Senin, 05 September 2011

Cinta Tak Harus Memiliki




Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cinta memiliki definisi yang berarti suka sekali, sayang benar, terpikat, ingin sekali, dan rindu. Jika kata tersebut dimasukkan dalam kalimat apa olahraga yang paling dicintai di Republik ini ? Jelas jawabannya adalah sepak bola.
Entah itu sebagai penikmat maupun sebagai pelaku, sepak bola sudah memainkan peranan vital dalam kehidupan mayoritas rakyat Indonesia. Sebagai penikmat, contoh mudahnya, banyak televisi yang dengan sukarela memberikan tayangan sepak bola gratis kepada rakyatnya. Selain karena mereka sebagai institusi cinta sepak bola, mereka juga yakin rating penonton akan tinggi sehingga banyak iklan yang masuk dan bisa mendatangkan keuntungan bagi mereka.
Selain itu, tak terhitung betapa derasnya dukungan yang mengalir kala tim nasional bertanding. Andai kapasitas stadion Gelora Bung Karno dua atau bahkan tiga kali lipat dari kapasitas sekarang, rasanya kita boleh tetap optimistis bahwa stadion tetap bakal terisi penuh oleh para pendukung Merah-Putih.
Itu dari sisi rakyat Indonesia sebagai penikmat, dari sisi pelaku, Indonesia pun selalu menempatkan sepak bola sebagai olah raga nomor satu. Tak terhitung berapa banyak anak yang masuk ke dalam SSB (Sekolah Sepak Bola) atau sekedar klub di tingkat kelurahan saat masa kecilnya dengan harapan bisa menjadi pemain sepak bola saat besar nanti. Waktu tidur para anak Indonesia pun diiringi dengan bayangan dan harapan bahwa mereka bisa berdiri di atas lapangan berbalutkan kostum Merah-Putih kebesaran Indonesia.
Dua sisi tersebut pun didukung oleh Pemerintah dengan memberikan sepak bola dana yang lebih besar dibandingkan cabang olahraga lainnya. Dari beberapa poin di atas, sah rasanya untuk mendaulat sepak bola memang olah raga nomor satu di negeri ini.
Namun apa yang terjadi ? Cinta Indonesia kepada sepak bola ternyata tak berbalas prestasi dari olahraga sepak bola itu sendiri. Padahal jumlah Sumber Daya Manusia yang lebih dari 200 juta jiwa jelas bahan mentah untuk setidaknya memunculkan satu pesepak bola kelas dunia.
Secara tim pun sama saja. Tim nasional Indonesia maupun klub-klub Indonesia yang berlaga di kompetisi internasional tak bergigi. Mereka kalah bersaing dengan kompetitor dari negara lainnya. Andai Indonesia baru mengenal sepak bola, jelas hal ini bisa diterima, namun faktanya, Indonesia dan rakyatnya sudah menaruh cinta sejak zaman dulu kala.
Apakah ini berarti Indonesia sudah saatnya menyadari bahwa Cinta Memang Tak Harus Memiliki ? Rakyat Indonesia tulus mencintai sepak bola dan tulus menerima apapun hasil yang diberikan sepak bola ini kepada mereka ? Atau memang prestasi sepak bola itu faktor genetika sehingga tiap negara tak bisa begitu saja mencapai prestasi tingkat dunia ?

