Senin, 25 November 2013

Semakin Ramping, Semakin Diperhatikan




Bayangkan jika dua mata yang kita miliki ini melihat sekumpulan semut yang terbagi dalam lima kelompok. Jelas sulit bagi kita untuk melihat detil gerakan satu persatu dari para semut itu. Mungkin ada beberapa semut yang tampak menonjol di mata kita karena ia bertubuh besar atau perangainya paling aneh. Namun yang pasti tidak akan mungkin dua mata ini bisa mengawasi seluruh gerakan semut-semut yang ada. Jika jumlah semut itu berkurang, maka jangkauan pengawasan kita pastinya akan bertambah.

Gambaran itu mungkin sama halnya dengan jika masyarakat pecinta bulu tangkis melihat kondisi pelatnas bulu tangkis saat ini. Jika ditanya, nomor mana yang saat ini tengah terpuruk di Indonesia, maka jawabannya otomatis akan mengarah ke nomor tunggal putri di urutan pertama, ganda putri di urutan kedua, dan tunggal putra di urutan ketiga. Nomor ganda putra dan ganda campuran seolah berada di zona nyaman karena dianggap sudah memberikan bukti prestasi.

Nomor tunggal putri menjadi nomor yang disebut paling terpuruk karena di zaman dulu Indonesia memiliki sosok sehebat Susi Susanti ataupun Mia Audina. Di era 2000-an pun Indonesia memiliki Maria Kristin yang sempat menimbulkan secercah harapan sebelum akhirnya cedera berkepanjangan. Kini, belum ada pebulu tangkis tunggal putri yang bisa jadi andalan dan bersaing di level elit dunia bulu tangkis.

Nomor ganda putri menerima perlakuan sedikit lebih baik dari masyarakat pecinta bulu tangkis karena secara tradisi Indonesia tidaklah terlalu kuat di nomor ini. Jadi, ada sedikit rasa maklum yang menemani perjalanan nomor ganda putri meskipun saat ini torehan prestasi mereka juga jauh menurun dibandingkan generasi-generasi sebelumnya yang setidaknya bisa meramaikan persaingan di papan atas.

Untuk nomor tunggal putra, meski saat ini sejumlah nama ada di papan atas, namun jika dibandingkan dengan torehan di dekade sebelumnya, maka jelas mereka pun mengalami kemunduran. Pasalnya belum ada pemain yang mampu menjadi ujung tombak dan andalan dalam meraih titel demi titel di setiap turnamen besar seperti lazimnya para tunggal putra Indonesia di dekade-dekade sebelumnya.

Lalu bagaimana dengan nomor ganda putra dan ganda campuran? Apakah mereka telah menunjukkan konsistensi prestasi dan terhindar dari kata kemunduran? Sejatinya tidak 100 persen benar karena dua nomor itu hanya mengandalkan satu nama saja untuk urusan prestasi di level elit. Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan untuk nomor ganda putra dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di nomor ganda campuran. Jika dua nama itu dikesampingkan, maka belum ada yang benar-benar bisa jadi andalan dan siap memikul beban sebagai andalan dan menjadi juara.

Jadi secara umum, pemain lain di nomor ganda putra dan ganda campuran sejauh ini bernasib lebih baik dibandingkan tiga nomor lainnya karena mereka terlindungi oleh pamor Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana. Selama dua orang tersebut menjadi juara, maka dua nomor itu terus dianggap berhasil dan mempertahankan status sebagai nomor andalan.

Lalu apa kaitannya dengan wacana PBSI merampingkan skuat pelatnas pada tahun depan? Mungkin banyak yang bertanya-tanya tentang kebijakan ini karena di satu sisi sebenarnya PBSI tidak mengalami masalah sama sekali terkait pendanaan pemain dengan jumlah yang ada saat ini, yaitu 83 orang. Pun begitu halnya dengan fasilitas seperti lapangan dan kamar asrama. Semuanya masih bisa dipenuhi oleh PBSI.

Memang ada hal yang menarik dari wacana perampingan skuat pelatnas PBSI dari 83 orang menjadi kisaran 50-an. Jika dikalkulasikan dengan proses promosi, maka mungkin akan ada 40-50% nama yang hilang dari skuat pelatnas tahun ini. Sebuah jumlah yang besar dan tentunya sangat signifikan. Namun melihat bagaimana proyeksi dan bayangan skuat pelatnas di tahun depan, maka alasan dari PBSI akan muncul ke permukaan.

Dalam proyeksi yang ada, PBSI menyebut akan ada 5 pemain untuk nomor tunggal baik putra dan putri dan 4 pasang untuk ganda baik putra dan putri yang kesemuanya itu merupakan pemain untuk proyeksi Thomas-Uber tahun depan. Ditambah tiga pasang untuk nomor ganda campuran, maka dengan demikian sudah ada 32 pemain yang terdaftar. Sisa slot setelah itu nantinya diperuntukkan bagi pemain potensial maupun junior.

Dengan asumsi seperti itu, PBSI sepertinya tidak ingin memberikan ruang yang lebih besar bagi para pemain di dalamnya. Mereka ingin pemain yang ada di dalamnya benar-benar menajamkan persaingan di antara sesama sehingga tak ada kata ‘nyaman’ dalam status mereka sebagai pemain pelatnas. Mereka harus bisa terus masuk proyeksi tim untuk target-target besar jika tak ingin ke depannya posisi mereka digusur oleh pemain lainnya yang berusia lebih muda. Pemain muda pun harus terus memenuhi target antara sampai mereka dirasa matang untuk dibebani target besar.

