Selasa, 05 Juni 2012

Misteri di Balik Gedung PBSI

BIASANYA, tempat yang terbilang misteri adalah tempat yang jauh dari keramaian, yang berteman sepi dan kesunyian. Gedung PBSI yang berada di Cipayung dan jauh dari keramaian Jakarta, memang memenuhi syarat tempat misteri jika ditinjau dari segi tempat dan lokasi. Namun, yang akan dibahas kali ini bukan misteri soal bangunan fisik gedung PBSI, melainkan misteri di balik banyaknya kontroversi yang muncul dari para pengurus yang mendiami tempat tersebut.
Sejak Djoko Santoso terpilih sebagai Ketua Umum PBSI untuk periode 2008-2012, sudah banyak keputusan kontroversial yang dicuatkan oleh PBSI terkait pengelolaan atau manajerial yang terkait erat dengan pembinaan dan prestasi pebulu tangkis. Manajemen yang kurang berjalan baik akhirnya memunculkan kerugian-kerugian dan berdampak negatif pada perkembangan bulu tangkis Indonesia.
Sejak tahun pertama aktif (2009), manajemen PBSI di bawah Djoko memang sudah mulai menebar benih-benih pertanyaan. Perihal pencoretan Mulyo Handoyo dari Cipayung yang berdampak mundurnya Taufik Hidayat dari pelatnas, menjadi awal dari benang kusut yang dibuat oleh PBSI. Setelah Taufik pergi, Vita Marissa pun ikut pergi.
Untuk kasus Vita, PBSI tak bisa melihat dengan jelas bagaimana pengorbanan Vita yang baru bertukar pasangan dari Flandy Limpele ke Muhammad Rijal saat menetapkan nilai kontrak. Lantaran masalah angka kontrak ini pulalah, Vita memilih pergi.
Rangkaian kepergian pemain pun terus berlanjut. Markis Kido yang kecewa karena PBSI tak mampu berkomunikasi dengan aktif perihal kesehatannya, pun memutuskan pergi dari Cipayung. Kepergian Kido diikuti Hendra Setiawan. Lantaran berada di luar, duet andalan Indonesia ini pun kurang mendapat pantauan berarti dan akhirnya mengalami penurunan prestasi.
Kemudian dari waktu ke waktu, pengelolaan PBSI era Djoko pun makin menunjukkan banyak kejadian yang mencengangkan. Kabid Binpres PBSI Lius Pongoh memilih mengundurkan diri di pengujung tahun 2010. Kekosongan Kabid Binpres ini ternyata berefek pada munculnya sosok Li Mao ke pelatnas Cipayung. Kedatangan Li Mao jelas sangatlah bersejarah karena ini kali pertama Indonesia memakai pelatih asing.
Cara kedatangan Li Mao yang tidak jelas, disebut-sebut lewat sumbangsih sponsor atau seseorang, kemudian sejalan dengan kontribusinya yang memang tak pernah nyata. Sosok Li Mao justru menyulut hengkangnya dua pelatih dari Cipayung, Marleve Mainaky dan Sarwendah Kusumawardhani. Dua mantan pebulu tangkis ini pergi karena tak ada mekanisme yang jelas yang mengatur peran mereka berdua setelah kedatangan Li Mao.
Kedatangan Li Mao sendiri sontak bisa dibilang membuat cemburu para pelatih lainnya. Pasalnya, Li Mao dengan mudahnya disodori kontrak dua tahun plus dibangunkan sebuah kediaman di dalam area Cipayung. Sementara itu, untuk pelatih lokal sendiri, aspirasi mereka yang meminta adanya kontrak durasi panjang tidak juga dikabulkan. PBSI berkilah tak ada dana yang keluar dari kantong mereka untuk program Li Mao, namun tetap saja PBSI tak bisa berlaku adil dalam hal perlakuan terhadap pelatih.
Tidak sampai di situ, sosok Li Mao pun membuat Kabid Binpres PBSI yang menggantikan Lius Pongoh, Hadi Nasri, tak mampu berbuat banyak sesuai strata jabatannya. Hadi yang masuk PBSI beberapa bulan setelah Li Mao masuk di pertengahan 2011, menyebut dirinya tak mampu berbuat banyak untuk nomor tunggal karena dirinya masuk setelah program Li Mao dibuat.
Alhasil, dalam satu tahun belakangan, nomor tunggal menjelma menjadi nomor yang sulit dijangkau. Mereka seperti berjalan sendiri di bawah kendali Li Mao tanpa pengawasan struktural dari Kabid Binpres. Jika nanti akhirnya Hadi benar-benar meninggalkan kursi Kabid Binpres seperti yang diisukan, tentu salah satu sebabnya adalah karena manajemen PBSI yang tak bisa membagi job desk dengan jelas.
Hampir empat tahun berjalan, kontroversi selalu menjadi “prestasi” yang menonjol dibandingkan jumlah trofi di kepengurusan  PBSI saat ini. Menarik untuk dinantikan, masihkah ada kontroversi lain yang menyusul dilakukan oleh  PBSI di saat masa kepengurusan mereka kini hanya menghitung bulan saja?

