Minggu, 09 Maret 2014

Lavillenie, 1 cm, dan Bubka

Seberapa besar arti perbedaan 1 cm itu ? Tergantung pada siapa pertanyaan itu diajukan. Jika pertanyaan itu diajukan kepada Renaud Lavillenie, maka 1 cm itu boleh dibilang merupakan perbedaan yang sangat besar. Perbedaan yang memerlukan perjuangan sekuat tenaga sepanjang hidupnya dan perbedaan yang membuat dirinya pun kini akan dikenang dalam beberapa tahun atau mungkin dekade mendatang.
Ya, Lavillenie baru saja sukses melakukan lompatan setinggi 6,16 m di ajang Donetsk Meeting di Donetsk pada Sabtu, 15 Februari kemarin. Sebuah rekor dunia baru memecahkan rekor dunia lompat galah atas nama Sergey Bubka dengan selisih 1 cm lebih tinggi.
Gambar
Renaud Lavillenie
Meski hanya perbedaan 1 cm, butuh 21 tahun untuk bisa memecahkan rekor itu karena Bubka sendiri menorehkan rekor sebelumnya pada 21 Februari tahun 1993. Dari panjangnya rentang waktu tersebut, jelas sudah sangat banyak atlet lompat galah yang terus berjuang namun gagal untuk sekedar lebih unggul 1cm saja dari Bubka.
Namun Lavillenie sukses membuat rekor dengan cara yang sangat luar biasa. Tidak hanya soal catatan angka, namun Lavillenie melakukannya di tempat Bubka menorehkan rekor sebelumnya plus di Negara tempat Bubka berasal. Tidak sampai di situ saja, Bubka sendiri menjadi satu dari sekian pasang mata yang menjadi saksi peristiwa bersejarah ini.
“Saya rasa, saya butuh waktu sesaat lagi untuk bisa kembali sadar dan menjejakkan kaki ke bumi karena perasaan saya saat ini sangatlah gembira sekali. Saya hanya berpikir bahwa tempat ini adalah tempat terbaik untuk coba memecahkan rekor dan saya berhasil melakukannya. Ini gila.”
Begitulah komentar Lavillenie setelah pertandingan berakhir. Nampak ia masih tak percaya bahwa ia kini sudah memegang rekor dunia lompat galah baik untuk indoor maupun keseluruhan (rekor outdoor juga atas nama Bubka dengan 6,14 m). Lompatannya adalah lompatan tertinggi sepanjang sejarah lompat galah sejauh ini.
Namun, keberhasilan Lavillenie sendiri tidak datang dengan serta merta begitu saja. Atletik berbeda dengan olahraga permainan yang faktor kejutannya lebih mungkin kerap terjadi. Atletik adalah olahraga terukur yang performa tiap atletnya bisa dihitung dan dicatat sebagai statistik. Faktor kejutan sangatlah minim kemungkinannya bisa hadir sebagai kenyataan.
Sebelum memecahkan rekor ini sendiri, Lavillenie adalah juara Olimpiade London 2012. Ia sudah resmi tercatat sebagai salah satu atlet lompat galah terhebat dengan torehannya tersebut meskipun untuk urusan Kejuaraan Dunia, ia harus puas dengan torehan 1 perak plus 2 perunggu sepanjang keikutsertaannya.
Namun Lavillenie sadar bahwa dirinya tidak akan dikenang oleh banyak orang jika tak bisa melewati Bubka meskipun medali emas Olimpiade sudah di tangan. Sejak tiga dasawarsa terakhir, lompat galah putra adalah Bubka dan Bubka adalah lompat galah putra. Demikian analoginya lantaran begitu dominannya Bubka semasa ia aktif menjadi atlet dan rekornya pun tak bisa dipecahkan setelah ia lama pensiun.
Karena itulah ia terus terobsesi untuk bisa melewati capaian Bubka yang sudah bertahan 21 tahun. Optimisme Lavillenie mulai menemui titik terang manakala ia mampu memperbaiki catatan terbaik dirinya sendiri pada bulan Januari lalu dengan tinggi lompatan 6,04 meter di Rouen. Tak lama berselang, Lavillenie pun kembali mempertajam catatan miliknya menjadi 6,08 meter di Bydgoszcz pada akhir Januari. Pada dua kesempatan itu, Lavillenie sendiri mengganti panjang galah yang biasa dia gunakan sebagai salah satu upaya mencari cara meningkatkan performanya.
“Pada awalnya saya hanya berharap bisa terus konsisten melompat di atas 6 meter pada tiap perlombaan tahun ini. Namun ternyata saya bisa mulus melewati dua ketinggian itu tanpa kesulitan berarti. Inilah yang membuat saya optimistis bisa memecahkan rekor dunia.”
Kalimat inilah yang diucapkan oleh Lavillenie pada bulan lalu. Sebuah optimisme memancar jelas dari pernyataannya dan nyatanya tidak butuh satu bulan dari ucapan tersebut terlontar, Lavillenie sudah benar-benar ada di puncak dunia dan mengalahkan rekor milik Bubka. Selain butuh kemampuan, kepercayaan diri jelas menjadi modal penting di balik sebuah keberhasilan.
Lalu bagaimana dengan Bubka? Adakah dirinya terluka dan merasa dipermalukan oleh peristiwa yang berlangsung di negaranya sendiri? Ternyata tidak. Bubka tetap bersikap ksatria dan memegang prinsip seorang juara.  Dia sangat sadar bahwa hari dimana rekor miliknya akan dipecahkan oleh orang lain pasti akan datang, entah itu cepat atau lambat. Karena itu pelukan hangat pun langsung diberikan Bubka kepada Lavillenie di tengah gemuruh publik Ukraina yang juga tetap menyambut hangat peristiwa bersejarah di dunia olahraga ini meski itu berarti satu catatan rekor atlet legendaris mereka terhapus.
Gambar
Bubka dan Lavillenie
“Saya tidak terkejut dengan hasil ini. Lavillenie adalah atlet yang hebat dan saya harap dirinya terus mencatat hasil spektakuler setelah ini,” kata Bubka tanpa sedikit pun nada penyesalan.
Dan Bubka memang tak perlu menyesali apa yang terjadi.  Lavillenie pun bisa melompat dengan begitu hebat tidak lain karena Bubka. Ya, karena Bubka telah menetapkan standar yang tinggi di masa silam sehingga para atlet di generasi setelahnya semakin terpacu dan berlomba untuk melampaui garis batas yang telah ditetapkan oleh Bubka.
-Putra Permata Tegar Idaman-