Selasa, 09 Agustus 2011

TAK MENGAPA TAK JUARA DUNIA




Jelas banyak yang beranggapan bahwa Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2011 ini mutlak harus kita menangkan. Pasalnya dengan tajuk kejuaraan dunia, jelas itu berarti bahwa turnamen ini adalah turnamen paling bergengsi di dunia, dimana seluruh pebulu tangkis dunia berlomba-lomba untuk meraih mahkota juara.
Indonesia sendiri, terakhir kali memiliki juara dunia pada tahun 2007 lalu, lewat nama Markis Kido/Hendra Setiawan dan Nova Widianto/Liliyana Natsir. Setelah itu, kejuaraan dunia 2009 dan 2010 hanya menjadi cerita pedih bagi para pebulu tangkis Indonesia lantaran tak ada satu gelar pun yang mampu kita bawa. Cina begitu berkuasa dengan memboyong Sembilan gelar juara dalam dua tahun terakhir dan satu gelar tersisa menjadi milik Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl dari Denmark pada tahun 2009.
Lalu, bagaimana masa depan Indonesia di kejuaraan dunia kali ini ? Tentunya semua berharap bahwa Indonesia mampu kembali memiliki juara dunia tahun ini, karena itu berarti membuktikan eksistensi kita sebagai negara kuat dalam percaturan bulu tangkis dunia. Namun andai kembali gagal menjadi juara dunia tahun ini apakah berarti sebuah bencana ?
Jika menilik dari gengsi, kejuaraan dunia saat ini jelas bergengsi hanya karena tajuknya saja. Frekuensi pemutaran yang setiap tahun, kecuali pada tahun penyelenggaraan Olimpiade, tak dimungkiri turut membuat degradasi gengsi turnamen ini. Dengan diselenggarakan tiap tahun, turnamen ini tak ubahnya turnamen Premier Super Series lainnya.
Dengan begitu, jelas Olimpiade saat ini memiliki gengsi lebih besar dibandingkan kejuaraan dunia. Dengan durasi tiap empat tahun sekali, sulit bagi tiap pemain untuk menebus kegagalan mereka di satu Olimpiade pada Olimpiade berikutnya. Poin inilah yang menjadi nilai lebih Olimpiade.
PBSI sendiri sejak jauh-jauh hari telah menyiratkan bahwa Olimpiade adalah tujuan utama mereka, bukan kejuaraan dunia ataupun turnamen-turnamen lainnya. Lalu bukankah, lebih baik memiliki juara dunia sebelum gelaran Olimpiade sebagai pertanda kita siap untuk meneruskan tradisi emas Olimpiade?
Indonesia sudah berpengalaman tiga kali tanpa gelar di kejuaraan dunia yang berlangsung setahun sebelum Olimpiade, namun nyatanya Indonesia tetap sukses membuat tradisi Olimpiade berjalan. Kejuaraan dunia 1991, 1999, dan 2003 menjadi saksi bahwa hampa gelar juara dunia di satu tahun sebelum Olimpiade bukanlah kendala.
Tentu bukan sekedar hampa gelar biasa. Bolehlah Indonesia tak meraih gelar juara, namun bukan lantas para pebulu tangkis Indonesia boleh tampil sekenanya. Mereka harus menunjukkan determinasi dan totalitas mereka di atas lapangan. Tak mengapa tak juara berarti para pebulu tangkis Indonesia tidak perlu diberi target berlebihan di kejuaraan dunia ini, namun tetap harus bermain dengan penuh tanggung jawab.
Maklum, beberapa andalan Indonesia masih belum mencapai kondisi matang, karena itu janganlah diberi beban berlebihan. Mohammad Ahsan/Bona Septano, Greysia Polii/Meiliana Jauhari, dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir adalah nama-nama yang diproyeksi bisa menjadi andalan Indonesia di Olimpiade London 2012 mendatang dan sudah diharapkan untuk bisa meretas prestasi dari sekarang.
Di lain sisi, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kejuaraan dunia kali ini memang benar-benar sebuah lembaran baru bagi Indonesia dan para calon andalannya. Tanpa adanya Nova Widianto/Liliyana Natsir,  Markis Kido/Hendra Setiawan dan menurunnya penampilan Taufik Hidayat tahun ini, tanggung jawab berprestasi memang lantas berada di pundak mereka.
Namun harus diingat, mereka masih butuh waktu untuk berada dalam kondisi sempurna dan siap menjadi andalan. Andai mereka gagal setelah tampil baik di kejuaraan dunia ini, tentu itu akan menjadi suntikan motivasi yang luar biasa bagi mereka untuk terus mengasah diri dalam waktu satu tahun tersisa menuju Olimpiade London tahun depan.
Merebut gelar juara dunia tentu menjadi sebuah nikmat tak terkira bagi Indonesia, karena kita sudah lama tak merasakannya. Namun andai gagal, rasanya tak mengapa, asal semua pemain sudah berjuang sekuat tenaga dan menampilkan seluruh kemampuan yang mereka miliki disertai keinginan menang yang tinggi di atas lapangan. Tak mengapa tak juara dunia, asal kita bisa membalasnya di Olimpiade London tahun depan.
Kebetulan, Wembley Arena yang digunakan untuk kejuaraan dunia tahun ini akan kembali dipakai untuk Olimpiade tahun depan. Jadi bisa dibilang, Indonesia boleh menangis di Wembley Arena tahun ini, tapi jadikan itu pelajaran agar kita pasti tertawa di tempat yang sama di tahun depan. Semoga!