-Putra Permata Tegar Idaman-

Selasa, 29 Mei 2012

Komplikasi di Balik Kegagalan Indonesia Saat Ini




Ya! Bulu tangkis Indonesia gagal dan itulah yang kemudian menjadi perhatian banyak orang.  Mengapa tim Thomas dan Uber Indonesia hanya bisa bertahan hingga perempat final terus menjadi pertanyaan. Yang paling disorot tentu performa Tim Thomas yang benar-benar buat semua orang cemas. Berhenti untuk pertama kalinya di babak perempat final, apalagi di tangan Jepang, jelas membuat semua orang terheran-heran.

Inilah gambaran utama di negeri ini. Bulu tangkis Indonesia memang terlalu hebat di masa lalu, sehingga semua kejayaan menjadi sebuah kebiasaan. Ketika Indonesia mulai terpuruk ke jurang hampa prestasi, barulah semua orang ramai-ramai bertanya apa yang terjadi saat ini?

Banyak masalah yang bisa ditunjuk sebagai sebab kegagalan Indonesia sehingga bisa sampai seperti ini. Semua pihak yang terkait bertanggung jawab untuk menyelesaikan urusan dan kewenangan mereka masing-masing.

Yang pertama, PBSI butuh sadar diri bahwa banyak luka dalam tubuh mereka. Contoh sederhananya saja, mereka tak mampu menjaga kekompakan tim Thomas dengan membiarkan Markis Kido pergi ke Papua untuk eksebisi seminggu jelang pertandingan. Sementara untuk tim Uber, polemik soal siapa yang berangkat ke Olimpiade London 2012 antara Maria Febe atau Adriyanti Firdasari jelas sedikit merusak konsentrasi mereka berdua di ajang ini.

Hal itu sendiri hanya sebagian kecil dari kontroversi yang ada di PBSI. Soal pemilihan pemain dan pencoretan pemain, peran pelatih asing, dan ketiadaan kontrak pelatih lokal belum dibahas detil di sini.
Yang kedua, Pemerintah harus membantu PBSI berbenah diri dari segi fasilitas penunjang. Tak bisa lagi omongan bahwa di jaman dulu, dengan semangat nasionalisme di tangan semua bisa berjalan dan kemenangan diraih di tangan. Di jaman maju seperti sekarang, pengaplikasian teknologi yang berkembang jelas menjadi suatu keharusan.

Berkunjung ke Cipayung, jelas sentra pembinaan pebulu tangkis Indonesia itu sudah mulai terlihat kelelahan mengejar jaman. Tak ada jogging track, alat fitness yang kurang menjadi sebuah pemandangan memprihatinkan. Belum lagi soal penanganan cedera yang tentunya tidak semaju di negara-negara saingan. 

Selama ini, untuk pemberangkatan atlet, PBSI menggunakan dana dari sponsor. Pemerintah hanya turun tangan ketika pertandingan tersebut dekat dengan ajang multi event seperti  Olimpiade, Asian Games, dan SEA Games. Itu pun hanya untuk beberapa pertandingan sementara pemain harus rutin mengikuti pertandingan selama satu tahun penuh.  Dengan kondisi demikian, maka saat terpuruk inilah Pemerintah mengambil peran. Jika tak bisa rutin menggelontorkan dana pengiriman, maka buatlah fasilitas bantuan yang diperlukan di pelatnas Cipayung. Dananya akan lebih besar namun keuntungannya jelas bisa dipetik dalam jangka panjang.