Gugur Satu, Tumbuh atau Tunggu Seribu ?

Gugur Satu Tumbuh Seribu. Peribahasa Indonesia lawas yang bernuansa positif. Artinya segala sesuatu yang telah hilang akan ada penggantinya. Namun jelas, tidak semuanya bakal berjalan sebagaimana yang direncanakan dan diharapkan.
Contoh sederhananya peribahasa Gugur Satu Tumbuh Seribu yang belum terwujud adalah munculnya sosok pengganti dari Susi Susanti, pebulu tangkis tunggal putri terbaik di Indonesia yang pernah ada sejak dirinya memutuskan gantung raket. Sudah lebih dari satu dekade Indonesia menantikan munculnya pengganti Susi, namun hingga Susi berusia 43 tahun hari ini, 11 Februari, sosok yang dinanti belum juga ada. Jangankan seribu seperti halnya peribahasa, satu pun Indonesia belum punya.
Gambar
copyright : BBC
Susi memang istimewa. Semua aksi yang pernah dilakukannya di lapangan masih terbayang jelas di benak bangsa Indonesia, mulai dari mereka yang sudah dewasa hingga anak-anak yang belum paham sepenuhnya tentang permainan bulu tangkis ketika Susi sedang berjaya. Mulai dari gaya servis, foot work, hingga aksi split untuk menjangkau shuttlecock pun tak pernah bisa lepas seluruhnya dari ingatan di dalam kepala.
Gambar
copyright : The Star
Susi memang istimewa. Mental bertandingnya begitu luar biasa. Membaca ulasan-ulasan dan tulisan yang ada, Susi memang tak akan mau menyerah jika pertandingan belum benar-benar berakhir meski dirinya sudah tertinggal dengan skor yang sangat jauh. Selain medali emas Asian Games, seluruh gelar bergengsi di turnamen bulu tangkis sudah semuanya dimiliki oleh Susi. Susi pun bisa tersenyum karena untuk urusan nomor beregu pun, tangannya pernah mengangkat Piala Sudirman dan Piala Uber.
Dan tak perlu diperdebatkan lagi, sosok Susi lah yang kemudian mendorong banyak putri-putri di Indonesia untuk menggemari permainan bulu tangkis. Semuanya ingin menjadi seperti Susi. Semua ingin nantinya bisa berada di posisi Susi, di podium tertinggi untuk mengharumkan nama Indonesia.
Boleh dibilang, para pebulu tangkis Indonesia yang mulai berkarir di era 2000-an, setelah Susi pensiun di penghujung dekade 1990-an,  pun banyak yang menganggap Susi sebagai idola dan panutan mereka dalam berkarir bulu tangkis. Namun hingga kini, 20 tahun setelah Susi memimpin Tim Indonesia menjuarai Piala Uber untuk yang kedua kalinya pada 1994, belum ada pemain yang benar-benar sukses mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Susi sebagai andalan Indonesia di nomor tunggal putri.
Susi sendiri pun mungkin sudah bosan setiap mendengar pertanyaan tentang kondisi tunggal putri Indonesia saat ini dan terus dibanding-bandingkan dengan kehebatan dirinya di masa lalu. Jawaban Susi pastinya akan tetap sama,.
Seperti masyarakat Indonesia lainnya, dirinya juga terus menantikan pebulu tangkis tunggal putri Indonesia yang mampu menjelma menjadi pemain papan atas dunia dan untuk kemudian mendominasi permainan dunia.
Seperti masyarakat Indonesia lainnya, Susi pun harus terus bersabar dan mengelus dada ketika putri-putri Cina telah sukses mengembalikan dominasi mereka di persaingan bulu tangkis tunggal putri dunia seperti halnya tahun 1980-an ketika dirinya masih pemula. Seperti masyarakat Indonesia lainnya, Susi pun mungkin iri dengan keberhasilan Thailand dan India untuk maju beberapa langkah dibandingkan Indonesia saat ini untuk urusan tunggal putri.
Gambar
Selamat ulang tahun Susi Susanti. Semoga peribahasa Gugur Satu Tumbuh Seribu untuk dirimu dan tunggal putri Indonesia segera terwujud, dan bukannya Gugur Satu Tunggu Seribu (Atlet) seperti yang sedang terjadi saat ini.
-Putra Permata Tegar Idaman-

