Tegar Idaman-