Yang ketiga, untuk para pemain, kembali harus disadarkan bahwa menjadi atlet bukan hanya sekedar bahwa mereka adalah harapan rakyat untuk mengharumkan nama bangsa. Lebih dari itu semua, atlet adalah profesi dan mereka harus bisa bertanggung jawab pada diri sendiri. Secara materi dan ekonomi, generasi saat ini mendapatkan hal yang lebih baik dibandingkan para senior mereka dulu kala. Jadikanlah hal itu untuk semakin termotivasi untuk berprestasi, jangan malah hal tersebut membuat mereka lebih mudah berpuas diri. Jika semua sudah berjalan signifikan, maka keberhasilan kemungkinan besar akan kembali menjadi sebuah kebiasaan.


Rabu, 09 Mei 2012

Jalan Panjang Daud Menuju Kemenangan




Daud Yordan tampak begitu bersemangat menghujamkan pukulan-pukulannya tanpa sasaran di depannya. Badannya bergerak kesana kemari seolah ada lawan yang sedang dihadapinya. Tak berapa jauh darinya, Damianus Yordan, kakak sekaligus pelatih Daud memberikan instruksi demi instruksi. Suasana sasana tinju di Pintu VI Senayan itu sangatlah lengang sehingga suara pukulan dna instruksi pun menggema di seluruh ruangan.

Itulah gambaran saat Daud melakukan shadow boxing dalam persiapan menghadapi Celestino Caballero dua tahun lalu. Begitu sepi dan tak banyak mendapat perhatian publik. Daud, yang ketika itu belum terkalahkan, kemudian menyimpan ambisi untuk bisa mengalahkan Caballero di BankAtlantic Center, Florida, 10 April 2010. Pasalnya, kemenangan akan mendekatkan Daud pada sebuah pertarungan perebutan gelar juara dunia, demikian janji Golden Boy Promotion, promotor yang menaungi Daud ketika itu.

Harapan tersebut berakhir kekecewaan. Daud gagal mengaplikasikan persiapan maksimal selama berbulan-bulan di atas ring. Proses adaptasi kondisi cuaca di Amerika Serikat yang hanya beberapa hari menjadi alasan Daud tak maksimal. Meski kalah untuk pertama kalinya, Daud tak larut dalam kekecewaan.
“Juara sejati bukan hanya milik mereka yang tak pernah kalah, melainkan juga bagi mereka yang bisa bangkit dari kekalahan.” Begitulah ucap Daud merespon kekalahannya waktu itu. Selepas kalah dari Caballero, Daud kembali menunjukkan penampilan impresif dengan menang TKO ronde enam atas Christian Abila dan menang KO ronde pertama melawan Damian David Marciano.

Dua kemenangan itu ternyata mengantar Daud untuk menjejakkan kaki di perebutan gelar juara dunia perdana baginya. ‘Sayang,’ perebutan gelar juara dunia itu adalah duel antara Daud melawan Chris John, sang super champion kelas bulu WBA yang sudah lebih dulu jadi local hero di Indonesia. Meski mampu mengimbangi, Daud dinyatakan kalah angka mutlak melawan Chris John.

Kata-kata yang sama kembali diulangi oleh Daud usai kekalahan ini. “Juara sejati bukan hanya milik mereka yang tak pernah kalah, melainkan juga bagi mereka yang bisa bangkit dari kekalahan.” Ya, itu kata-kata yang kembali terlontar dari mulut petinju yang ketika itu masih berusia 23 tahun ini.
Daud melontarkan kata-kata tersebut bukan hanya sekedar mencari alasan, melainkan sebuah keyakinan karena banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sebuah kekalahan. Salah satu bukti positifnya adalah, setelah kekalahan melawan Chris John, Daud secara resmi bergabung di bawah manajemen Mahkota Promotions pimpinan Raja Sapta Oktohari.
Dengan manajemen yang lebih rapi dan ambisi Okto, panggilan Raja Sapta Oktohari untuk menciptakan juara dunia baru asal Indonesia, maka tekad kuat Daud seolah menemukan puzzle yang hilang. Daud menunjukkan kehebatannya dengan menang TKO atas Frankie Archuleta pada November 2011 lalu dan kemudian Okto menjawabnya dengan keberhasilan mendapatkan jalan bagi Daud menuju juara dunia lewat kepastian pertarungan memperebutkan gelar lowong IBO kelas bulu bagi Daud di kesempatan berikutnya.
Menghadapi Lorenzo Villanueva di atas ring, Daud juga menunjukkan tekad juara sejati yang digenggamnya. Terjungkal di ronde pertama, Daud merespon dengan kebangkitan di ronde kedua dengan memukul jatuh Villanueva dua kali dan menghasilkan kemenangan KO di ronde kedua.