Peringatan dari Kasus LYD-KKJ

Peringatan dari Kasus LYD-KKJ

Selasa, 28 Januari ini berisi sebuah berita yang mengejutkan. Lee Yong Dae dan Kim Ki Jung dihukum larangan bertanding selama satu tahun lantaran tiga kali tidak mengabarkan keberadaannya pada tahun lalu sehingga BWF tidak bisa melakukan tes doping terhadap mereka.
Kelihatannya memang keputusan ini menyebalkan. Memangnya kenapa tidak mengabarkan keberadaan selama tiga kali saja sepanjang tahun lalu langsung bisa terkena skors? Kenapa tidak melakukan tes doping terhadap mereka saat mereka turun di sebuah turnamen yang sudah jelas keberadaannya?
Menelusuri pemberitaan yang ada, tiga panggilan tes dan pelaporan keberadaan Kim Ki Jung dan Lee Yong Dae adalah memang tes BWF yang berupa out of competition testing. Jadi memang tes doping secara acak itu dimaksudkan dan dilakukan ketika para atlet tidak sedang berkompetisi.
Gambar
Di dunia bulu tangkis, kasus doping memang merupakan sebuah kasus yang jarang terjadi, beda misalnya dengan di olahraga balap sepeda, atletik, dan akuatik yang sering tampil dengan berita mencengangkan terkait kasus doping. Juara Tour de France tujuh kali Lance Armstrong dan juara Olimpiade 100 m Ben Johnson menjadi sedikit contoh dari banyaknya nama besar yang tersangkut oleh kasus doping.
Berkaca dari peristiwa itu sendiri, bisa ada dua sudut pandang yang diambil. Apakah memang para atlet balap sepeda, atletik, dan renang itu banyak yang menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan atau memang tes doping di luar tiga cabang olahraga tersebut tidak seketat yang dilakukan tim anti doping dari tiga cabang olahraga tersebut?
Dan Badminton World Federation (BWF) sendiri sepertinya memang terus ingin membuktikan bahwa mereka juga merupakan organisasi yang serius dan perhatian terhadap masalah doping. Karena itulah kemudian, mereka akhirnya menjatuhkan keputusan ini terhadap Lee Yong Dae dan Kim Ki Jung ketika sang pemain sudah tiga kali tidak mengabarkan keberadaan mereka pada tahun lalu.
Kasus terakhir yang saya tahu terkait doping di bulu tangkis adalah kasus Zhou Mi, pebulu tangkis nomor satu dunia asal Cina yang kemudian beralih membela Hong Kong. Pada tahun 2010, Zhou Mi dihukum larangan bertanding selama dua tahun setelah dalam tubuhnya terkandung zat clenbuterol. Tes yang membuktikan kandungan clenbuterol ini sendiri adalah out of competition testing.
Kasus di atas jelas menjadi pelajaran yang menarik bagi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) dan para pebulu tangkis Indonesia sendiri. Setiap proses dan permintaan BWF terhadap kasus doping harus direspon dan tidak dianggap remeh seperti halnya yang terjadi di Badminton Korea Association yang juga menjadi pihak yang bersalah dari timbulnya kasus ini.
 Ingat, kasus Viktor Troicki bisa menjadi pelajaran yang bagus. Petenis Serbia ini tidak memberikan sampel darahnya pada ajang Monte Carlo Masters 2013 lalu dan akhirnya dijatuhi hukuman larangan bertanding 18 bulan dari International Tennis Federation (ITF) sebelum akhirnya berkurang menjadi 1 tahun. Alasan Troicki ketika itu adalah dirinya sedang merasa tidak enak badan dan memiliki phobia terhadap jarum.
Selain kaitan dengan kewajiban tes doping, hal lain yang perlu diperhatikan dalam kasus doping adalah penggunaan obat, suplemen, hingga konsumsi makanan. Untuk suplemen, contohnya ada pada Indra Gunawan dan Guntur Pratama, dua perenang Indonesia yang tahun lalu gagal tes doping. Masalahnya boleh dibilang sederhana saja, karena mereka tidak tahu bahwa susu yang mereka minum itu mengandung zat terlarang.
 Setiap apapun yang dimakan dan dikonsumsi oleh pebulu tangkis Indonesia memang sebaiknya terus didiskusikan terlebih dulu dengan tim ahli di PBSI. Jumlah zat-zat yang masuk kategori doping pun tiap tahunnya mengalami pembaruan sehingga mereka yang ahli di bidang ini harus terus aware dan memberikanupdate kepada para atlet. Pasalnya, banyak kemungkinan zat-zat terlarang itu masuk secara tidak sengaja ke dalam tubuh si atlet.
Karena kasus doping bukan saja kasus tentang mutlak bersalah atau tidak, meminum zat terlarang atau tidak yang hitam-putihnya jelas. Kasus doping lebih rumit dari itu dan perlu perhatian yang lebih dari pihak-pihak terkait.
 -Putra Permata Tegar Idaman-