Jumlah pemain yang lebih sedikit ini sendiri membuat atensi kepada tiap pemain menjadi lebih besar dibandingkan sebelumnya. Setiap gerak-gerik para pemain dari turnamen ke turnamen akan lebih dipantau dan diperhatikan. Dengan demikian pemain sendiri pastinya menyadari butuh usaha lebih keras dari biasanya untuk bisa bertahan di pelatnas Cipayung. Ketika mereka lengah, bukan tak mungkin tahun depan status pemain pelatnas bukan milik mereka lagi. 

-Putra Permata Tegar Idaman-

Senin, 04 November 2013

Gak Jatuh, Gak Belajar



Tim Junior Indonesia menapaki jalan yang berbeda dalam kiprah mereka di Kejuaraan Dunia Junior 2013 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di nomor perorangan, mereka tak meraih medali emas sekaligus gagal mengulangi prestasi dua tahun terakhir. Namun untuk nomor beregu Indonesia sukses menjadi runner up, torehan tertinggi sepanjang sejarah keikutsertaan Indonesia di ajang ini.

Kegagalan atau keberhasilan di level junior memang harus disikapi hati-hati oleh Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI). Jangan sampai kegagalan di level junior yang merupakan indikasi peringatan dini diabaikan begitu saja oleh mereka, namun jangan sampai pula kesuksesan di level junior dianggap garansi bahwa mereka juga nantinya akan berprestasi saat beranjak dewasa.

Melihat sejarah panjang Kejuaraan Dunia Junior, Indonesia memang sepertinya tak terlalu akrab dengan turnamen ini. Sejak edisi 1994, Indonesia tak memiliki satu pun gelar juara dunia junior sampai akhirnya Alfian Eko/Gloria Widjaja memutus catatan buruk itu pada tahun 2011. Tetapi toh nyatanya Indonesia tetap mampu memiliki banyak pemain hebat seperti Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Candra Wijaya, Tony Gunawan, Nova Widianto, Markis Kido, Hendra Setiawan, Liliyana Natsir, Maria Kristin, dan lain sebagainya pada periode 1994-2011. Nama-nama di atas bahkan mampu memberikan medali di Olimpiade meski tidak berstatus juara dunia junior.

Namun tidak lantas PP PBSI dan Indonesia bisa tenang-tenang saja melihat nihil gelar yang didapat Indonesia di turnamen tahun ini. Bagaimanapun, tim junior adalah pondasi tim Indonesia di masa depan, jadi pondasi harus dipersiapkan dengan baik. Semakin bagus pondasi sebuah bangunan, maka kemungkinan bangunan itu akan solid di masa depan akan semakin terbuka. Sama halnya dengan tim junior, semakin bagus bibit dan kemampuan mereka di level junior, maka peluang untuk memiliki bintang di masa depan tentu akan terbuka lebih lebar.

Untuk persiapan Tim Junior tahun ini sendiri berlangsung secara intensif selama tiga bulan pasca penampilan di Kejuaraan Asia Junior pertengahan tahun 2013 ini. Ke depannya, persiapan harus dilakukan lebih optimal terutama tentang rencana pelatnas usia dini sebagai bagian dari program jangka panjang PBSI. Nantinya program pelatnas usia dini sendiri bisa bersinergi dengan persiapan ke tiap ajang junior karena pemain sudah berkumpul di pelatnas sepanjang tahun dan persiapan bisa dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan.

Soal keberhasilan tim Indonesia menjadi runner up di nomor beregu untuk pertama kalinya pun tidak lantas harus dibesar-besarkan sebagai jaminan bahwa Indonesia akan memiliki komposisi tim yang bagus untuk nomor beregu di masa depan. Apresiasi patut diberikan pada perjuangan mereka, namun jangan sampai apresiasi tersebut melenakkan. Karena biar bagaimanapun hitungan real atau hitungan nyata prestasi seorang atlet adalah ketika ia sudah masuk ke ranah senior, bukan pada saat ia masih junior.

Fase dari junior menuju senior itulah yang kemudian menjadi fase krusial dimana perkembangan seorang pemain mutlak harus mendapat perhatian ekstra. Bisa saja dia yang saat junior menjadi juara, justru kemudian melempem saat naik tingkat ke fase senior. Atau bisa juga, seorang pemain yang hanya berstatus semifinalis saat junior malah bisa mendominasi saat beranjak senior.

Banyak faktor yang memengaruhi perubahan itu dan tidak selamanya mereka yang junior berada di atas akan selalu ada di atas. Faktor motivasi atlet menjadi faktor internal yang berpengaruh terhadap perkembangannya. Jika ia tak mudah berpuas diri, maka ia akan bisa terus berkembang sebagai seorang atlet. Yang kedua jelas perkembangan mental dan kepercayaan diri yang juga harus mutlak diasah sebagai bagian dari faktor internal yang harus terus diperbaiki.

Dari faktor eksternal, ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi seperti lingkungan tempat berlatih dalam hal ini untuk Indonesia berarti pelatnas Cipayung. Yang kedua adalah faktor pesaing dimana setelah masuk fase senior itu berarti sang pemain akan menghadapi persaingan terbuka, dimana pemain yang sudah lebih dulu malang-melintang di dunia bulu tangkis sebelum mereka bisa saja menjadi lawan mereka di seberang net nantinya. Selain faktor-faktor di atas, faktor cedera pun bisa menjadi momok menakutkan karena bagaimanapun hebatnya bakat seorang atlet semua akan sia-sia jika ia terkendala cedera berkepanjangan.