Usai sabuk juara dunia melingkar di pinggangnya, bukan berarti ambisi Daud sudah menemukan ujung jalan. Dengan usia 24 tahun, masih banyak yang bisa digapai dan dijadikan tujuan oleh petinju asal Ketapang ini. Ingin menyamai atau bahkan melebihi nama besar Chris John bukan sebuah hal mustahil untuk dilakukan karena jalan Daud masihlah panjang.

Salah satu caranya mungkin dengan menjadi petinju Indonesia pertama yang mampu menyandang dua gelar juara dunia pada saat bersamaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, tentunya tekad kuat Daud, dukungan pelatih, dan juga manajemen promotor harus terus berjalan beriringan.


-Putra Permata Tegar Idaman-

Minggu, 06 Mei 2012

Layak Diapresiasi, namun Jalan Masih Panjang

NATIONAL Basketball League (NBL) Indonesia 2011-2012 telah berakhir. Gelaran kompetisi bola basket profesional di Indonesia ini ditutup dengan sebuah cara yang spektakuler. Final yang digelar di GOR UNY Yogyakarta, Minggu (29/4), kemarin benar-benar menyuguhkan sajian kelas wahid dan memanjakan mata para penonton yang datang maupun menyaksikan lewat layar kaca.

Bukan hanya lantaran duel klasik antara Satria Muda (SM) Britama versus s Dell Aspac Jakarta yang menjadi perhatian penggemar bola basket Indonesia, melainkan juga cara bagaimana partai final itu dibuka. Pengelola NBL Indonesia, Development Basketball League (DBL) di bawah komando Azrul Ananda benar-benar tahu bagaimana menaikkan derajat kompetisi ini. Delapan ribu tempat duduk yang terisi penuh di GOR UNY Yogyakarta, pun menjadi bukti bahwa NBL Indonesia mampu membawa penonton mencapai klimaks di gelaran tahun ini.

Tidak saja pada partai final, secara keseluruhan DBL telah memberikan sebuah peningkatan signifikan pada iklim bola basket Indonesia sejak resmi menjadi pengelola liga dua tahun lalu. Mengambil peran tersebut, DBL secara bersungguh-sungguh melakukan perbaikan demi perbaikan yang membuat NBL Indonesia makin menarik dilihat dan dinikmati.

NBL Indonesia kini bukan sekadar kompetisi bola basket biasa. NBL Indonesia berkembang lebih jauh sebagai sebuah pertunjukan yang menarik perhatian tiap penggemarnya dari kota ke kota. Pasalnya, DBL juga memasukkan kegiatan yang sifatnya sosial macam donor darah ataupun yang sifatnya hiburan macam lomba makan burger dan lain sebagainya.

Sukses penyelenggara menaikkan status NBL Indonesia dalam dua musim terakhir patut mendapat apresiasi tersendiri. Namun, jalan penyelenggara untuk mewujudkan NBL Indonesia sebagai kompetisi bola basket yang semakin ideal dan membanggakan masih panjang. Ada beberapa kekurangan yang patut menjadi perhatian penyelenggara.

Masalah utama yang masih sering dikeluhkan adalah soal wasit yang memimpin jalannya pertandingan. Banyak dari tim yang mengambinghitamkan wasit sebagai penyebab kekalahan yang mereka derita dari sang lawan. Wasit sering dianggap terlalu mudah memberikan foul atau di kesempatan lainnya terlalu longgar dalam meniupkan peluit. Intinya, wasit masih sering jadi sasaran protes tim yang bertanding.

DBL sebagai penyelenggara harus segera memberikan reaksi atas keluhan yang dilontarkan tim-tim peserta. Mereka bisa memperbaiki kualitas wasit dengan mengadakan pelatihan yang lebih intensif. Dengan demikian, kualitas wasit makin terasah dan presentase wasit yang jadi sasaran alasan tim yang kalah bisa diperkecil.