Li Na, Tenis dan Bulu Tangkis

Li Na, Tenis dan Bulu Tangkis

Apa yang dilakukan dan telah terjadi sekarang akan berdampak besar pada masa yang akan datang. Hal itu mungkin yang bisa dipetik dari kisah hidup Li Na, satu-satunya petenis Asia yang mampu menjadi juara nomor tunggal grand slam, bahkan hingga dua kali sejauh ini sepanjang karirnya.
Gambar
copyright : AP
Li Na lahir di Wuhan, 26 Februari 1982 dan pada bulan berikutnya Zhang Ailing berhasil memenangkan turnamen bulu tangkis All England usai mengalahkan Li Lingwei, 11-4, 11-6 dalam partai All Chinese Final. Itu adalah kali pertama tunggal putri asal Cina mampu memenangi turnamen All England setelah pada tahun sebelumnya Cina resmi masuk menjadi anggota IBF.
Sebuah peristiwa olahraga besar tercatat dalam sejarah Cina. Dan menariknya, torehan Zhang Ailing itu seolah hanya merupakan awalan karena pada periode 1982-1989 Cina tercatat meraih enam gelar juara tunggal putri dan mempersembahkan empat All Chinese Final. Hanya pada tahun 1985 dan 1986 lah Cina gagal meraih gelar juara meski tetap menempatkan wakilnya di babak final.
Seperti yang sudah disebut di atas, apa yang dilakukan dan terjadi sekarang akan berdampak besar pada masa yang akan datang. Bisa dibayangkan situasi di Cina ketika itu (pada tahun 1980-an), kepopuleran bulu tangkis pastinya menanjak seiring tenarnya nama-nama seperti Zhang Ailing, Li Lingwei, dan Han Aiping. Itu baru dari satu turnamen All England saja. Belum lagi dari kisah keberhasilan Tim Cina meraih Piala Uber pada tahun 1984, 1986, dan 1988 yang pasti semakin melambungkan popularitas atlet dan olahraga bulu tangkis. Makin lengkap pula cerita itu dengan fakta bahwa tunggal putri Cina selalu menjadi juara dunia pada periode 1983-1991.
Karena itu akhirnya menjadi wajar ketika orang tua Li Na sangat berharap anaknya bisa menjadi pebulu tangkis top dunia. Maklum, Ayah Li Na sendiri adalah seorang pebulu tangkis dan mereka pun sudah melihat bahwa bulu tangkis bisa menjadi profesi yang memiliki titik cerah di Cina. Anak mereka bisa menjadi sosok yang terkenal dan mungkin berada di tempat tertinggi sama halnya dengan Li Lingwei dan kawan-kawan.
Dan keinginan itulah yang kemudian diwujudkan dengan dorongan kepada Li Na untuk berlatih bulu tangkis sejak usia dini. Li Na kecil sudah dikenalkan dasar-dasar bermain bulu tangkis. Tujuannya jelas, agar kelak ia bisa menjadi atlet bulu tangkis yang hebat.
Namun memang pada dasarnya tak semuanya keinginan di dunia ini bisa terwujud. Menginjak durasi dua tahun sejak mulai mengayun raket bulu tangkis, Li Na kecil divonis tak berada di arah yang benar untuk meniti karir sebagai pebulu tangkis. Gaya dan kecenderungannya justru lebih mengarah ke tenis.
Apa yang dilakukan dan terjadi sekarang akan berdampak besar pada masa yang akan datang. Keputusan telah diambil. Li Na akhirnya banting stir dari bulu tangkis menuju tenis. Sebuah keputusan yang berani karena meskipun di dunia global tenis jauh lebih populer dibandingkan dengan bulu tangkis, namun tidak demikian halnya di Cina. Tenis masih boleh dibilang olahraga awam yang tak umum dimainkan.
Dan apapun yang dipilih Li Na pada akhirnya tetap saja menghadirkan tantangan tersendiri. Memilih bulu tangkis, maka Li Na akan bersaing ketat sejak usia dini untuk menjadi pebulu tangkis terbaik di Cina. Namun andaikata sudah berhasil menyandang predikat pebulu tangkis terbaik Cina, maka rasanya predikat pebulu tangkis terbaik dunia hanya tinggal berjarak beberapa jengkal saja. Ini memang karena status Cina sebagai produsen pebulu tangkis tunggal putri hebat yang tak pernah luntur oleh waktu.