Kegagalan di level junior tak perlu disikapi berlebihan. Karena seperti anak kecil yang belajar naik sepeda, maka wajar jika jatuh pada awalnya. Yang terpenting adalah memastikan bahwa mereka ada di arah yang benar. Bahwa jatuh-nya mereka kali ini adalah bagian dari proses menuju kejayaan mereka nanti.

Keberhasilan di level junior pun tak perlu disikapi berlebihan. Karena seperti anak kecil yang belajar naik sepeda, maka keberhasilan mereka mengayuh sepeda di kali pertama, belum menjamin mereka tak akan jatuh di beberapa langkah ke depannya nanti.

 Terima kasih atas perjuangannya di Bangkok Para Pemain Junior Indonesia, dan teruslah berjuang karena karir kalian masih panjang membentang!

-Putra Permata Tegar Idaman-

Senin, 09 September 2013

Saat Olahraga Tak Lagi Jadi yang Utama

99 tahun lalu, perang dunia pertama meletus. Tiap-tiap Negara saling unjuk kekuatan dan kehebatan dan merasa lebih superior dibandingkan Negara lainnya. Negara yang kalah terpaksa menyerah dan harus tunduk pada sang pemenang. Mereka pun tak berdaya dalam kekangan sang penguasa. Saat ini, dunia sudah memasuki masa damai, namun sejatinya ‘perang’ itu masih ada dan berpindah ke arena olahraga. Sayangnya, saat ini Indonesia seolah ketinggalan dan tak mau ikut serta.

Sejak United Nations atau Perserikatan Bangsa-Bangsa berdiri pada 24 Oktober 1945, maka bisa dikatakan perang antar negara lewat konfrontasi strategi dan senjata resmi berakhir. Dunia sudah cukup prihatin dengan meletusnya dua perang dunia yang mengakibatkan korban meninggal dunia plus luka-luka lebih dari 100 juta jiwa. Negara-negara baik itu blok barat maupun timur sadar bahwa perang dunia ketiga di masa depan bisa jadi akan benar-benar menghancurkan dunia.

Namun, persaingan gengsi antar tiap negara tidaklah resmi berakhir. Suatu negara masih ingin dipandang superior dibandingkan negara lainnya. Dan kesempatan untuk bisa mewujudkan hal tersebut, bisa tercipta di arena olahraga, dimana persaingan antar bangsa masih terjadi dan menjadi perhatian seluruh dunia.

Mulai dari single event seperti FIFA World Cup, Kejuaraan Dunia Atletik dan cabang lainnya, Piala Thomas/Uber, hingga ajang multi event seperti Olimpiade, Asian Games, dan SEA Games, tiap negara yang terjun di dalamnya punya kesempatan untuk menegaskan status bahwa mereka lebih hebat dari negara lainnya yang ada di turnamen atau kejuaraan tersebut.

Itulah mengapa Amerika Serikat pun menaruh fokus penuh pada olahraga dan itu terlihat di Olimpiade. Mereka yang menyebut diri mereka sebagai ‘Super Power’ tentu juga ingin terlihat super di arena olahraga. Alhasil, mereka sangat dominan di Olimpiade dan sering keluar sebagai juara umum. Cina yang sering disebut kekuatan baru di dunia pun juga memanfaatkan arena olahraga sebagai tempat mereka unjuk kekuatan. Status juara umum Olimpiade Beijing 2008 pun sudah cukup bagi seluruh dunia untuk tak lagi meremehkan Cina sebagai sebuah bangsa.

Bagaimana olahraga bisa mengangkat harkat suatu bangsa juga bisa dilihat dari banyak contoh. Jamaika dan atletik misalnya. Dulu, mungkin Jamaika hanya dikenal lewat Bob Marley, namun kehadiran Usain Bolt yang fenomenal benar-benar membuat dunia kini menaruh respek pada Jamaika sebagai salah satu negara hebat di dunia.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Pada awalnya, Indonesia paham benar bahwa olahraga adalah salah satu jalan pintas untuk membawa harum nama bangsa ini ke pentas dunia. Hal itulah yang diyakini oleh Indonesia saat melakukan bidding sebagai tuan rumah Asian Games 1962. Komplek Gelora Bung Karno pun dibangun untuk mengakomodasi hal itu. Presiden Soekarno pun mendukung penuh rencana dan acara tersebut.

Di ajang SEA Games, Indonesia pun selalu jadi raja pada awalnya. Dari 1977-1997, Indonesia sembilan kali jadi juara umum dan hanya dua kali finis runner up, itu pun saat sang juara Thailand berstatus sebagai tuan rumah. Pemerintah dan pihak-pihak terkait saat itu benar-benar memberikan dukungan penuh kepada atlet-atlet Indonesia yang berlaga di berbagai arena.

Di olahraga perorangan, bulu tangkis menjadi tumpuan utama Indonesia untuk dikenal dunia. Sejak era 1960-an, nama berbagai pebulu tangkis mampu membuat dunia mengenal Indonesia sebagai kekuatan utama di dunia. Cabang olahraga angkat besi pun menyusul di era 2000-an dan bahkan jadi penyelamat saat bulu tangkis absen memberi medali di Olimpiade London 2012 lalu.