Yang kedua dan patut dinanti adalah bagaimana DBL sebagai penyelenggara NBL Indonesia melakukan gerakan untuk bisa meningkatkan kekuatan tim-tim di NBL,  terutama di tim papan bawah agar kualitas liga semakin merata.

Bisa dilihat, untuk musim kali ini tim papan atas macam SM Britama, Aspac, Pelita Jaya Esia Jakarta, Garuda Speedy Bandung, dan CLS Knights Surabaya masih dominan dalam pertandingan babak reguler. Sulit untuk melihat kejutan terjadi saat tim papan atas bertemu tim papan bawah.

Hal ini sendiri berefek domino terhadap antusiasme penonton. Di setiap seri, hanya laga big match yang banyak mendapat perhatian penonton. Laga antara tim papan atas melawan tim papan bawah jarang dilirik lantaran hasilnya bisa jadi sudah ketahuan sebelum pertandingan dimulai. Belum lagi fakta lainnya bahwa tim kuat biasanya menyimpan pemain andalan sehingga antusiasme penonton pun ikut berkurang karena tak bisa puas menyaksikan tim pujaan.

DBL sebagai penyelenggara sendiri sudah lebih dulu mengadakan liga bola basket antarpelajar SMA tingkat nasional dan mulai tahun depan juga akan menjadi pengelola Liga Bola Basket Mahasiswa Nasional. Itu artinya mereka sudah memegang dua mata air di mana  bakat-bakat bola basket Indonesia berasal. Bisa saja mereka menghubungkan keduanya dengan NBL Indonesia lewat sistem draft layaknya di NBA di mana tim lemah

memiliki kesempatan lebih dulu memilih pemain rookie yang sudah disusun peringkatnya. Atau mungkin, saat ini penyelenggara telah memiliki cara tersendiri yang bakal diaplikasikan dalam musim-musim mendatang yang lebih cocok dengan iklim bola basket Indonesia. Apa pun program yang mereka rencanakan, semoga bola basket Indonesia terus maju di masa mendatang.


Putra Permata Tegar Idaman

Rabu, 18 April 2012

Pelatnas, Kapal Induk yang Bermasalah Namun Tak Boleh Dihancurkan




Sudah sejak beberapa dekade lalu, pelatnas bulu tangkis PBSI, baik itu saat berlokasi di Senayan maupun saat hijrah ke Cipayung, seolah menjadi kapal induk yang mengantarkan kejayaan para pebulu tangkis Indonesia.

Lewat daya jelajahnya yang mencakup lingkup internasional (baca : kemampuan ekonomi yang mumpuni), satu per satu pasukan (baca : atlet) diantarkan menuju medan perang. Bukan hanya sekedar mengantarkan, kapal induk bernama pelatnas itu pun membina dan menempa para pasukan tersebut hingga akhirnya mereka menjadi pasukan-pasukan tangguh yang memenangkan pertempuran demi pertempuran.

Di balik kehebatan kapal induk bernama pelatnas tersebut, jelas ada peran dari kapal-kapal kecil bernama klub-klub bulu tangkis di Indonesia. Kapal-kapal kecil ini membina pasukan dari usia dini dan menempa mereka lewat pertempuran-pertempuran di tingkat nasional. Lantaran daya jelajah nya yang terbatas hanya tingkat nasional, mereka pun menitipkan harapan untuk melihat suksesnya para pasukan lewat peran dari kapal induk bernama pelatnas. Kapal induk pelatnas ini sendiri selalu memantau perkembangan pasukan dari tiap kapal kecil setiap tahunnya dan melakukan perekrutan bagi mereka yang dianggap mampu bersaing di medan perang internasional.

Lalu bagaimana dengan kondisi saat ini ? Di saat kompetensi kapal induk dipertanyakan kemampuannya menghasilkan para pasukan tangguh ? Di saat beberapa kapal kecil sudah memiliki kemampuan untuk berlayar menjelajah internasional mengirimkan para pasukannya berlaga tanpa bantuan kapal induk bernama pelatnas ? haruskah kapal induk pelatnas dihancurkan dan melepas begitu saja kiprah para kapal kecil ?