Beda dengan tenis. Mungkin perjalanan Li Na akan mulus di tingkat nasional. Namun setelah itu tantangan luas terbentang. Banyak pesaing-pesaing tangguh dari berbagai Negara yang siap mengadangnya menuju puncak dunia.
Hal itu terbukti benar dalam perjalanan karir Li Na. Di saat Li Na masih merambah turnamen-turnamen ITF, Gong Ruina yang lahir pada 1981 telah berhasil menjadi juara dunia bulu tangkis. Saat Tim Putri Cina merayakan kemenangan di Piala Uber 2002, Li Na justru tengah bersitegang dengan Asosiasi Tenis Cina dan akhirnya sempat vakum di dunia tenis.
Gambar
Gong Ruina
Meski akhirnya kembali bermain tenis, Li Na belum melakukan lompatan berarti. Gelar WTA pertamanya datang pada tahun 2004 saat ia memenangi turnamen kelas bawah WTA Guangzhou. Kemenangan kedua baru datang bagi Li Na tiga tahun kemudian di WTA Brisbane 2008. Padahal dalam durasi 2004-2008 itu, Xie Xingfang yang juga hanya setahun lebih tua darinya mampu dua kali menjadi juara dunia bulu tangkis dan tiga kali juara All England plus sederet gelar bergengsi lainnya.
Namun Li Na tidak pernah menyerah. Ia terus mengayun raket dan mengikuti berbagai kompetisi. Meski perkembangannya tak kilat, ia akhirnya mampu masuk top 10 pada tahun 2010 saat usianya sudah 28 tahun. Namun nyatanya prestasi ini belumlah merupakan puncak prestasi dari Li Na.
Li Na terus merangsek dan mulai jadi ancaman bagi nama-nama besar. Ia sukses masuk final Australia Terbuka 2011 namun kalah dari Kim Clijsters. Dunia mulai memperhatikan Li Na. Li Na pun seolah tak ingin membuat dunia berpaling lagi darinya. Ia memenangi grand slam Prancis Terbuka 2011 dan menjadi petenis Asia pertama yang mampu menjuarai grand slam. Li Na menjadi juara, saat Xie Xingfang sudah menikahi Lin Dan dan tak lagi mengayun raket dan saat Gong Ruina sudah lama berhenti bermain bulu tangkis.
Ternyata titel Prancis Terbuka 2011 bukan merupakan titel grand slam satu-satunya yang dimenangi oleh Li Na. Ia kembali menjadi juara, kali ini di Australia Terbuka 2014, setelah pada dua final sebelumnya yaitu di 2011 dan 2013 dirinya selalu menjadi pihak yang kalah. Dua gelar grand slam cukup menjadi pernyataan yang tegas bahwa kemenangan Li Na di Prancis bukanlah kebetulan semata. Ia memang layak bersaing dan bersanding dengan petenis hebat lainnya di papan atas. Hebatnya, itu dilakukan Li Na di usia hampir 32 tahun, di saat pebulu tangkis Cina sebayanya sudah mulai sibuk dengan kehidupan barunya.
Li Na membuktikan bahwa pilihan hidupnya tak salah. Jika berbicara bulu tangkis dan Cina, maka akan terpikir banyak nama yang ada di dalam pikiran tiap orang Cina yang ditanya. Pun ketika lingkupnya diperkecil, bulu tangkis tunggal putri dan Cina, maka tetap masih banyak nama yang mengapung di pikiran mulai dari generasi Li Lingwei, Ye Zhaoying, Gong Zhichao, Xie Xingfang, hingga generasi masa kini macam Wang Yihan dan Li Xuerui.
Tetapi, jika dua kata yang diajukan adalah tenis dan Cina, tak perlu spesifik menyebut tenis putri, maka hampir pasti rakyat Cina akan menyebut nama Li Na. Jawaban yang mungkin bukan hanya mengapung dari mulut para rakyat Cina saja, karena jawaban ini sudah mendapat legitimasi dari publik dunia.
Gambar
copyright : skysports
-Putra Permata Tegar Idaman-