Sabtu, 25 Juni 2011

Istora, Istana Teror dari Indonesia




Teriakan abisin! abisin! menggema di seluruh penjuru Istora Gelora Bung Karno pada gelaran Djarum Indonesia Terbuka Premier Super Series 2011. Teriakan yang berarti permintaan untuk menuntaskan permainan itu ditujukan kepada Greysia Polii/Meiliana Jauhari yang tengah unggul 22-21 atas Ma Jin/Pan Pan. Sekejap kemudian, Greysia/Meiliana sukses mewujudkan harapan tersebut dan jadilah Istora semakin bergemuruh dan bergelora.

Istora boleh saja tak memiliki kapasitas sebesar National Indoor Stadium (Inggris), Putra Indoor Stadium (Malaysia), maupun Singapore Indoor Stadium (Singapura). Namun jika ditanya soal teror penoton yang ada, maka Istora boleh berbangga. Kehebatan dan kekompakan para penggemar yang memadati sekitar 8000 kursi di Istora sudah terkenal hingga seluruh penjuru dunia.

“Sulit untuk bisa bermain baik di Indonesia. Penonton begitu riuh mendukung lawan sehingga kami kesulitan bermain dengan tempo yang sebenarnya,” ucap Pan Pan seusai pertandingan.

Bukan hanya Pan Pan yang sering berbuat error lantaran terkena teror, pebulu tangkis sekaliber Lin Dan pun belum bisa membuat Istora bertekuk lutut di hadapannya. Gelar Indonesia Terbuka menjadi salah satu gelar yang belum berhasil didapatkannya, meskipun titel All England, Olimpiade, Asian Games, dan berbagai gelar super series sudah dikantonginya.

“Saya tak pernah bisa menjadi favorit jika tampil di sini. Tekanan penonton begitu besar dan itu menjadi salah satu faktor di luar lapangan yang sangat menentukan,” papar Lin Dan.

Memang, tak ada pemain yang bakal bisa tampil nyaman di Istora selain pemain Indonesia sendiri. Selain bunyi-bunyi pukulan yang berasal dari balon berbentuk panjang, seruan IN-DO-NE-SIA, serta teriakan eeaa-huuu juga menjadi pemandangan rutin di tiap pergantian angka. Sekali bersikap bermusuhan dengan penonton Istora, maka siap-siap menerima akibatnya karena penonton Istora tak akan pernah lupa.

Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba jadi contohnya. Tahun lalu, boleh mereka berhasil menjadi juara dan tersenyum penuh kemenangan di tengah sorakan penonton Istora. Namun begitu tahun ini mereka kembali, publik Istora tak lupa siapa mereka. Jadilah publik Istora semakin menggila mengutuk mereka sejak pertandingan dibuka. Untuk kali ini, tawa kemenangan pun jadi milik penonton lantaran Robert/Nadiezda langsung tumbang di babak pertama.

Meski menghadirkan teror, banyak pula pemain asing yang rindu dengan suasana keriuhan Istora. “Tidak ada penonton yang lebih gila selain di Indonesia,” ucap Tine Baun. “Saya senang dengan situasi riuh dan berisik seperti ini. Benar-benar atmosfer yang menyenangkan,” Jenny Wallwork (Inggris) menimpali.

Sementara itu untuk pebulu tangkis Indonesia, Istora akan selalu menjadi penyangga. “Semangat selalu berlipat tiap tampil di sini,” Greysia menegaskan.

Istora, Istana Teror dari Indonesia




Teriakan abisin! abisin! menggema di seluruh penjuru Istora Gelora Bung Karno pada gelaran Djarum Indonesia Terbuka Premier Super Series 2011. Teriakan yang berarti permintaan untuk menuntaskan permainan itu ditujukan kepada Greysia Polii/Meiliana Jauhari yang tengah unggul 22-21 atas Ma Jin/Pan Pan. Sekejap kemudian, Greysia/Meiliana sukses mewujudkan harapan tersebut dan jadilah Istora semakin bergemuruh dan bergelora.