Yang pertama, keberhasilan beberapa kapal kecil berlayar secara internasional dan mengirimkan pasukannya tentu patut mendapatkan apresiasi. Itu artinya, pelatnas tidak menjadi satu-satunya kapal harapan yang mampu mewujudkan mimpi para manusia Indonesia menjadi pasukan elit yang disegani di tingkat dunia. Ada kapal lain yang bisa menjadi alternatif untuk meraih sukses.

Namun apakah dengan itu lebih baik kapal induk pelatnas dihancurkan ? Tentu kata ‘tidak’ adalah pilihan yang paling bijak. Kapal kecil yang memiliki akselerasi menuju medan perang internasional tentu sedikit jumlahnya. Tidak semua kapal kecil bisa memenuhi pembiayaan untuk terus berlayar ke arena internasional sepanjang tahun. Karena itu, kapal induk pelatnas masih menjadi pelabuhan antara bagi para pasukan dari kapal kecil yang ingin meraih nama di persaingan tingkat dunia.

Belum lagi soal fasilitas penunjang para pasukan, seperti kepelatihan, kesehatan, gizi, dan juga lain-lainnya. Semua hal itu masih tersaji dan tersedia di kapal induk pelatnas. Kasarnya, setelah menjadi bagian dari anggota pelatnas, para pasukan hanya perlu giat berlatih sepanjang waktu. Urusan lain, sudah ada petugas (baca : pengurus) yang akan melayani mereka.

Lalu, bagaimana dengan kemunduran prestasi yang dialami pasukan pelatnas periode ini ? Tentu sistem nya yang perlu diperbaiki, bukan lantas metode kapal induk pelatnas nya yang diubah karena metode ini belumlah usang dan masih layak digunakan.

Rekrutmen pasukan perlu transparansi yang lebih jelas mengenai kriteria dan sebagainya. Para petugas di kapal induk pun tak boleh membuat keputusan yang tak berlandaskan alasan yang logis. Jika mereka tak mampu menjadi petugas yang baik, tentu lebih baik turun dari kapal induk tersebut.

Para pasukan pun harus sadar akan tanggung jawabnya. Mereka hanya punya bulu tangkis sebagai modal utama. Meraih kejayaan, itu artinya nama mereka akan semakin mendunia. Gagal dalam medan perang, itu artinya mereka harus menundukkan kepala tanpa meraih kebanggaan apa-apa.

Jika semua pihak di atas kapal induk pelatnas sudah menyadari peran masing-masing, tentu cerita masa lalu kejayaan kapal induk pelatnas yang meraih kemenangan demi kemenangan di berbagai pertempuran, bukan lagi isapan jempol semata untuk kembali diulang.


nb : tulisan merupakan bahan diskusi denga Om @smesnyangkut . males ditwit kepanjangan, jadi mendingan sekalian ditulis :P

Selasa, 13 Maret 2012

Tontowi/Liliyana dan Sejarah Tak Menyenangkan Ganda Campuran di All England serta Olimpiade



Sejak ganda campuran resmi dipertandingkan di Olimpiade Atlanta 1996, maka sejak saat itulah para negara papan atas bulu tangkis tak main-main dalam menyiapkan kekuatannya. Jika sebelumnya pemain ganda campuran adalah pemain yang merangkap pada nomor lainnya, maka sejak itu banyak pemain yang memang memiliki spesialisasi nomor ganda campuran.

Mulai tahun 1996 hingga sekarang pula, ada dua nama ganda campuran yang menjadi kekuatan utama Indonesia, yaitu Tri Kusharjanto/Minarti Timur dan kemudian tampuk tersebut diserahkan pada Nova Widianto/Liliyana Natsir.

Ada banyak persamaan dari dua ganda campuran Indonesia tersebut. Sama-sama banyak gelar dan pernah menduduki posisi nomor satu dunia. Negatifnya : keduanya hanya sama-sama menjadi runner up di All England dan Olimpiade.

Tri/Minarti menjadi runner up pada All England 1997 dimana mereka kalah dari Liu Yong/Ge Fei (Cina) dengan skor 10-15, 2-15. Untuk Olimpiade, kepahitan mereka rasakan di Olimpiade Sydney 2000 saat di final mereka kembali bertekuk lutut dari pasangan Cina lainnya, Zhang Jun/Gao Ling, 15-1, 13-15, 11-16.