Heroic of Paralympic

Olahraga itu menginspirasi. Banyak cerita perjuangan hebat yang ada di ranah olahraga yang akhirnya kemudian membangkitkan gairah seseorang dalam kehidupan nyata mereka bagai manusia. Karena itulah, ketika awal pekan ini mendengar keberhasilan Indonesia menjadi juara umum ASEAN Paragames 2014 yang berlangsung di Myanmar, saya pun langsung larut dalam perasaan sukacita yang mendalam.
Memang, untuk tahun ini saya tak memiliki kesempatan untuk melihat langsung sepak terjang para atlet difabel dalam upayanya mengharumkan Indonesia di kancah olahraga Asia Tenggara. Namun di penghujung tahun 2011 lalu, saya berkesempatan meliput aksi mereka di Solo, Jawa Tengah. Boleh dikatakan, liputan ASEAN Paragames 2011 itu adalah liputan paling berkesan selama saya menjalani  profesi ini.
Gambar
Dalam keseharian, terus terang saja masih banyak yang menganggap orang-orang difabel sebagai sosok yang lemah, tak berdaya, dan tak sanggup melakukan hal-hal yang hebat. Namun anggapan itu akan menemui benturan jika orang-orang tersebut melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana para atlet difabel ini berjuang dan berkompetisi di lapangan, berkeringat dan berpeluh untuk mencapai sebuah kemenangan.
Gambar
Mereka mampu berenang meski mungkin tangan mereka tak berbentuk seperti tangan manusia pada umumnya. Mereka mampu berlari meski tanpa melihat. Mereka mampu menembakkan busur panah dengan akurat meski kaki mereka tak solid. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya yang bisa dilihat dari olahraga paragames ini.
Menilik cerita di balik kehebatan para atlet, maka yang akan muncul adalah rasa kagum dan salut. Para atlet difabel ini boleh dibilang terbagi dari dua kategori, difabel sejak lahir ataupun difabel karena sebuah kecelakaan dan sebagainya.  Namun satu persamaannya, mereka telah melewati perjuangan yang luar biasa sampai akhirnya mampu tersenyum ataupun menangis haru di atas podium kemenangan. Nilai-nilai inilah yang menarik untuk dicermati dan diresapi oleh para penonton yang melihat aksi mereka.
Gambar
Para kaum difabel itu sedianya tak butuh dikasihani. Mereka tidak akan hidup jika di dalam lingkungan sekitar mereka, mereka dianggap sebagai orang yang tak berdaya. Mereka butuh kompetisi. Mereka butuh kesempatan yang sama untuk aktualisasi diri. Karena sejatinya seperti manusia lain yang ada di muka bumi, mereka butuh alasan dan tujuan untuk hidup. Dan mereka pun punya hak yang sama untuk mencoba mengharumkan nama bangsa di mata dunia.
Gambar
Karena itulah, dengan momentum keberhasilan Indonesia menjadi juara umum ASEAN Paragames 2014, memperbaiki catatan di ASEAN Paragames 2011 dimana Indonesia menjadi runner up, diharapkan perkembangan olahraga paralimpik di Indonesia bisa meningkat drastis. Selama ini (yang saya tahu), perkembangan olahraga paralimpik di Indonesia masih terpusat di Solo. Semoga nantinya perkembangan olahraga difabel bisa menyebar menyeluruh ke pelosok Indonesia, baik itu perihal pusat latihan maupun  kompetisi.
Gambar
Dengan demikian, maka makin banyak kesempatan untuk publik melihat kehebatan atlet-atlet difabel dalam berkompetisi. Akan makin banyak kesempatan untuk melihat bahwa kemenangan memang hadir bagi siapa saja yang berusaha.  Karena lewat olahraga, para atlet difabel ini bisa memotivasi Indonesia, bukan hanya untuk golongan difabel semata, melainkan juga untuk rakyat Indonesia secara keseluruhan. Bahwa hidup adalah perjuangan dan hambatan adalah tantangan.
Gambar
Gambar
-Putra Permata Tegar Idaman-