Istora boleh saja tak memiliki kapasitas sebesar National Indoor Stadium (Inggris), Putra Indoor Stadium (Malaysia), maupun Singapore Indoor Stadium (Singapura). Namun jika ditanya soal teror penoton yang ada, maka Istora boleh berbangga. Kehebatan dan kekompakan para penggemar yang memadati sekitar 8000 kursi di Istora sudah terkenal hingga seluruh penjuru dunia.

“Sulit untuk bisa bermain baik di Indonesia. Penonton begitu riuh mendukung lawan sehingga kami kesulitan bermain dengan tempo yang sebenarnya,” ucap Pan Pan seusai pertandingan.

Bukan hanya Pan Pan yang sering berbuat error lantaran terkena teror, pebulu tangkis sekaliber Lin Dan pun belum bisa membuat Istora bertekuk lutut di hadapannya. Gelar Indonesia Terbuka menjadi salah satu gelar yang belum berhasil didapatkannya, meskipun titel All England, Olimpiade, Asian Games, dan berbagai gelar super series sudah dikantonginya.

“Saya tak pernah bisa menjadi favorit jika tampil di sini. Tekanan penonton begitu besar dan itu menjadi salah satu faktor di luar lapangan yang sangat menentukan,” papar Lin Dan.

Memang, tak ada pemain yang bakal bisa tampil nyaman di Istora selain pemain Indonesia sendiri. Selain bunyi-bunyi pukulan yang berasal dari balon berbentuk panjang, seruan IN-DO-NE-SIA, serta teriakan eeaa-huuu juga menjadi pemandangan rutin di tiap pergantian angka. Sekali bersikap bermusuhan dengan penonton Istora, maka siap-siap menerima akibatnya karena penonton Istora tak akan pernah lupa.

Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba jadi contohnya. Tahun lalu, boleh mereka berhasil menjadi juara dan tersenyum penuh kemenangan di tengah sorakan penonton Istora. Namun begitu tahun ini mereka kembali, publik Istora tak lupa siapa mereka. Jadilah publik Istora semakin menggila mengutuk mereka sejak pertandingan dibuka. Untuk kali ini, tawa kemenangan pun jadi milik penonton lantaran Robert/Nadiezda langsung tumbang di babak pertama.

Meski menghadirkan teror, banyak pula pemain asing yang rindu dengan suasana keriuhan Istora. “Tidak ada penonton yang lebih gila selain di Indonesia,” ucap Tine Baun. “Saya senang dengan situasi riuh dan berisik seperti ini. Benar-benar atmosfer yang menyenangkan,” Jenny Wallwork (Inggris) menimpali.

Sementara itu untuk pebulu tangkis Indonesia, Istora akan selalu menjadi penyangga. “Semangat selalu berlipat tiap tampil di sini,” Greysia menegaskan.

Rabu, 11 Mei 2011

Teruslah Berkarya PBSI!