Berlanjut ke Nova/Liliyana, duet ini bisa dikatakan meraih prestasi yang lebih tinggi dibandingkan Tri/Minarti. Hal ini dibuktikan oleh status juara dunia yang sukses mereka sandang sebanyak dua kali yaitu tahun 2005 dan 2007. Namun sayangnya, torehan lain Nova/Liliyana semakin menegaskan bahwa ganda campuran tak akrab dengan All England dan Olimpiade.

Nova/Liliyana dua kali jadi runner up All England pada tahun 2008, kalah dari Zheng Bo/Gao Ling, 21-18, 14-21, 9-21, dan tahun 2010, menyerah di tangan Zhang Nan/Zhao Yunlei, 18-21, 25-23, 18-21. Untuk Olimpiade, Beijing 2008 menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Nova/Liliyana saat mereka takluk dari ganda Korea, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung, 11-21, 17-21.

Lalu bagaimana dengan duet Tontowi/Liliyana yang memang sejak tahun 2010 langsung diharapkan bisa tampil sebagai suksesor Tri/Minarti dan Nova/Liliyana ? Duet yang baru berusia dua tahun ini langsung menggebrak dan memutus rantai kutukan ganda campuran di All England yang bahkan sudah dimulai sejak tahun 1979 saat terakhir kali Christian Hadinata/Imelda Wiguna mampu bertahta. Lewat permainan agresif, Tontowi/Liliyana merengkuh juara dengan mengalahkan Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl, 21-17, 21-19.

Dengan keberhasilan ini apakah Tontowi/Liliyana semakin meyakinkan sebagai andalan di Olimpiade London 2012 mendatang sekaligus mengakhiri kutukan ganda campuran di Olimpiade ? Tunggu dulu, selain sejarah kurang menguntungkan untuk ganda campuran Indonesia di Olimpiade, ada satu sejarah lagi yang harus dilawan oleh Tontowi/Liliyana.

Sejarah lain yang harus dilawan adalah sejarah ganda campuran dalam kapasitas keseluruhan, bukan hanya lingkup Indonesia melainkan seluruh dunia. Ya, sejak tahun 1996 dimana ganda campuran mulai dipertandingkan di Olimpiade, tak pernah ada juara All England di tahun Olimpiade yang mampu memenangi Olimpiade.

All England 1996 milik Park Joo-Bong/Ra Kyung-min (Korea), namun emas Olimpiade direbut oleh rekan senegara mereka Kim Dong-moon/Gil Young-Ah. Tahun 2000, All England dimenangi oleh Kim Dong -moon/Ra Kyung-min tetapi Zhang Jun/Gao Ling yang berhak atas emas Olimpiade.

Empat tahun berselang, cerita tahun 2000 kembali terulang. Tahta All England dikuasai oleh Kim Dong-moon/Ra Kyung-min , namun Zhang Jun/Gao Ling sukses mempertahankan emas Olimpiade. Di edisi terakhir pada Beijing 2008, Zheng Bo/Gao Ling jadi juara All England tetapi mereka harus rela Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung (Korea) jadi juara Olimpiade.

Dengan kondisi demikian, jelas rakyat Indonesia sangat berharap bahwa Tontowi/Liliyana mampu kembali mendobrak sejarah tak menyenangkan ganda campuran Indonesia di Olimpiade sekaligus menghapus kutukan juara All England tak mampu memenangi Olimpiade di tahun yang sama.

Tontowi/Liliyana terbukti memiliki kapasitas dan kualitas. Tinggal kini mereka dan pihak-pihak di sekitar mereka seperti pelatih maupun PBSI pintar-pintar menjaga ritme permainan menuju pertandingan Olimpiade yang semakin dekat. Yang patut diingat, ganda campuran saat ini menjadi salah satu nomor dimana persaingan amat ketat dan berat. Kepercayaan diri Tontowi/Liliyana bertambah setelah jadi juara All England itu pasti, tetapi jangan lengah, karena rival-rival berat mereka akan terus mengamati dan menyimpan dendam di dalam hati.