Bagaimana dengan kondisi terkini? Dalam beberapa tahun belakangan, bisa dibilang kondisi olahraga di Indonesia terbilang cukup miris. Persiapan mayoritas cabang olahraga menuju SEA Games 2013 menjadi bukti. Uang saku atlet yang telat ibarat sinetron yang hampir pasti jadwal tayangnya tiap minggu, beruntung hal itu tak membuat para atlet luntur semangatnya dalam melakukan persiapan. Minimnya anggaran yang dialokasikan untuk pembinaan olahraga di Indonesia juga menjadi sebab mengapa mayoritas Pengurus Besar (PB)/Pengurus Pusat (PP) tak memiliki dana yang cukup untuk memutar roda organisasi dan menjalankan pembinaan dengan baik sebagaimana seharusnya.

Pemerintah harus merespon keadaan ini. Untuk cabang olahraga yang populer dan berprestasi seperti bulu tangkis, PBSI mungkin sudah menemukan formula yang tepat untuk menghidupi diri sehingga mereka bisa memancing kedatangan sponsor. Namun untuk cabang olahraga lain yang berprestasi dan berpotensi namun kesulitan mendatangkan sponsor lantaran masalah popularitas di masyarakat, pemerintah tetap harus turun tangan untuk pendanaan.

Hal itu mutlak dilakukan karena jika dibiarkan, maka itu bakal menjadi efek domino ke depannya. Generasi muda akan mulai mencoret atlet sebagai pilihan profesi mereka di masa depan lantaran tak adanya kejelasan dan jaminan. Mungkin hanya cabang-cabang populer yang masih memiliki regenerasi sementara cabang olahraga lainnya akan semakin sulit mencari bibit.

Saat ini olahraga (sedang) tidak menjadi perhatian utama di Indonesia. Mungkin para penentu kebijakan itu lupa, bahwa hanya atlet dan kepala negara yang bisa mengibarkan Bendera Merah-Putih dan Lagu Indonesia Raya di luar Indonesia.

Selamat Hari Olahraga Nasional! Semoga hari ini tidak hanya sekadar sebuah hari peringatan saja, melainkan hari perenungan tiap insan olahraga di Indonesia.

-Putra Permata Tegar Idaman-

Rabu, 14 Agustus 2013

Angkat Topi untuk Ahsan dan Tontowi



Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2013 berakhir bahagia bagi Indonesia. Dua gelar juara setelah hampa gelar di tiga edisi Kejuaraan Dunia sebelumnya jelas sangat membahagiakan. Lebih menarik karena dua orang yang menjadi juara dunia pada 2007, tahun terakhir Indonesia merengkuh titel juara dunia, Hendra Setiawan dan Liliyana Natsir kembali menjadi juara dunia di tahun ini dengan pasangan yang berbeda. Hendra meraih juara dengan Mohammad Ahsan, Liliyana menjadi yang terbaik bersama Tontowi Ahmad.

Hendra dan Liliyana adalah pemain jenius dan itu tak perlu diragukan dan diperdebatkan. Sejak usia muda mereka sudah berprestasi dan itu mereka pertahankan hingga saat ini, saat dimana usia mereka sudah mulai memasuki fase usia tua sebagai seorang atlet. Yang ingin disorot dari tulisan ini adalah justru sosok Ahsan dan Tontowi, dua sosok yang harus berpasangan dengan Hendra dan Liliyana yang sudah meraih segalanya sebagai seorang pemain bulu tangkis.

Ahsan mulai berpasangan dengan Hendra selepas Olimpiade London 2012. Ahsan yang sebelumnya berpasangan dengan Bona Septano tengah mengalami kekecewaan yang cukup besar lantaran gagal menyumbangkan medali bagi Indonesia di Olimpiade London 2012. Tidak hanya soal Olimpiade saja, Ahsan sendiri juga sebelumnya hanya mampu menyandang status sebagai ganda 10 besar dan belum mampu naik level menjadi ganda papan atas.

Berpasangan dengan Hendra pun tidak lantas membuat Ahsan dengan mudah mencapai tangga teratas. Kondisi Hendra saat itu pun tidak dalam kondisi terbaik. Ia dan Markis Kido baru saja gagal lolos ke Olimpiade London 2012. Walaupun Hendra juga tengah terpuruk, nama besar Hendra  sudah cukup untuk  menjadi bayang-bayang besar di hadapan Ahsan.

Hendra adalah juara dunia, juara Olimpide, juara Asian Games,  pebulu tangkis nomor satu dunia dengan sederet gelar saat berpasangan dengan Markis Kido. Sementara Ahsan ketika itu belum mampu menjuarai satu pun titel super series.

Dan benar saja, perjuangan Ahsan/Hendra untuk membuktikan kapasitas mereka melalui jalan yang terjal. Setelah sempat mencuri perhatian dengan meraih gelar di Malaysia Super Series di awal tahun dan masuk semifinal All England 2013, duet Ahsan/Hendra diadang badai cedera pinggang yang menimpa Ahsan. Cedera ini memaksa Ahsan tak tampil satu kalipun di gelaran Piala Sudirman bulan Mei.