TANGGAL 5 Mei di Bandung, 60 tahun lalu, sebuah organisasi bernama Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) berdiri. Organisasi tersebut merupakan wadah resmi untuk menaungi cabang olahraga bulu tangkis di Indonesia. Tidak hanya bertugas mengakomodasi dan mempersatukan beberapa perkumpulan-perkumpulan bulu tangkis seperti misi dan tujuan awalnya, PBSI kemudian berubah menjadi sebuah organisasi yang mampu mencetak kebanggaan bagi bangsa Indonesia lewat prestasi para atletnya.
Sejak awal berdirinya, tak terhitung berapa banyak gelar internasional yang sudah diraih oleh para pebulu tangkis Indonesia. Piala Thomas, lambang supremasi kejuaraan beregu putra, sudah diraih sebanyak 13 kali yang menjadikan Indonesia sebagai negara peraih gelar terbanyak. Piala Uber pun sudah tiga kali disabet oleh Indonesia. Begitu pun emas Olimpiade. Sejak pertama kali dipertandingkan di Olimpiade Barcelona 1992, para pebulu tangkis Indonesia tak pernah absen menyumbangkan medali emas.
Deret kesuksesan itu jelas tak lepas dari peran PBSI sebagai induk organisasi. Lewat program-program berkualitas yang pernah dibuatlah sejumlah prestasi hebat para pemain Indonesia berasal. Tanpa desain yang bagus dari para pengurus PBSI, mustahil bakat-bakat hebat para legenda bulu tangkis Indonesia bisa termaksimalkan.
Sejak dekade 1950-an, atau kurang dari sepuluh tahun sejak PBSI berdiri, mereka sudah sukses membuat harum nama bangsa Indonesia lewat raihan Piala Thomas. Dua dekade setelahnya kemudian merekam jelas betapa dominannya Indonesia di bulu tangkis, khususnya di beregu putra. Tercatat hanya Malaysia yang berhasil mencuri gelar dari tujuh perhelatan Piala Thomas yang berlangsung di dekade 1960-an dan 1970-an.
Meski tak begitu kuat di beregu putri dengan hanya merebut satu Piala Uber dalam dekade tersebut, namun Indonesia masih memiliki putri berprestasi di kejuaraan individu seperti Minarni, Retno Koestijah, Verawaty Fadjrin, hingga Ivana Lie.
Ketika Cina sudah mulai mengikuti kompetisi BWF pada dekade 1980-an, Indonesia memang sempat meredup di dekade tersebut dengan hanya meraih satu titel Piala Thomas pada tahun 1984. Setelah memborong empat gelar juara di Kejuaraan Dunia 1980, Indonesia pun meredup di turnamen tersebut dengan hanya meraih satu titel juara pada empat kesempatan yang ada di dekade 1980-an.
Kehadiran Cina ini jadi pelecut bagi PBSI untuk memperbaiki diri. Mereka memang kalah di periode 1980-an, namun mereka mulai mempersiapkan pemain muda untuk balas dendam di dekade selanjutnya.
Terbukti, Indonesia balik mengungguli Cina di era 1990-an. Selain lima gelar beruntun Piala Thomas yang didapat dari 1994-2002, Indonesia juga sempat merusak kedigdayaan Cina di Piala Uber dengan dua gelar beruntun pada 1994 dan 1996. Selain berjaya di kelompok beregu, gelar di sektor perorangan pun begitu banyak direguk pada masa itu. All Indonesian Final jadi sesuatu yang jamak dan lazim di berbagai turnamen.
Namun kini di usianya yang ke-60 tahun, PBSI dihadapkan pada suatu situasi yang sulit. Piala Thomas sudah lama tak diraih, begitupun Piala Uber dan juga Piala Sudirman. Dua perhelatan Kejuaraan Dunia terakhir usai tanpa ada nama Indonesia sebagai juara.
Pemain andalan semakin menua, dan pemain muda masih harus berusaha keras agar bisa menggenggam tongkat estafet dari mereka. Tradisi emas Olimpiade, satu-satunya kebanggaan tingkat dunia yang tersisa, kini menjadi sebuah tanda tanya apakah bulu tangkis masih bisa menjadi kebanggan kita di London tahun depan.
Jika diibaratkan manusia, 60 tahun adalah usia yang tak lagi produktif. Sulit berharap kreasi dan prestasi lahir di usia tersebut. Usia 60 tahun adalah masa yang tepat untuk mengenang kejayaan masa lalu dengan membuka foto kenangan ataupun berbagai trofi yang tersimpan di lemari penghargaan.
Tapi PBSI bukan manusia! PBSI adalah organisasi besar kebanggaan Indonesia. Pengurusnya pun terus mengalami regenerasi sehingga seharusnya tak ada kata jemu dan jenuh. Karena itu apa yang dialami PBSI saat ini bukanlah lantaran faktor umur yang menua melainkan memang produktivitas PBSI sebagai sebuah organisasi memang tengah menurun.
 