Rabu, 07 Maret 2012

Berharap Berakhirnya Kutukan ‘All End-Land’




Tidak. Tak ada yang salah dari judul yang ditulis di atas.  Event All England yang berlangsung pada 6-11 Maret untuk edisi 2012 ini memang sepertinya telah berubah nama menjadi ‘All End-Land’ atau saya artikan sebagai negeri dimana semua pemain Indonesia gugur, dalam beberapa tahun terakhir. Sejak Candra Wijaya/Sigit Budiarto menggenggam mahkota pada tahun 2003, tak ada lagi ksatria-ksatria Indonesia yang sukses menggapai tahta pada tahun-tahun berikutnya. Total sudah delapan tahun Indonesia tak memiliki juara All England, sebuah ironi jika kita masih menganggap Indonesia sebagai negara bulu tangkis.

Celakanya, jika pada 3 tahun lalu dan sebelumnya kita masih bisa berharap banyak lantaran memiliki pemain-pemain mumpuni, maka untuk dua  tahun belakangan termasuk tahun ini kita pun sudah dihitung kalah sejak catatan di atas kertas. Dari daftar unggulan yang ada, hanya Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (unggulan keempat ganda campuran) dan Mohammad Ahsan/Bona Septano (unggulan ketujuh ganda putra) yang masuk dalam daftar unggulan, di luar itu tak ada lagi para pemain Indonesia.

Dengan kondisi demikian, maka praktis hanya Tontowi/Liliyana yang benar-benar dihitung memiliki kapasitas untuk bisa menjadi juara. Itupun tidak mudah karena duo ganda Cina Zhao Yunlei/Zhang Nan dan Xu Chen Ma Jin siap menjadi penjegal utama. Belum lagi tantangan lain dari pemain macam Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (Denmark).

Perjuangan lebih berat ada di tangan Ahsan/Bona. Jelas masih berat untuk Ahsan/Bona diharapkan mampu meruntuhkan dominasi ganda papan atas macam Cai Yun/Fu Haifeng (Cina), Jung Jae Sung/Lee Yong Dae (Korea), dan Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark).

Bagaimana dengan Taufik Hidayat dan Markis Kido/Hendra Setiawan ? Menilik ambisi, jelas mereka masih memiliki gairah besar terhadap turnamen ini lantaran belum pernah memenanginya. Koleksi emas Olimpiade, status juara dunia belum mereka lengkapi dengan mahkota juara All England. Namun jika melihat kemampuan, Taufik dan Kido/Hendra pun memilih bersikap realistis terhadap situasi yang ada sekarang.
Taufik kesulitan masuk dalam rivalitas Lee Chong Wei dan Lin Dan yang terjadi selama beberapa tahun terakhir, sementara Kido/Hendra terus menunjukkan grafik menurun sejak memenangi medali emas Asian Games 2010 lalu.

Realita berubahnya All England menjadi ‘All End-Land’ bagi para pemain Indonesia pun bisa dilihat dari kekhawatiran masyarakat pencinta bulu tangkis Indonesia. Andai pada dekade 1990-an mungkin masyarakat Indonesia berbicara tentang peluang final yang mungkin bisa mempertemukan sesama pemain Indonesia, maka untuk tahun-tahun belakangan ini, kita pun sudah disibukkan oleh pertanyaan mampukah wakil-wakil Indonesia melewati babak-babak awal.

PBSI sebagai induk organisasi bulu tangkis di Indonesia pun tak berani memberikan angin surga bagi para penikmat bulu tangkis di Indonesia. Mereka memilih sikap realistis seraya berharap agar pemain bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Memang, jika secara teknis dan kualitas kita kalah dalam hitung-hitungan di atas kertas, mari berharap bahwa All England tetap memegang sifat khas sebuah olahraga, yaitu menang-kalah tak bisa ditentukan sebelum pertandingan berakhir. Selalu ada peluang untuk Indonesia bisa tersenyum di All England tahun ini, termasuk dengan bantuan dewi fortuna yang sepertinya sudah lama tak hinggap di kubu Indonesia. Dengan begitu, All England akan kembali menjadi turnamen All England, turnamen dimana nama-nama seperti Rudy Hartono, Liem Swie King, Ade Chandra/Christian Hadinata, Susi Susanti, dan Ricky Subagdja/Rexy Mainaky pernah berkuasa, bukan berubah nama menjadi ‘All End-Land’, dimana Inggris berubah menjadi tanah petaka bagi para pebulu tangkis Indonesia.


-Putra Permata Tegar Idaman-