Menjadi Tua itu Pasti, Tetap Berprestasi itu Pilihan dan Kemauan

Menjadi tua itu pasti, tetap berprestasi itu pilihan dan kemauan. Hal itu yang ditunjukkan Vita Marissa saat dirinya didaulat menjadi atlet PB Djarum paling berprestasi di tahun ini. Tiga penghargaan didapat oleh dirinya baik itu kesuksesan ada di peringkat tujuh dunia (ganda campuran), peringkat sebelas dunia (ganda putri), dan atlet terbaik PB Djarum 2013 (ganda campuran). Semua itu didapat Vita di usia yang terbilang senja untuk ukuran atlet, 33 tahun.
Berbicara Vita, memori saya kemudian terlempar ke masa lima tahun lalu, tepat di awal tahun 2009. Pemandangannya masih tergambar jelas di pikiran ini. Ketika itu di sudut GOR Cipayung, Vita duduk di bangku panjang tanpa mengenakan seragam latihan. Sementara itu rekan-rekannya yang lain masih bersimbah peluh keringat menerima instruksi demi instruksi dari Richard Mainaky.
Beberapa menit kemudian, sesi latihan di nomor ganda campuran selesai. Richard kemudian duduk di samping Vita. Liliyana Natsir yang baru selesai latihan pun turut bergabung. Keduanya tampak dalam sebuah perbincangan serius. Gurat-gurat sedih terpancar dari wajah mereka bertiga. Sementara itu tak jauh dari tiga orang tersebut, duduk Muhammad Rijal yang hanya bisa terdiam menatap ke depan dengan pandangan kosong.
Teka-teki tentang topik pembicaraan hari itu akhirnya terungkap beberapa hari kemudian. Vita mengumumkan secara resmi pengunduran diri dari pelatnas Cipayung karena tak mencapai kata sepakat perihal nilai kontrak. Pengurus PBSI saat itu beranggapan nilai kontrak yang mereka ajukan sudah sesuai dengan standar yang ada yaitu peringkat BWF milik Rijal/Vita.
Malang memang nasib Vita saat itu. Peringkat Rijal/Vita yang dijadikan tolok ukur jelas tidak fair karena mereka baru beberapa bulan berpasangan. Bukan nilai nominal rupiah yang dituntut Vita semata, melainkan bagaimana cara PBSI menghormati dan mengapresiasi jasa Vita selama ini. Toh, bagaimanapun berpasangannya Rijal/Vita saat itu bukan kehendak Vita semata melainkan pula demi keberlangsungan regenerasi bulu tangkis Indonesia.
Saat itu, Vita sudah berusia 28 tahun, usia yang boleh dibilang masuk dalam usia penurunan prestasi, terlebih untuk kategori pebulu tangkis putri. Tak sedikit yang berpikir bahwa masa emas karir Vita adalah saat dirinya berpasangan Flandy Limpele dan dengan demikian maka Vita tinggal menunggu masa pensiun saja.
Gambar
Namun nyatanya prediksi orang kebanyakan itu berhasil ditepis oleh Vita. Vita mulai merintis karir di luar pelatnas atau sering disebut dengan istilah jalur profesional yang saat itu masih belum lazim didengar karena biasanya pintu untuk sukses bagi atlet Indonesia adalah melalui jalur pelatnas. Vita mampu memberikan jawaban bahwa selalu ada hasil positif saat dirinya tak lelah untuk berjuang.
Gambar
Berpasangan dengan Hendra Aprida Gunawan, duet ini mampu menghebohkan persaingan di nomor ganda campuran dengan duduk di peringkat ketiga dunia. Bersama Nadya Melati pun, Vita juga sukses unjuk gigi dengan masuk 15 besar dunia dan sempat menjadi finalis Indonesia Terbuka 2012. Semua itu tidak diraih Vita dengan mudah. Perlu kerja keras, fokus, dan konsistensi untuk bisa mewujudkannya.
Jika pembuktian itu sepertinya belum cukup untuk menunjukkan kapasitas Vita Marissa, maka lihatlah ketika dirinya berganti pasangan.  Ia kemudian beralih pasangan dengan Variella Aprilsasi di nomor ganda putri dan dengan Praveen Jordan di nomor ganda campuran. Jika Hendra dan Nadya sudah termasuk pemain dengan jam terbang yang tinggi, maka Variella dan Praveen masihlah merupakan pemain muda dengan jam terbang masih seadanya.
Di sinilah Vita membuktikan bahwa dirinya memiliki leadership yang bagus. Ia bisa membimbing pemain muda untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Ia mampu berperan menjadi pemimpin seiring bertambahnya kematangan dalam dirinya.
Gambar
Banyak yang sudah dilalui Vita dalam karirnya dan ia semakin bertambah matang seiring dengan kemampuannya menjalani konsekuensi atas semua keputusan yang sudah diambilnya, mulai dari keputusan untuk terus bermain setelah cedera bahu parah di 2004, keputusan untuk keluar pelatnas, hingga keputusan untuk berpindah klub. Vita sukses karena apapun keputusan yang ia ambil, ia siap menjalani semua konsekuensi dibaliknya.
Dan kini Vita sekali lagi memberikan penegasan, bahwa menjadi tua itu pasti, namun tetap berprestasi itu pilihan dan kemauan.
-Putra Permata Tegar Idaman-