Lantas, apakah PBSI harus dibiarkan mengobati dirinya sendiri? Saat PBSI sukses mengantarkan atletnya meraih prestasi dunia, tentu kita semua bangga. Karena itu sudah selayaknya saat PBSI tengah terkulai lesu prestasi seperti saat ini kita harus menopangnya bersama.
Pemerintah harus memperhatikan secara fokus olahraga yang satu ini. Pasalnya bulu tangkis adalah satu-satunya olahraga yang bisa memberikan emas Olimpiade dan membuat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di pesta olahraga internasional. Jangan sampai nanti baru ada reaksi terlambat dari Pemerintah saat tradisi emas di Olimpiade gagal diteruskan.
Dari sisi pengurus daerah, pengprov PBSI dan satuan-satuan di bawahnya harus bisa menjadi pendukung bagi PBSI pusat. Andai pembinaan di tingkat provinsi sudah bagus, maka tugas PBSI melalui Pelatnas-nya hanya tinggal memoles talenta yang sudah ada, bukan lagi mencetak dari awal. Tentu ini juga akan meringankan beban klub-klub bulu tangkis yang selama ini lebih dikenal sebagai pemasok atlet ke Pelatnas ketimbang Pelatda daerah mereka sendiri.
Para atlet juga memegang peranan penting. Jangan sampai Pelatnas menjadi tujuan akhir dalam karier mereka. Pelatnas hanyalah persinggahan dan tujuan akhir yang harus dicanangkan adalah prestasi tingkat dunia.
Jangan sampai perjuangan dan pengorbanan yang sudah mereka lakukan sejak kecil hanya berakhir di Cipayung. Pasalnya dengan terjun di bulu tangkis, mind set atlet tersebut sudah bukan lagi untuk menjadi yang terbaik di Indonesia ataupun Asia, melainkan harus menjadi yang terbaik di dunia.
Dengan dukungan dari berbagai sisi, niscaya pengurus PBSI akan lebih mudah memperbaiki diri. Selamat Ulang Tahun PBSI. Teruslah berkarya dengan mencetak prestasi!

Kamis, 05 Mei 2011

‘Tim Kali Ini Lebih Bagus’




Kesuksesan Satria Muda (SM) Britama merajai NBL Indonesia atau dulu disebut IBL tak lepas dari peran vitalnya. Berbekal kecepatan dan visi bermain yang bagus, Faisal Julius Achmad memang menjadi momok mengerikan bagi setiap tim lawan. Harapan yang saa pun dibebankan pada pundaknya manakala dirinya bergabung dalam tim SEA Games kali ini. Bagaimana harapan Faisal, berikut petikan wawancaranya bersama TopSkor.
Anda termasuk dalam barisan pemain senior dalam tim SEA Games kali ini, bagaimana pendapat anda ?
Jika acuannya adalah tahun bermain, saya memang sudah cukup lama memperkuat tim nasional yaitu sejak tahun 2004, namun untuk ajang SEA Games sendiri saya baru sekali memperkuat tim yaitu pada tahun 2007, karena di tahunn 2005 dan 2009 bola basket tidak dipertandingkan.
Dibandingkan dengan tim tahun 2007, dimana posisi tim tahun ini ?
Jika dilihat dari segi persiapan tim 2007 bisa dikatakan lebih baik karena kami melakukan persiapan selama setahun sebelum SEA Games digelar. Namun jika dilihat dari materi tim, tim tahun ini lebih bagus karena eks pemain dalam tim 2007 pastinya bertambah matang dipadu dengan pemain-pemain muda yang memiliki talenta hebat
Dengan kondisi demikian, target apa yang pantas disandang ?
Kami semua sedari awal sudah berkomitmen untuk sekuat tenaga mewujudkan emas pertama bagi cabang bola basket di ajang SEA Games. Dengan latihan yang dan kerja keras kami sampai waktu pelaksanaan nanti, semoga hal itu bisa terwujud.
Apakah lawan berat hanya Filipina ?
Tidak. Thailand dan Malaysia juga sudah mulai mengancam. Bisa kita lihat di Asean Basketball League, dimana pemain Thailand banyak memperkuat Thailand Slammers dan tim nasional Malaysia bermain di Kuala Lumpur Dragons. Dibandingkan musim pertama, mereka menunjukkan perkembangan grafik permainan yang meningkat, saya sendiri beruntung karena pernah menjajal kemampuan mereka di ajang ABL
Banyak pemain SM Britama tergabung dalam tim ini. Apakah itu membuat kalian mengelompok dalam pelatihan ini ?
Sama sekali tidak. Kami berbaur dengan para pemain lainnya. Meskipun berbeda tim namun kami semua sudah akrab satu sama lain sehingga tidak ada istilah mengelompok dalam pelatnas ini.