Beruntung, dalam rasa derita lantaran tak bisa tampil akibat cedera, rasa lapar gelar juga menghinggapi dalam tubuh Ahsan/Hendra. Indonesia Terbuka, turnamen perdana Ahsan/Hendra setelah kembali langsung berhasil dimenangi oleh mereka. Kemenangan Ahsan/Hendra ini menyelamatkan muka Indonesia sebagai tuan rumah turnamen.

Meski sudah memenangi turnamen selevel ini, Ahsan sendiri seolah tetap merasa belum bisa berdiri sejajar dengan Hendra. Ini bisa dilihat di satu momen dimana Ahsan terlihat bereaksi cukup emosional saat Hendra ditanya perbandingan antara Ahsan dengan Kido. Ahsan masih belum nyaman dengan pertanyaan yang mengungkit perjalanan masa lalu Hendra yang bergelimang prestasi. Dan Ahsan tahu, hanya dengan prestasi tinggi maka ia bisa menghapus pertanyaan perbandingan siapa yang lebih baik menjadi pasangan Hendra yang keluar dari mulut para jurnalis.

Selepas Indonesia Terbuka itu sendiri, Ahsan/Hendra semakin mengkilap sebagai pasangan. Singapura Super Series kembali berhasil dipuncaki oleh mereka yang menjadi modal besar bagi mereka menuju Kejuaraan Dunia 2013.

Dibandingkan Ahsan, Tontowi bahkan sudah merasakan ‘penderitaan’ lebih dulu soal bagaimana beratnya berpasangan dengan pemain bintang. Saat mulai diduetkan dengan Liliyana, Liliyana adalah juara dunia dua kali, peraih medali perak Olimpiade Beijing 2008 pebulu tangkis nomor satu dunia yang memiliki banyak gelar saat berpasangan dengan Nova Widianto. Sementara saat itu Tontowi sendiri belumlah menjadi siapa-siapa dari segi prestasi.

Dasar jodoh, Tontowi/Liliyana langsung melejit dan menjadi tulang punggung utama Indonesia di tahun 2011-2012. Tapi hal ini tidak membuat Tontowi luput menjadi sasaran kesalahan ketika duet Tontowi/Liliyana mengalami kegagalan. Tontowi dianggap kadang masih demam panggung dalam pertandingan-pertandingan krusial dan tidak bisa mengimbangi kematangan Liliyana. Tidak hanya itu, Tontowi juga dianggap indisipliner dan dua hal itulah yang disinyalir menjadi dua diantara beberapa sebab kegagalan Tontowi/Liliyana memenuhi target meraih emas di Olimpiade London 2012.

Dikritik berbagai rupa dan bahkan sempat diperam di awal tahun 2013 dengan tidak dikirim ke Malaysia Super Series karena masalah indisipliner, Tontowi tidak melawan. Ia paham bahwa saat itu posisinya memang lemah dan apapun argumen yang dikelurkan, maka ia tetap dalam posisi yang salah. Ia baru benar ketika ia kembali berprestasi dan itulah yang telah ditekadkan Tontowi dalam hati.

Benar saja, selepas diperam Tontowi/Liliyana pun lapar gelar. All England, India Super Series, dan Singapura Super Series adalah tiga dari empat turnamen super series/premier yang dimenangi mereka. Hanya gelar Indonesia Terbuka saja yang lepas dari genggaman mereka.

Dengan performa apik sepanjang tahun  2013 berjalan dimana Ahsan/Hendra dan Tontowi/Liliyana menjadi peraih gelar super series terbanyak untuk masing-masing nomor, maka tak heran jika akhirnya mereka mampu meneruskan performa gemilang itu dan menjadi juara dunia.

Gelar juara dunia ini sudah cukup menjadi bukti bagi Ahsan dan Tontowi agar mereka tak lagi merasa minder berdiri berdampingan dengan Hendra dan Liliyana. Ahsan dan Tontowi sudah menjadi salah satu pemain terbaik di dekade ini dan jika mereka ingin meningkatkan status menjadi calon legenda, jelas mereka sudah paham benar apa yang harus dilakukan, yaitu dengan memenangi turnamen-turnamen besar di masa depan.

-Putra Permata Tegar Idaman-

Sabtu, 03 Agustus 2013

Banyak Pemburu, Banyak Medali



Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2013 telah ada di depan mata. Sebagai negara besar, Indonesia sudah hampa gelar di tiga penyelenggaraan terakhir dan jelas ini boleh jadi disebut sebagai bencana bagi Indonesia. Dengan demikian tidak salah jika akhirnya Indonesia menjadikan Kejuaraan Dunia kali ini sebagai salah satu target besar di tahun 2013.

Berbicara soal peluang mendapatkan titel juara, jelas di atas kertas Indonesia kini memiliki dua jagoan andalan lewat nama Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Dua andalan memang terlihat sedikit jika dibandingkan dengan gambaran peta kekuatan Indonesia di dekade sebelumnya, tapi dua andalan sudah seolah jauh lebih baik jika dihadapkan dengan perbandingan dua tahun terakhir dimana Tontowi/Liliyana selalu disebut-sebut sebagai satu-satunya andalan.

Memang pastinya membanggakan bagi Tontowi/Liliyana ketika nama mereka selalu diucapkan dan dielu-elukan sebagai andalan di setiap kesempatan. Namun di atas lapangan, kadang hal itu malah menjadi beban. Kegagalan Tontowi/Liliyana di Olimpiade London 2012 jelas salah satunya karena mereka tak mampu keluar dari tekanan berat sebagai satu-satunya andalan yang tersisa di ajang tersebut.