0-10

0-10

Sudah dua turnamen super series/premier berlalu, sudah sepuluh gelar diperebutkan. Hasilnya : Indonesia belum kebagian satu gelar pun di bulan pertama tahun 2014 ini. Jangankan titel juara, dari 10 final yang dipertandingkan saja, Indonesia hanya mampu sekali menempatkan wakilnya, yaitu Tommy Sugiarto di Malaysia Super Series Premier.
Dua turnamen awal di tahun ini menjadi gambaran jelas bahwa kekuatan bulu tangkis Indonesia saat ini masihlah sangat rentan. Terbukti, di Korea, tanpa kehadiran pemain utama, Indonesia gagal menempatkan satu wakil pun di babak final. Para pebulu tangkis Indonesia harus gigit jari melihat keperkasaan Cina dan Negara-negara lainnya.
Berpindah ke Malaysia, ternyata cerita sedih bagi Indonesia masihlah sama meski untuk kali ini Tim Bulu Tangkis Indonesia turun dengan kekuatan penuh. Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir kali ini gagal unjuk gigi dan memenuhi harapan untuk pulang dengan prestasi.
Sejatinya, seandainya, sekali lagi seandainya, salah satu saja dari Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana mampu merebut titel juara di Malaysia, maka rapor performa tim Indonesia di bulan pertama tahun 2014 ini tidaklah terlalu buruk. Hal itu dikarenakan Angga Pratama/Rian Agung dan Tommy Sugiarto menunjukkan performa yang lumayan di Malaysia kemarin.
Angga/Rian mampu menembus babak semifinal dengan melangkahi Liu Xiaolong/Qiu Zihan dan Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong, sedangkan Tommy mampu menapak partai puncak sebelum akhirnya tumbang di hadapan pebulu tangkis nomor satu dunia Lee Chong Wei.
Angga/Rian sendiri boleh dibilang hanya berjarak sejengkal dari tiket final. Mereka harus mengakui keunggulan ganda tuan rumah Goh V Shem/Lim Kim Wah yang mendapat energi tambahan dari dukungan penonton yang hadir. Sementara itu, perjuangan Tommy di babak final pun patut diapresiasi. Dirinya sudah berhasil menjebak Chong Wei dalam pola permainannya di sepanjang game pertama. Namun sayangnya, Chong Wei mampu lepas dari sergapan itu di pengujung game pertama dan kemudian berbalik mendominasi penuh di game kedua.
Image
copyright : badmintonindonesia.org
Performa Angga/Rian dan Tommy menarik untuk diapresiasi namun lagi-lagi, berbicara atlet kategori prestasi, tentu penilaian akhirnya tetaplah keping-keping medali tanda posisi tertinggi.
Tetapi jika dilihat lebih dalam, sepertinya apa yang terjadi di bulan pertama ini seolah menjadi penegasan untuk PBSI bahwa mereka harus tetap mawas diri. Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana bukanlah sosok yang tak tersentuh oleh pemain-pemain lainnya di dunia ini. Mereka memang pemain hebat namun masih berpeluang besar untuk bisa dikalahkan. Karena itulah yang bisa dilakukan oleh pemain lainnya adalah mengejar ketertinggalan mereka dari Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana untuk kemudian sama-sama berdiri sejajar menanggung beban sebagai pemain andalan Indonesia di berbagai turnamen besar.
Melihat Cina saat ini, rasa iri pantas dan normal jika keluar. Bagaimana tidak, dari 10 gelar yang sudah diperebutkan di awal tahun 2014 ini, tujuh di antaranya menjadi milik mereka dengan rincian empat gelar di Korea dan tiga gelar di Malaysia. Tidak sampai di situ, koleksi tujuh gelar yang ada tersebut dipersembahkan oleh enam pebulu tangkis/ganda mereka. Jelas terlihat sebuah pemerataan pembinaan sehingga kompetisi sudah tercipta diantara sesama pemain mereka sendiri.
Kondisi Indonesia saat ini pun boleh dibilang tidak jauh berbeda dibandingkan Negara-negara yang berstatus Negara kuat di bulu tangkis lainnya seperti Korea, Denmark , Malaysia, dan Jepang.  Mereka juga masih kesulitan memperbanyak jumlah pemain andalan yang bisa dibebankan target juara di berbagai kompetisi elit dunia.
Sebagai gambaran, tahun lalu, Cina meraih total 31 gelar dari 12 turnamen super series/premier plus satu super series finals yang menyediakan total 65 gelar juara. Tidak sampai di situ, 31 gelar itu sendiri diraih oleh 14 pemain/wakil yang berbeda.
 Bandingkan dengan Indonesia yang meraih 11 gelar lewat empat wakil, Malaysia yang mendapat tujuh gelar lewat Lee Chong Wei seorang, Korea yang merebut enam gelar dari tiga wakil, dan Denmark yang merebut lima gelar dari empat wakil.Karena banyaknya wakil yang bisa diandalkan untuk menjadi juara itulah, Cina akhirnya tak pernah sekalipun hampa gelar di sebuah turnamen super series/premier pada tahun lalu.
Situasi itu sendiri sepertinya tidak diragukan lagi kemungkinan besar akan berlanjut tahun ini. Bagi Indonesia sendiri, mengejar posisi Cina saat ini masih terlalu sulit dilakukan, namun untuk mengembangkan performa sendiri lebih baik dibandingkan tahun lalu jelas masihlah merupakan sebuah harapan yang ideal.
Jika ada empat pemain/wakil yang bisa jadi juara musim lalu, maka semoga untuk tahun ini jumlah tersebut bisa bertambah. Jika Tommy Sugiarto dan Markis Kido/Marcus Fernaldi hanya meraih satu gelar tahun lalu, semoga tahun ini mereka dan juga para pebulu tangkis Indonesia lainnya bisa mencuri gelar lebih banyak. Harapan-harapan itu tentunya diembuskan sambil terus berharap Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana segera menemukan level terbaik dari permainan mereka. Dengan demikian, maka 0-10 di awal tahun ini bisa berubah menjadi 11-65 di akhir tahun seperti tahun lalu atau bahkan lebih baik lagi.
-Putra Permata Tegar Idaman-