Karena itu kehadiran Ahsan/Hendra sungguh sangat melegakan bagi Tontowi/Liliyana dan juga Indonesia. Kini beban untuk menyabet titel juara setidaknya ada di pundak dua wakil ini yang tentunya menjadikan beban tersebut berubah lebih ringan.

Terlebih, baik Ahsan/Hendra maupun Tontowi/Liliyana saat ini dalam kondisi yang sangat baik. Keduanya sudah meraih tiga gelar super series/premier tahun, terbanyak di nomornya masing-masing. Tontowi/Liliyana jelas terbilang luar biasa konsisten tahun ini karena tiga gelar itu didapat dari tiga turnamen yang ia ikuti tahun ini. Gambaran inilah yang kemudian mengapungkan harapan akan berakhirnya dahaga gelar Indonesia yang sudah berlangsung selama tiga edisi Kejuaraan Dunia ini.

Bicara soal beban, hal ini sendiri tidak lepas dari karakteristik bulu tangkis di dunia saat ini. Meski turnamen Kejuaraan Dunia ini bersifat individu, namun aroma persaingan antar-negara terasa kental. Hal itu tak lepas dari sifat Asosiasi Tiap Negara yang tetap dominan dalam pembinaan pemain. Hal ini berbeda misalnya dengan permainan raket lainnya yaitu tenis dimana pemain lebih bersifat individualis dengan mayoritas menggunakan biaya sendiri untuk mengikuti turnamen, meski saat juara para pemain tetap mengharumkan nama negara tersebut. Sebagai contoh, di dunia tenis sendiri ajang beregu seperti Piala Davis dan Piala Fed seolah menjadi turnamen yang tak terlalu penting dan para pemainnya sering melewatkan panggilan dari Asosiasi Tenis Negaranya dengan berbagai alasan.

Dengan latar belakang itulah akhirnya wajar jika pemain terkadang terbebani di kondisi-kondisi tertentu dimana ia begitu diharapkan bisa menjadi juara. Hal ini tidak hanya dialami pemain Indonesia melainkan juga para pebulu tangkis dari negara lain. Lee Chong Wei jadi salah satu contohnya dimana ia juga diberikan tumpuan sangat besar dari negaranya untuk bisa jadi juara dunia dan juara Olimpiade yang sampai saat ini belum berhasil diwujudkannya.

Lalu bagaimana mengatasi hal itu? Asosiasi Bulu Tangkis dalam hal ini Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) harus bisa mencetak banyak andalan. Jika diibaratkan, semakin banyak pemburu yang bisa diandalkan, maka semakin besar peluang adanya medali di tangan.

Memiliki andalan di tiap nomor sudah merupakan kondisi ideal yang bisa didapat oleh sebuah negara dan itu dialami Indonesia di tahun 1990-an meskipun ketika itu nomor ganda putri posisinya agak sedikit di belakang empat nomor lainnya.

Mau yang lebih hebat lagi? Jelas caranya adalah dengan mencetak banyak andalan untuk tiap satu nomor. Nomor tunggal putra dan ganda putra di era 1990-an pun pernah mencontohkan hal ini. Ketika itu di nomor tunggal putra, adanya 4-6 pemain Indonesia di babak perempat final atau terciptanya All Indonesian Semifinal bukanlah hal asing. Kondisi itu akhirnya membuat para pemain bisa melupakan ‘beban mengharumkan negara’ karena mereka sudah fokus untuk bersaing melawan para rekan sendiri dan jadi yang terhebat.

Kondisi nikmat itu juga dialami Cina di nomor tunggal putri 1-2 tahun lalu. Wang Yihan tidak perlu repot-repot menanggung beban mengharumkan negara di tiap turnamen individu karena lawan-lawan yang dihadapinya di babak akhir adalah rekan-rekannya sendiri seperti Wang Xin, Wang Shixian, Wang Lin, Jiang Yanjiao, hingga Li Xuerui. Dirinya pun kemudian bisa fokus untuk kepentingannya sendiri, menjadi yang terbaik di antara lainnya.


Kembali ke Kejuaraan Dunia 2013, adanya dua wakil yang jadi andalan di atas kertas patut disyukuri. Semoga dua andalan ini mampu menunaikan tugasnya dan meraih medali emas di Kejuaraan Dunia nanti. Sambil berharap hal itu, mari terus berdoa agar pebulu tangkis lainnya di Indonesia terus terpacu meningkatkan diri agar bisa berdiri sejajar dan memikul beban bersama sebagai andalan dan tumpuan.

-Putra Permata Tegar Idaman-

Kamis, 25 Juli 2013

Cipayung Bukan ‘Dan Merekapun Hidup Bahagia Selamanya’



‘Dan Merekapun Hidup Bahagia Selamanya.’

Kalimat itu adalah kalimat pemungkas yang sering ada dalam cerita dan dongeng-dongeng zaman dulu. Dengan menggemanya kalimat itu, sebuah perjalanan panjang, perjuangan yang menyakitkan, berakhir dengan sebuah kebahagiaan yang terus dikenang.

Kalimat ini jelas diperuntukkan bagi mereka yang telah melewati tantangan dan mencapai tujuan besar dalam hidupnya. Dengan hal itu pula, maka pelatnas Cipayung bukanlah tempat dimana atlet bisa nyaman dalam bernaung dan berdiam. Kalimat ‘Dan Merekapun Hidup Bahagia Selamanya,’ tidaklah cocok dialamatkan kepada para penghuni Pelatnas Cipayung, tempat yang sejak tahun 1990-an menjadi kawah pembinaan para pebulu tangkis Indonesia.

Cipayung seharusnya bukan menjadi tempat yang ‘nyaman’ dan para penghuninya harus sadar benar akan hal itu. Posisi mereka sebagai anggota pelatnas Cipayung itu bukan merupakan sesuatu yang abadi, melainkan sesuatu yang dipertaruhkan oleh reputasi yang mereka miliki. Durasi mereka di pelatnas Cipayung itu bukan sebuah kepastian melainkan tergantung penampilan.

Karena itu, para penghuni pelatnas Cipayung sebaiknya membuang jauh-jauh rasa puas ketika mereka telah mendapatkan label sebagai pemain tim nasional dengan masuk sebagai anggota pelatnas Cipayung. Menjadi anggota pelatnas, sejatinya bukan hanya mendapat kehormatan sebagai calon pengharum nama bangsa. Menjadi anggota pelatnas, itu berarti sang pemain juga semakin dituntut profesionalisme mereka sebagai pemain bulu tangkis.

Di luar soal dan perihal mengharumkan nama bangsa, para atlet bulu tangkis pelatnas jelas tak ubahnya seperti pekerja profesional lainnya. Mereka dikontrak dengan besaran nominal yang sebanding dengan prestasi yang telah mereka raih. Semakin banyak deretan prestasi yang bisa mereka sebutkan, semakin banyak rupiah yang mereka dapatkan. Terlebih dengan sistem sponsor individu seperti saat ini, maka atlet bisa semakin memperkaya diri.

Jadi, jangan jadikan pelatnas tujuan akhir dalam karir mereka sebagai pebulu tangkis. Jangan merasa gembira berlebihan ketika menyandang status sebagai atlet pelatnas. Masuk pelatnas, itu bukan akhir dari tujuan melainkan setengah jalan menuju impian.

Mereka harus ingat berapa ratus orang atau bahkan mungkin ribu orang yang mereka sisihkan dalam perjuangan mereka mendapatkan tiket menuju Cipayung. Tiap tahunnya, Cipayung mungkin hanya menerima sekitar 20 anggota baru jadi yang ada di pelatnas ini memang orang-orang yang benar-benar telah melewati persaingan yang tak mudah.

Jadi, di tengah suasana keakraban dan penuh persahabatan yang ada di Cipayung, para pemain harus tetap sadar bahwa satu sama lain dari mereka adalah saingan. Mereka bisa bersahabat dengan saling memotivasi dengan tidak mau kalah satu sama lain.

Atlet adalah profesi yang paling riskan di Indonesia. Terkenal saja belum tentu hidup nyaman setelah pensiun, apalagi yang hanya kelas semenjana. Karena itu, para pemain sudah harus memiliki pola pikir untuk fokus sepenuhnya terhadap profesi ini dan bukan malah terlena di tengah jalan ketika status pemain pelatnas dalam genggaman.

Memang dengan tingkat kesejahteraan yang ada saat ini, para atlet level menengah di pelatnas bulu tangkis pun sudah bisa hidup dalam ukuran nyaman untuk tingkat orang Indonesia pada umumnya. Namun yang mesti diingat durasi usia atlet rata-rata mungkin hanya sekitar 10 tahun. Jika ia dinilai tak berkembang, ia bahkan bisa saja tak bertahan lama di Cipayung dan berkarir kurang dari kurun waktu tersebut.

Kerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki di hari-hari mereka sebagai anggota pelatnas, baik saat latihan maupun saat pertandingan, sehingga nantinya jika memang sang atlet harus keluar dan terdepak dari pelatnas, ia bisa keluar dengan kepala tegak karena sudah memberikan seluruh kemampuan yang ia punyai. Jangan sampai para atlet keluar dari pelatnas dengan diiringi ratapan dan penyesalan karena merasa tak optimal dalam keseharian atau merasa tak mengeluarkan kemampuan secara maksimal.


Kerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki di hari-hari mereka sebagai anggota pelatnas, baik saat latihan maupun saat pertandingan, karena bisa jadi itu adalah langkah-langkah kecil mereka yang diulang-ulang menuju prestasi-prestasi besar. Sehingga nantinya trofi-trofi dan medali-medali yang mereka raih sepanjang karir itu bisa menjadi juru bicara bagi sang pemilik yang telah gantung raket dengan berkata,’Dan Ia (mereka) hidup bahagia selamanya.’ Bukan di Cipayung, melainkan di kehidupan mereka seutuhnya sebagai seorang atlet.

-Putra Permata Tegar Idaman-

Rabu, 19 Juni 2013

Taufik Hidayat yang Tak Benar-benar Menghilang





Hal yang paling berharga di dunia ini adalah waktu karena begitu kita sudah memberikannya, maka kita tidak akan bisa memintanya kembali. Karena itu, penghargaan terbesar dari seseorang kepada kita pun adalah ketika seseorang memberikan waktunya untuk kita sebagai hal yang utama. 

Dan itulah yang sudah dilakukan oleh Taufik Hidayat untuk bangsa Indonesia. Sejak masuk ke pelatnas Cipayung pada tahun 1996, itu berarti Taufik sudah memberikan waktunya selama 17 tahun bagi bangsa Indonesia untuk berkiprah di dunia bulu tangkis.  Bukan hanya sekedar kuantitas, tapi waktu yang diberikan Taufik bagi bulu tangkis dan bangsa ini adalah waktu yang benar-benar berkualitas. Torehan gelar demi gelar juara telah berkali-kali dia ukir, mulai dari ajang individu, beregu, hingga multi event. Bahkan Taufik sendiri sukses melengkapi medali emasnya di tiga tingkatan ajang multi event, mulai dari SEA Games (2x emas), Asian Games (2x emas), hingga Olimpiade.

Karena berbagai torehan prestasi itu, maka Taufik pun menjadi atlet papan atas di Indonesia. Salah satu tanda bahwa Taufik benar-benar terkenal di mata publik adalah ketika seseorang yang tak mengikuti perkembangan bulu tangkis, namun ia tahu siapa itu Taufik. Setiap nama Taufik Hidayat muncul ke permukaan, maka akan langsung diasosiasikan pada nama Taufik sang pebulu tangkis meski mungkin masih banyak pengguna nama tersebut di Tanah Air ini.

Pun dengan refleks dan kelenturan pergelangan tangannya yang dulu begitu cepat sehingga mampu melakukan pukulan-pukulan luar biasa. "Pukulan setan" kata sebagian pengamat. Di situs youtube hingga kini masih ada rekaman bagaimana Taufik di masa jayanya, bisa membuat pukulan backhand-nya secepat dan sekeras pukulan forehand. 

Namun, sehebat apapun, Taufik tetap tak akan mampu melawan usia. Gerakannya yang dulu lincah didukung footwork yang luar biasa di atas lapangan kini mulai melamban. Staminanya yang prima pun mulai digerogoti oleh umurnya yang semakin tua. Tubuhnya pun tak seprima dulu kala begitupun dengan gerakan pergelangan tangannya yang selama ini menunjangnya untuk melakukan pukulan-pukulan luar biasa.

Alhasil, Taufik pun merencanakan pensiun sejak setahun lalu. Turnamen Indonesia Terbuka, turnamen yang sudah enam kali dimenanginya, dipilih sebagai turnamen pamungkas perjalanan karirnya sebagai seorang atlet.

Dalam acara perpisahannya dengan publik Indonesia di Istora, Minggu, 16 Juni, Taufik mampu membendung air mata yang akan keluar dari bola matanya meski itu mungkin air mata perpaduan perasaannya. Air mata kesedihan karena akan meninggalkan profesinya sebagai atlet bulu tangkis yang begitu ia cintai, dan air mata bahagia karena fakta yang ada menunjukkan bahwa Taufik begitu dikagumi oleh publik Indonesia. Riuh tepuk tangan di sela-sela ratusan wajah yang termenung mendengarkan kata-kata perpisahan dari Taufik membuat atmosfer Istora saat itu terasa mengharukan.

Rasanya tak seorang pun ingin berdebat tentang apakah Taufik begitu digemari dan dicintai sebagai seorang pebulu tangkis. Karena memang fakta yang ada demikian. Mulai dari penggemar, rekan setim (sepelatnas), hingga lawan semua menaruh respek kepada pria berusia 31 tahun ini. Semua benar-benar merasa kehilangan dengan keputusan Taufik untuk gantung raket meskipun keputusan ini bukanlah keputusan mendadak lantaran sudah sejak jauh-jauh hari.

Sejatinya Taufik sendiri tidak akan benar-benar menghilang dari dunia bulu tangkis. Taufik pensiun sebagai atlet adalah fakta dan kebenaran, namun Taufik tidak akan meninggalkan dunia bulu tangkis, dan itu pun sebuah jaminan yang datangnya dari mulut Taufik sendiri.

Sejak tahun 2010, Taufik sudah mulai melakukan pembangunan Taufik Hidayat Arena (THA) yang kini bangunannya telah berdiri kokoh di timur Jakarta, tepatnya di daerah Ciracas. Dalam gedung inilah nantinya Taufik akan ikut membina para bibit-bibit muda meskipun bukan sebagai pelatih karena sejauh ini dia belum berminat untuk duduk di posisi itu.

Namun setidaknya hal ini cukup melegakan bagi yang mencintai Taufik. Juara dunia 2005 itu tak akan pernah benar-benar menghilang dari dunia bulu tangkis. Taufik dan bulu tangkis adalah relasi yang abadi, relasi selama hayat dikandung badan.

Salah satu alasan Taufik bisa mengukir prestasi-prestasi besar sepanjang karirya adalah motivasinya untuk berprestasi yang terbilang tinggi. Nah, hal inilah yang mungkin akan mendorong Taufik melakukan hal-hal besar selepas ia tak lagi menjadi atlet. Taufik selalu berkata bahwa perhatian pemerintah terhadap atlet sangat minim dan bukan tidak mungkin hal itu akan sangat menarik untuk diperjuangkan oleh Taufik nantinya dengan masuk struktur organisasi PBSI, Pemerintah, atau cara lainnya. 

 Taufik memang pergi dari lapangan bulu tangkis, namun Taufik tak akan pernah pergi dari dunia bulu tangkis. Waktu Taufik masih akan ada untuk bulu tangkis dan publik Indonesia pun tetap siap dan antusias menanti torehan besar Taufik di luar lapangan setelah ini.

-Putra Permata Tegar Idaman-